Angkot dan Musik Dangdut

By Andre Demofa - November 26, 2017



Musik dangdut tidak asing lagi bagi mayarakat Indonesia. Setiap hari kita mendengarnya di televisi, radio, youtube sampai streaming di aplikasi musik. Dangdut memang tidak pernah jauh dari jangkauan kita. 

Simpelnya, coba pergi ke pasar terdekat di kota kalian, kalian akan mendengarnya dari pedagang CD bajakan di kaki lima yang sering memutarnya di lapaknya dengan speaker besar untuk menemani pedagang lapak lain yang biasanya menjual pakaian dalam. 

Apalagi mengingat ekspos besar-besaran yang dilakukan salah satu stasiun televisi untuk menghidupi genre ini dengan nuansa kontemporer yang berbeda-beda setiap musimnya. 

Mulai acara musik yang berbalut kompetisi, konser rakyat, sampai acara kompetisi sejenis cuma formatnya dibuat beda supaya terus bergairah. 

Dan tak tanggung-tanggung, acara musik itu tayang setiap hari. Bagi penggemar musik dangdut sebenarnya durasi acara itu masih kurang.

Mereka bahkan berharap dangut bisa tayang setiap detiknya, non stop 24 jam biar bisa menandingi televisi berita yang uptodate setiap hari seperti CNN International atau Geographic Channel. 

Lagipula, masyarakat sudah bosan dengan acara musik super serius tapi ketika acara itu selesai para jawaranya bagai ditelan tanah longsor. Senyap. Suaranya tidak terdengar lagi. 

Komentar-komentar juri seperti, “Kamu ini punya potensi luar biasa, kamu akan terkenal, kamu itu punya kharisma seorang bintang pop, kamu salah satu penyanyi yang bakal bersinar terang di Indonesia,” mulai dianggap sebuah bullshit karena selesai acara sang jawara kembali jadi pengamen di lampu merah atau jualan online shop obat penumbuh rambut. Miris. 

Acara dangdut model sekarang dianggap lebih menjanjikan. Lahan musik dangdut dianggap lebih luas karena lebih merakyat. Setiap jamuan nikah contohnya, peresmian rumah baru, ulang tahun anak, atau syukuran sunatan pasti musik dangdut ada saja menggema di telinga kita. Apalagi musim pilkada dan pemilu tahun depan? Wow. Artis dangdut makin banyak job. 

Meskipun kadang mendatangkan kritik dari masyarakat karena artis dangdut di sana biasanya 50% menghasilkan karya sedang sisanya menjual sensualitas yang bikin kaum adam pada melek. Efek yang sama kuatnya seperti minum kopi bergelas-gelas cuma bedanya ini tidak pakai gula. 

Tapi sudahlah. Kita akui kenyataan kalau dangdut memang bukan idola semua orang. Tapi siapapun orangnya sah-sah saja menjadi penikmatnya. 

Jujur, saya bukan penggemar musik dangdut bahkan pengetahuan akan genre ini masih sangat minim. 

Pedangdut yang saya kenal pun cuma segelintir. Seperti Rhoma Irama, Elvy Sukaeshi, Inul Daratista, Risky Ridho, Nassar, Saipul Jamil, terus...

Ya, cuma itu. 

Kalau soal lagu, saya hanya tahu beberapa judul lagu Rhoma Irama dan Inul Daratista. 

Sekilas saya bisa ingat beberapa reff lagu milik Saipul Jamil yang dulu sering diputar di televisi, meski tidak ingat judulnya. Sayang dia kini dipenjara karena kasus hap-hap. 

Saya agak malas menonton acara musik dangdut di televisi karena seringkali lebih banyak adegan laganya. Ya, adegan laga komentar dewan juri vs host, laga dramatis tentang latar belakang peserta yang bikin kita menelan ingus, sampai laga jumlah followers di Instagram. Bahkan durasi komentarnya sering lebih lama dari penampilan artis itu sendiri. 

Pengenalan saya akan lagu dangdut justru lebih banyak ketika saya naik angkot menuju kampus. 

Rasanya angkot lebih mudah mengkampanyekan musik ini dibanding televisi bahkan Youtube sekalipun karena angkot beroperasi tak kenal waktu.

Pagi, siang, malam tak kenal rating dan tanpa kuota. Bahkan tanpa penumpang pun, lagu dangdut tetap berkumandang dengan anteng. Ketika angkot beroperasi, musik pun ikut beroperasi. 

Dengan menarik nafas panjang, saya menahan kesal mendengar supir memutar lagu kesayangannya.

Bukan karena saya benci seleranya, cuma suara dari speaker yang letaknya paling belakang itu sangat menggelegar. Lebih dari cukup membuat telinga kita tuli jika berlama-lama di sana. Membuat jantung dag-dig-dug tak menentu. 

Itu karena supirnya duduk paling depan tentu dia tidak merasa terganggu. Bagaimana dengan penumpang yang duduk dan langsung menempelkan badannya di speaker? Entah bagaimana nasibnya setelah turun. 

Masih syukur kalau pagi. Panasnya tensi dalam angkot masih bisa diimbangi dengan suasana yang sejuk, kondisi tubuh yang masih fresh, dan pikiran yang belum terisi penuh. 

Bagaimana kalau pulang kampus? 

Kasusnya bakal lain. Dan di sanalah peristiwa kampret itu terjadi. 

Suara dangdut dengan tempo super lincah menggelegar memenuhi udara di dalam angkot. Cahaya matahari yang sangat terik menusuk kepala, suara-suara klakson mobil di tengah kemacetan, debu dan asap kendaraan yang masuk lewat jendela, sampai sisa stress yang dibawa dari kampus bercampur aduk menjadi satu. 

Mungkin ini yang disebut Latinka dalam lagunya Aku Bisa Mati. 

Saya berdoa dalam hati, “Kuatkan aku, kuatkan aku, kuatkan aku, Tuhan!” 

Ketika selesai berdoa, seakan gayung bersambut. Senyap. Suara dari speaker hilang padahal lagunya sudah klimaks-klimaksnya. Lagunya berhenti diputar. Saya bengong tak percaya. Secepat inikah doa saya terkabul? 

Keberuntungan mungkin di pihak saya. Alunan lagu berubah jadi melow. Kini yang diputar si Abang Angkot adalah lagu favorit saya: Iwan Fals- Yang Terlupakan.

Nada demi nada mulai menguasai indra pendengaran.

Mungkin aku salah menilai abang ini, bisikku dalam hati. 

Saya pun melupakan kesalahannya yang tadi, memejamkan mata, menikmati suara pianonya, sampai beberapa detik kemudian...

“Dum..dum..tak..dum..dum..tak..tak...”

Remix bangsat!

Suasana kembali mencekam. 








































  • Share:

You Might Also Like

0 Comments