Manusia Biasa

By Andre Demofa - November 29, 2017




Saya bukan teman masa kecil Eminem. Bukan juga saudara kandungnya. Eminem tidak bersuku. Tidak bermarga. Bahkan dia tidak kenal penulis blog ini. Saya cuma penikmat karya maestro ini sejak akhir 2014.

Setidaknya lagu-lagu yang bisa diterima akal sehat seperti Love The Way You Lie, When I’m Gone, Lose Your Self, Space Bound, I’m Not Afraid, 25 To Life, Rap God, Beatiful, Monster, dan Drop The World karena entah mengapa beberapa lagu idola saya yang satu ini lebih banyak kesan stress-nya.

Sebagai seorang rapper tenar, sulit mencari manusia langka yang tidak tahu namanya di bumi ini.

Termasuk di Indonesia meskipun rapper dengan nama asli Marshall ini belum pernah mendarat di negeri tercinta dan mengadakan konser. 

Barangkali, Eminem enggan datang ke sini karena kita di Indonesia suka sekali merendahkan kaum-kaum yang tinggi badannya tidak lebih dari Raditya Dika.

Sebagai idola banyak orang, banyak pengamat musik yang memberi julukan “Raja Hip-Hop"  kepada salah satu rapper tercepat di dunia ini. Sudah seperti Michael Jackson sebagai raja pop, Bob Marley sebagai raja reggae, sampai Jimmy Hendrix sebagai raja gitar. 

Hal ini secara tidak langsung dibuktikan ketika Eminem merilis lagu Rap God dan lewat lagu itu ia mengganjal rekor dunia sebagai musisi rap tercepat yang pernah ada.

Penggemarnya semakin tak sabar mendeklarasikan idolanya ini sebagai The King.

Bahkan Bapak saya yang adalah manusia langka bertanya, “Wah, siapa ini kok cepat sekali nge-rapnya?”

Saya cuma mengangguk, merasa bangga idola saya dipuji dan dipuja seperti itu.

Tapi dibalik itu semua, tetap banyak kontroversi yang mewarnai karir Eminem menuju takhta RAP 1. 

Salah satunya adalah kaum yang suka dengan senjata rasis. Em adalah kebanggaan masyarakat Amerika Serikat dan dituduh punya karir cemerlang karena warna kulitnya.

Jika melihat peta persaingan, hampir semua rapper papan atas lainnya punya ras hitam sebut saja Wis Khalifa, Snopp Dog, Kanye West, Drake sampai Florida. Eminem seperti berjalan sendiri di industri rapper USA dan itu membuatnya istimewa.

Apalagi kalangan kaum kulit putih banyak menduduki pos-pos utama di industri musik negeri Paman Sam itu, sehingga mereka dengan mudahnya membentuk opini masyarakat tentang gelar Eminem ini.

Kasus ini kurang lebih sama dengan yang terjadi pada Michael Jackson yang disebut-sebut sebagai raja pop ketika ia mengganti warna kulitnya lewat operasi plastik. Dan klaim itu menjadi kontroversi sampai sekarang.

Sudahlah. Tidak perlu diperdebatkan siapa raja, siapa pangeran, dan siapa kaum protelarnya. 

Yang jelas Eminem adalah idola di hati saya. Tanpa gelar raja sekalipun, Eminem tetaplah Eminem.

Ia tidak akan berubah. 

Eminem adalah rapper berkelas dan berbakat. Saya merinding setiap melihat konsernya di Youtube yang dipadati lautan manusia yang ikut melompat-lompat ketika musik mulai menghentak.

Bagi saya Eminem adalah sosok rapper universal. Karyanya bisa diterima banyak orang dari berbagai negara meski mereka tidak tahu Bahasa Inggris. Banyak orang yang semangatnya berkobar kembali setelah mendengar lagu, I’m Not Afraid yang dirilis tahun 2010 silam. Padahal lirik yang ia tahu hanya satu kalimat yakni i'm not afraid. Tapi entah mengapa lagu itu seakan memberi pesan semangat padanya.

Bahkan hanya dengan menonton video klip When I’m Gone di Youtube, kita bisa dibuat menangis meskipun tidak tahu arti lirik-liriknya. Ada sesuatu yang menggetarkan kalbu ketika menonton video musiknya.

Dan dibalik itu semua, seorang Eminem hanyalah manusia biasa yang bisa menuai kritikan karena belakangan ini ia tidak produktif berkarya seperti dulu.
  
Karya terakhirnya berjudul “Phenomeno”  yang tidak sefenomenal itu.

Tapi bagaimanapun, gelar raja itu tidak begitu berguna untuk Eminem. Karya hits yang ia telurkan sudah lebih dari cukup menepis keraguan orang-orang pada kemampuannya.

Gelar “raja” Itu tidak akan membuatnya lebih kaya dari sekarang, karena ia sudah memiliki kekayaan yang tergolong fantastis. Ia memiliki rumah dan mobil mewah, keluarga yang lengkap, kesehatan, dan kehormatan yang hakiki dari penggemarnya.

Gelar raja juga gelar yang serakah. Karena itu menghalangi generasi berikutnya yang ingin berkarya dan terobsesi menjadi yang terbaik.

Saya tidak ingin gelar 'The King Of' disabet Eminem.

Saya lebih suka Eminem disebut manusia biasa yang berprestasi.

Karena tanpa kita sadari gelar 'The King Of' itu sering dekat pada kematian itu sendiri.

Kami tidak mau kehilanganmu, Em. Kami lebih ikhlas kehilangan mantan-mantan kami.    


  • Share:

You Might Also Like

0 Comments