Judulnya Pikirkan Sendiri

By Andre Demofa - November 26, 2017




Suatu hari, ada seorang nenek yang sedang naik angkutan kota duduk bersama dengan seorang anak muda yang gaul, kece, dan alim. Sepi. Hanya ada mereka berdua di dalam angkot tersebut.

Anak muda itu memakai headphone dan memutar lagu-lagu anak muda. Kakinya bergoyang-goyang, dia sangat menikmati lagu itu. Matanya terpejam, dan mulutnya komat-kamit mengikuti lirik lagu tersebut.

Sedangkan si nenek yang duduk-duduk adem di angkot melihat anak muda itu dengan tatapan sinis. "Ini anak muda, kok angguk-angguk kepalanya? Aneh,”  tanyanya dalam hati.

Karena nenek ini tidak tahu lagu anak zaman sekarang, dan dia tidak tahu apa itu headphone, dia pun mendekatkan diri dengan anak muda tersebut.

Bukannya mendekatkan diri pada Tuhan, nenek itu malah mendekati anak muda yang dirasa nya aneh itu. “Cu,” bisiknya pelan. Namun si anak muda cuma diam dan cuek. Kepalanya makin cepat mengangguk-angguk, mungkin karena sudah masuk ke dalam reff yang ketukan dan temponya lebih menggebu. 

Karena bisikannya tak dihiraukan, si nenek memukul pundak anak muda itu. Tetap berkata dengan lembut, “Cu....” Anak muda itu kaget. Dia membuka matanya. Dan yang keluar adalah:

SETAAAAANNN .....

Bukan-bukan. Yang keluar adalah nenek-nenek yang giginya sudah turun mesin, dan sambil menguyah siri nenek itu bertanya, “Cu, lagi apa?“

“Ini, Nek. Dengarkan musik gaul! Musik gaul anak muda zaman sekarang,” jawab anak muda tersebut dengan logat khas anak JKT.

“Lagi dengar musik, ya? Kok Nenek gak bisa dengar, ya?“

“Pakai ini, Nek. Namanya headphone," katanya sambil menunjukkan headphone yang sedang dipakainya.

“Oh iya, Nenek boleh dengar lagunya, enggak?“

“Boleh, Nek. Tapi apa yakin mau dengar lagu ini? Lagunya ini gak cocok buat Nenek-nenek, loh.“

Sang Nenek menatap mata anak muda itu dengan kesal, dan dengan penuh keyakinan dia berkata, “Cu, umur boleh tua. Gigi boleh langka, tapi semangat muda selalu di dada!” 

Glekkk. Anak muda itu menelan air liurnya sendiri. Mimpi apa aku bertemu Nenek kek gini? bisiknya dalam hati.

Pemuda itu dengan ragu-ragu membuka headphone dari kepalanya, dan memberikannya kepada nenek tersebut. “Begini Nek, cara pasangnya,”  ujarnya sambil memasangkan headphone tersebut.

“Mana lagunya, Cu?“

“Bentar ya, Nek, bentar,” ujar pemuda itu sambil menekan tombol PLAY.

Lagu pun berputar di telinga sang nenek.  

Cuma 10 detik nenek itu mengeluh. “Cu, lagunya gak enak, lagu macam apa ini? Selera kok lagu beginian. Kamu tuh harus cinta budaya, cinta daerah mu. Lagu-lagu keroncong, lagu koplo itu yang harusnya kamu dengar. Apalagi lagu jawa, itu cocok untuk perkembangan jiwamu.“

“Tapi Nek...“

“Sudahlah, tak ada tapi-tapi. Ini bukan lagu yang cocok buat kamu. Lagu kampungan ini,” ujar sang nenek sambil membanting headphonenya.

Anak muda itu tetap sabar dan berkata, “Nek, anak muda itu...“

“TIRI6&*%$rgfdwdw$$$@$@443#%#fffgry%grggrtrfdcsssdferrytutrrgr%^%^%^$&gfdw##@$#$dw," si nenek memotong ucapan anak muda itu dengan nasehat ala nenek-nenek, yang tidak dimengerti si anak muda.

Lalu, apa reaksi si anak muda?

Sudahlah, biarkan si anak muda merenungkan nasibnya dan kita sebagai pembaca mengambil hikmahnya.

Jadi Diri Sendiri

So, pernahkah kalian mengalami kejadian absurd itu? Kalau bisa jangan.

Hidup kita kadang berada dalam keadaan di atas. Dalam banyak kegiatan yang kita rasa asyik, menyenangkan, dan merupakan hobi, pasti ada saja yang mengatakan: “Kau cupu!”, “Kau itu culun!“,  “Kau itu gak keren!”, “Kau itu gak cocok!”

Dari kalangan selebriti dan orang-orang inspiratif sekalipun, tindakan mereka pasti ada yang salah di mata orang lain. Membuang sampah di keranjang sampah dianggap pencitraan, membuang sampah di jalan dianggap tak tahu etika, maka satu-satunya cara gak ditegur adalah tidak berhubungan dengan sampah sama sekali.

Tidak makan, tidak minum, tidak melakukan apa-apa. Ya, kembali ke zaman dimana manusia memakai koteka.  

Pakai hijab dibilang munafik, waktu lepas hijab dikatain kurang muslimah. Kalau pakai kacamata dibilang sok keren, waktu dilepas dibilang kurang dewasa. 

Menulis buku pakai pensil dibilang sok hati-hati, pakai pulpen dibilang sok kekinian, pakai spidol dibilang gila. Kalian nya mau nya apa sih ?  

Makanya anggap saja mereka nenek-nenek cerewet, yang tidak mengenal dirimu namun sebenarnya peduli padamu.

Mereka boleh bilang apapun tapi kamu harus tahu mana yang paling baik untuk dikerjakan.

Dan tetap, hargailah sebuah nasehat. 

Seorang presiden perlu penasehat. Bahkan penasehatnya presiden juga perlu penasehat. Dan penasehat dari penasehat presiden juga punya pensehat. Penasehat dari penasehat penasehatnya Presiden juga punya penasehat lain. Begitu terus sampai air laut berubah jadi tawar. 

Ingat, ketika orang lain memberi nasehat, hargai mereka. Jangan diajak berdebat atau dipukuli.

Karena apapun keputusanmu, itu untuk dirimu, maka dengarkanlah nasehat dan gunakan hati nuranimu untuk memilih keputusan terbaik.

Jangan menunggu nasi menjadi bubur, karena penyesalan itu selalu datang terlambat.

Meskipun saya sempat merasa heran, bagaimana mungkin nasi menjadi bubur dengan sendirinya? 






  • Share:

You Might Also Like

0 Comments