Mau Jadi Dosen Yang Punya Lamborghini ?

By Andre Demofa - November 28, 2017




Indonesia adalah salah satu cagar ilmu di dunia. Itu karena ada banyak jurusan kuliah yang tidak kekinian tapi tetap saja dibuka. Padahal, serapan lapangan pekerjaannya minim sekali. 

Kita contohkan saja jurusan filsafat yang dari dulu sudah ada. Setahu saya, jurusan filsafat di PTN saat ini cuma di UGM dan UI. Barangkali ada beberapa universitas swasta yang punya jurusan ini. Tapi itu pun bisa dihitung dengan jari.

Ya, untung saja jurusan filsafat itu ada di UGM. Kesan elit almamater kadang jauh lebih penting daripada jurusan itu sendiri.

Sekilas, mendengar jurusan filsafat apa yang terbenak di pikiran kita?

Terbayang wajah Socrates atau Plato sang filsuf yang melegenda kah? Atau terbayang master-master kungfu yang kharismanya begitu bijak di film-film layar lebar China?

Kalau ditanya lulusan filsafat mau jadi apa, sebagaian orang punya jawaban yang sama, “Mau jadi dosen filsafat”. Itu sudah. 

Mereka belajar di jurusan filsafat, biar bisa jadi dosen filsafat dan murid-muridnya kelak mau belajar filsafat biar bisa jadi dosen juga. Terus begitu skemanya sampai Anies Baswedan jadi Menteri Pendidikan lagi.

Ada yang salah dengan tujuan itu? Jawabannya tidak.

Secara praktis, dosen bukanlah pekerjaan santai.

Dosen bisa disebut mahasiswa yang lebih matang. Mereka juga dituntut untuk belajar lagi dan lagi sama seperti mahasiswa pada umumnya.

Membuat riset terbaru, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan menggunakan riset itu untuk kepentingan umum. Begitu mulia bukan pekerjaan seorang dosen?

Namun sekarang, status dosen banyak diartikan sebagai puncak dari sebuah ilmu.

Status dosen di kalangan masyarakat adalah pembicara yang bisa dipercaya karena ditempah diktat-diktat ilmiah selama kurang lebih enam tahun.

Dosen pada hakikatnya harus terus belajar. Tidak diam, kaku, mengejar uang dari manggung di sana-sini, melancong ke kampus sana-sini, menjual diktat ini dan itu, tanpa ada upaya mengaplikasikan pengetahuannya.

Banyak orang berpikir, ketika masuk ke sebuah disiplin ilmu yang tidak kekinian berarti tidak bisa memimpikan apapun. Peluang kerja yang jelas, pasti, dan punya potensi cuma satu: Dosen.

Sewaktu saya SMA, dosen adalah impian hampir 50% teman-teman saya. sedang 50% lainnya ingin jadi presiden.

Entah mengapa, jadi dosen itu terdengar seksi. Padahal, dosen bukan makhluk Tuhan yang paling seksi. Bagi saya lebih seksi lagi presenter televisi yang merangkap dosen. Eh.

Ada paradigma di kalangan masyarakat bahwa dosen itu seharusnya berduit sehingga banyak yang mengejarnya. Lah, ini mitos.

Jangan memandang dosen dari sudut pandang normatif saja.

Meskipun banyak dosen bermobil, setelannya elegan, rumahnya mewah, tapi banyak juga dosen yang cuma naik motor, pakaiannya itu-itu saja, dan rumahnya juga masih kontrakan.

Kalau mau kaya dari profesi dosen, jangan mimpi!

Gaji dosen yang kita lihat itu tidak mendominasi jumlah kekayaannya.

Barangkali ia terlibat dalam riset mahal milik swasta atau pemerintah, punya usaha sampingan, menerbitkan buku dengan penjualan fantastis, diundang jadi pembicara internasional, didapuk menjadi penasehat di suatu instansi, atau punya pasangan hidup yang bapaknya konglomerat kondang. Siapa yang tahu?

Intinya mereka memang dosen, tapi bukan sekedar dosen. Mereka memperluas kapasitas dirinya. Mereka keluar dari zona nyaman dan terus berkarya menembus sekat-sekat persepsi di kalangan teman-teman seprofesinya. 

Ya, hingga akhirnya mereka bisa membeli Lamborghini bekas yang dijual di situs jual beli multinasional, dengan kredit tentunya.

Seandainya kamu sempat berpikir jadi ‘dosen saja’ adalah karir yang menjanjikan, sudah sepatutnya kamu mengambil kertas dan pena lalu merubah rencana hidupmu dari sekarang. Kesempatan jadi driver taksi online, atau ikut investasi reksa dana masih lebih menjanjikan.

Seandainya kamu juga dilamar kekasihmu dengan gombal-gembel seperti itu, tampar saja dia.

Karena tidak ada hasil yang memuaskan jika kamu bersembunyi dibalik kata ‘sekedar’ dan ‘saja’.

Ya, maling kundang pun dihargai bukan karena dia sekedar bongkahan batu.


  • Share:

You Might Also Like

0 Comments