Mengapa Nyamuk Begitu Bodoh ?

By Andre Demofa - November 27, 2017



Belakangan ini banyak nyamuk wara-wiri terbang di rumah saya. Barangkali karena musim hujan melanda dan populasi katak berkurang drastis karena Pak Joko Widodo tak lagi mengurus mereka.

Saya benci nyamuk. Bahkan ketika menulis ini, beberapa ekor nyamuk melakukan penyerangan biadab terhadap saya. Sungguh keterlaluan.

Mereka terus menggigit kulit saya yang mulus ini. Plakkk. Telapak tangan ini berkali-kali mengambil korban.

Kadang saya berpikir. Mengapa nyamuk begitu bodoh?

Dia sudah melihat temannya saya pukuli, tapi dia tetap menyerang dengan agresif. Sikap solidaritas seperti ini sebenarnya patut diancungi jempol. Mati satu datang sepuluh. Mati sepuluh datang seratus. 

Apa mereka tidak punya alternatif makanan lain?

Ya, mungkin mereka sudah dicuci otaknya sebelum beroperasi.

Mereka mendapat sugesti dari leluhurnya bahwa perbuatan menyerang manusia adalah bagian dari menghormati alam dan mereka tidak bisa melawan nalurinya sendiri.

Mungkin juga nyamuk punya cara idaman tersendiri untuk mati, ya buat mereka mati bersama tepukan tangan adalah mati yang paling syahdu dan terhormat, meskipun bagi kita itu disebut mati konyol.

Seekor nyamuk mungkin saja -kembali ini hanya suatu kemungkinan- punya rasa malu yang besar terhadap saudaranya yang lain, seandainya mereka tidak kunjung tewas dan menunggu penuaan datang. Bisa dikatakan itu adalah penghinaan bagi saudara mereka yang pernah gugur di ruang tamu.

Ya, menjadi nyamuk itu berat, ditakdirkan untuk mati berjamaah, punya tekanan mental yang besar bahkan ketika masih hidup. Mereka tidak bisa tidur di sembarang tempat karena pemangsanya sangat banyak. Seperti gula dan semut. Dimana ada nyamuk, di sana juga ada cicak sebagai predator.

Barangkali, leluhur Batak Toba sangat membenci nyamuk, dan begitu bersyukur kehadian cicak hingga mereka membuat lambang cicak di tembok-tembok rumah adat mereka sebagai kamuflase menakuti nyamuk.

Tapi nyamuk memang adalah hewan yang terhinakan. Bagi manusia, jika seseorang disebut nyamuk itu adalah sindiran keras untuk segera pergi dari suatu perkumpulan.

Dalam suatu hubungan perpacaran di Indonesia, seseorang bisa dikatakan nyamuk jika menganggu privasi sepasang kekasih yang memadu kasih.

Salah satu sifat nyamuk yang ia terapkan adalah menjadi bodoh. Sudah tahu bakal dicuekin, untuk apa berada di sana?

Tapi dibalik kehinaan status sosial nya, nyamuk adalah hewan yang disegani petinggi suatu negara.

Karena nyamuk banyak orang yang bisa mati. Gigitannya itu adalah jemputan maut. Gigitannya bisa membuat bocor APBN suatu negara.

Soekarno bahkan pernah takluk oleh seekor nyamuk. Meskipun sosok garang yang bisa mengusir 3 negara sekaligus (Belanda, Jepang dan Inggris) dari Indonesia, pada akhirnya proklamator itu tumbang juga oleh gigitan nyamuk Malaria.

Dalam sejarah perang dunia sekalipun, mereka yang bersekutu dengan nyamuk jauh lebih beruntung dibanding yang bersekutu dengan makhlus halus. Banyak fakta dalam perang dunia, dimana ribuan pasukan mati bukan karena peluru tapi karena gigitan nyamuk. 

Maka daripada itu, kita tidak bisa meremehkan seekor nyamuk. Sebagai hewan yang berani mati dan haus akan darah kita harusnya berhati-hati dengan keberadaan mereka.

Jika nyamuk itu bodoh kita harusnya bersyukur dan tak perlu bertanya lagi kepada Tuhan.

Justru jika mereka sepintar simpanse dalam Planet Of Apes, barangkali kita akan selamanya tinggal di dalam kelambu dan ilmu santet akan kalah pamor.

Ya, dunia berada dalam dinasti dimana hukuman korupsi bukan lagi penjara, tapi darahnya dihisap habis nyamuk sebagaimana mereka menghisap uang negara.

Sedap?



  • Share:

You Might Also Like

0 Comments