Ada Apa Dengan Avengers? (Sebuah Review)

By Andre Demofa - Mei 17, 2018


Ada banyak film Hollywood yang membuat kita berdecak kagum. Berbagai jenis efek visual dan audio yang dikomposisikan dengan tepat mampu mengorbitkan hayalan kita jauh menembus batas rasionalitas. 

Bagaimana mungkin ada tikus yang bisa memasak di film Ratatouile? Bagaimana mungkin seorang pemandu turis bisa jadi senator AS di film The Campaign? Bagaimana mungkin sebuah trik sulap jalanan bisa mengalahkan puluhan anggota FBI dalam film Now You See Me?

Dan bagaimana mungkin Thanos bisa bahasa Inggris dalam film Avengers: Infinity War?

Semua pertanyaan itu hanya terjawab dengan kekuatan imajinasi.

Kembali ke topik.

Saya menonton film ini tanggal 16 Mei kemarin. Meskipun sudah tayang hampir satu bulan, magic dari film ini masih membius banyak penonton yang penasaran. Kursi di seluruh theater hampir terisi penuh. 

Dan kesan antusias sangat terasa ketika openingnya. 

Menontonnya seperti dibawa pada dimensi yang nyata. The real battle space.

Dimulai dengan decak kagum saya pada opening film ini. Teringat pada ‘World War Z’, dimana opening-nya terdengar suara radio melaporkan berita dengan nada panik, cemas, dan terburu-buru. 

Refleks kita yang mendengarnya seolah berada dalam perasaan yang sama. Kita langsung ditawarkan kengerian. Kita langsung disuguhi audio mencekam yang menaikkan adrenalin. 
   
Sama seperti Avengers 1 dan 2, menit-menit awal film ini berbalut aksi yang luar biasa. Pertarungan antara Hulk dan Thanos menjadi klimaksnya. Hulk yang pukulannya bisa menghancurkan sebuah tank, bahkan tidak mampu membuat luka gores di wajah Thanos meski Thanos memberinya kesempatan melancarkan pukulan bertubi-tubi. Dia malah dihajar habis-habisan setelahnya. Ini pertama kali Hulk terlihat babak belur dalam waktu singkat. Penonton dibuat tidak berkedip melihat pertempuran dua raksasa ini.   

Kita bahkan mulai diajak berpikir, “Kalau openingnya sebagus ini, bagaimana nanti keseluruhan filmnya?”

Saat itu juga bahkan saya tidak menyentuh pop corn yang dibeli teman saya. Rasanya mata ini dipaksa untuk terus melihat ke layar. 

Film ini mempertontonkan 90% aksi. Penonton tidak dibiarkan ngobrol atau permisi turun untuk ke WC. Seperti saya yang dalam kondisi kebelet. Naluri ini memaksa untuk tetap berada di tempat.   

Karena benang merah pada alur film ini hampir ada di setiap detik adegan yang membuat kita harus benar-benar fokus memperhatikannya. Interval tiap adegan aksi juga berdekatan satu sama lain dan sulit ditebak. 

Seperti pertempuran antara Dr. Strange dengan Ebony Maw dimana pertempuran itu dimenangkan anak buah Thanos ini. Sungguh sulit dipercaya. Dr. Strange yang punya kemampuan teleportasi bisa kalah dengan pengguna elemen kinetis.

Dan aksi berikutnya jauh lebih menantang lagi.   

Pertarungan satu dengan yang lainnya juga berlangsung cepat. Apalagi tidak seperti film Avengers sebelumnya, pertarungan di film ini dikemas dalam dua sampai tiga ruang yang berbeda. Jika di Avengers 1 dan 2 kita menyaksikan pahlawan super yang sama bertempur di satu tempat entah itu di pusat kota, di reruntuhan, atau di lapangan terbuka, maka di film ini kita akan melihat pertempuran di dua bahkan sampai tiga pihak.

Ada yang di bumi, ada yang di luar angkasa sana, dan ada yang bertempur di planet lain.

Tapi satu yang saya kritik dari film-film Marvel termasuk Avengers: Infinity War ini adalah tentang perbandingan kekuatan. Memang ini hanyalah sebuah film fiksi. Hanya saya masih heran. Bagaimana mungkin pukulan Iron Man ke Thanos bisa menyebabkan luka kecil di pipinya sedangkan pukulan Hulk yang secara tekanan lebih keras tidak melukainya sama sekali? Atau bagaimana mungkin Wanda bisa kalah oleh dua anggota Thanos yang bahkan dengan mudah dikalahkan juga Captain America dan Black Widow, tapi ketika perang di Wakanda dia bisa menghancurkan lima gasing raksasa dengan mudah yang menyelamatkan separuh pasukan raja Black Panther ini?

Ya, saya jadi teringat film Iron Man 3 dimana seluruh Armornya dapat dihancurkan dengan sangat mudah hanya dengan tinju dan tendangan dari lawannya Killian. Padahal di Avengers 1 bahkan di Iron Man 1 dan 2, untuk menghancurkan satu armor saja, rudal pesawat tempur sekalipun belum tentu bisa.

Karena kadang naluri penonton ikut bermain. Kita pasti berpikir, “Mati gak dia kali ini?” Dan penonton pasti berusaha menebak kalau A lawan B, siapa yang menang?

Kalau kekuatannya A, maka pasti dia bisa menang lawan B. Tentu kita berpikir begitu. Kita tahu kekuatan jagoan kita. Tapi di film ini, kekuatan tiap hero sering tidak bisa diprediksi. Contohnya ketika Thanos memukul Captain Amerika, logikanya dia pasti remuk atau luka berat. Tapi Captain America masih berdiri tegak dan masih bisa lari-lari lagi.

Jadi kalau perbandingan kekuatan nya saja tidak pasti, maka film ini cenderung tidak rasional dalam menentukan siapa pemenang dalam satu adegan pertempuran. Mungkin Marvel bisa memperbarui ini pada kesempatan berikutnya. Meskipun saya berpikir, “Siapa juga saya mau didengar mereka?” 

Dan satu yang saya salut dari film ini. Tentang drama.

Berhubung memang Avengers: Infinity War ini difokuskan pada tokoh Villainnya, Thanos. Maka setiap film dipusatkan pada petualangannya mencari keenam Infinity Stone. Porsir Avengers bisa dikatakan sedikit. Apalagi sutradara Ross bersaudara berkata, “Film ini menceritakan sisi baik dan buruk Thanos. Penonton akan dibuat merasa cinta dan benci kepadanya.”

Ibarat es krim warna-warni, film ini punya banyak elemen rasa yang menyusunnya. Bila dari pribadi saya, drama terbaik datang dari Thanos. Betapa seorang penguasa kejam, pembunuh berdarah dingin masih memiliki cinta yang dalam di luar dirinya sendiri. Bagi orang-orang yang perasa, film ini mengguncang sampai ke titik terdalam.

Thanos tentu bukanlah sosok sentral yang hadir dengan sendirinya. Menarik melihat kekejamannya dan sisi baik dirinya bercampur aduk merebut eksistensi. Dimana dia harus mengorbankan orang yang paling ia cintai untuk mendapatkan apa yang dia inginkan selama ini. Apa dia mampu menukarnya? Ya, Thanos melakukannya.

Saya juga takjub pada adrenalin yang ditawarkan ketika perang di Wakanda. Saya lihat reaksi penontonnya yang semula duduk malas-malasan di kursinya karena film sejenak low, langsung kepalanya tegak kembali karena adegannnya dibuka dengan perang-perangan lagi. Sutradara sangat pandai menarik ulur emosi kita.  

Film karya MCU juga tak bisa dipisahkan dengan sisi humor nya. Film Avengers: Infinity War ini menyajikan sense humor yang tinggi. Kita akan tertawa terbahak-bahak dibuatnya. Bahkan Thanos pun membuat kita tertawa ketika dia berada dalam pengaruh tidur Mantis ketika ditanyai Star-Lord,  Pete sang leader Guardian Of Galaxy.

“Dimana Gomora?” tanya Pete.

“Oaoaoaoa...” balas Thanos dalam keadaan tidak sadar.

“Siapa Gomora?”

“Ooaoao, aku...”

“Kenapa Gomora?”

“Oaoaoaoa....”

Atau adegan ketika Drax mengintip Pete berciuman dengan Gomora.

“Sejak kapan kau berdiri di sana?”

“Aku bisa berdiri berjam-jam tanpa bersuara.”

Dan banyak lagi adegan lucunya. Ya, menonton 2 jam lebih film ini membuat kita bisa panjang umur.
 
Saya juga memuji endingnya. Seperti film Inception dan The Dark Night Rises ala Christopher Nolan, Ross bersaudara sebagai sutradara mampu membuat kita bertanya-tanya. Kemana semua hero yang hilang? Apa yang dilakukan Thanos berikutnya? Apa dia menyesal? Dimana dia menghabiskan harinya setelah berhasil melenyapkan separuh semesta? Dimana dia ketika melihat Gomora kecil lagi? Apa yang akan dilakukan Tony Stark ketika dia berdua dengan Nebula di planet antah berantah? Ditutup dengan musik yang epik, membuat saya akhirnya bertepuk tangan.  

Menandai 10 tahun MCU berdiri, sekaligus menandai puasa nonton film superhero selama 6 tahun di bioskop, saya sangat puas menonton film ini.

Tak sia-sia juga menghabiskan uang teman saya Rp.140 ribu demi menonton ini.  Ya, pesta besar hari ini ditutup manis dengan film Avengers: Infinity War yang menakjubkan. Sekali empat tahun saya baru bisa pesan popcorn dan secangkir Lemon Tea. Thanks buatmu, teman. Saya jadi merasa kaya satu hari itu.

Rating untuk film ini 90/10.

Rating sebagai penggemar DC 80/10.

Saya penggemar DC. Tapi saya mulai kecewa pada DC. Harus diakui film Avengers: Infinity War ini lebih fantastis dari Justice League yang beberapa bulan lalu dirilis.  

Ya, kita harus objektif dalam menilai semuanya.

Ada apa dengan Avengers sampai yang saya penggemar DC bisa lupa saya penggemar DC?

Inilah jawabannya. 

  • Share:

You Might Also Like

0 Comments