Jendral Yang Tak Lagi Berperang

By Andre Demofa - Agustus 31, 2018




Tentara adalah garis terdepan untuk melindungi batas-batas teritorial dari ancaman kolonialisme dan serangan dari luar yang bisa meluluh-lantakkan negara ini. Dengan darah, keringat yang bercucuran habis-habisan berusaha menegakkan bendera merah putih tetap di tempatnya. 

Semangat patriotik begitu terasa ketika masa perang dulu apalagi sebelum berangkat, biasanya tentara ini dilepas dengan meriah dan haru dari penduduk setempat. Mereka saling berpelukan, menepuk pundak masing-masing dan mengalungkan jimat-jimat yang dipercaya membawa keberuntungan selama pertempuran.

Sungguh, mental tentara adalah mental yang sedapat mungkin harus jadi milik setiap orang kala itu.

Mental siap berkorban.

Jendral yang posisinya sebagai komando tertinggi, memegang kunci penting dalam hirarki disiplin dan perintah, ikut memotivasi setiap prajuritnya, membangun kepercayaan diri pasukannya, lalu membuat strategi memenangkan pertempuran. Apapun strategi yang digunakan, NKRI harga mati!

Yang pasti, jendral di masa itu adalah ahli-ahli taktis dalam berperang. Mereka punya naluri kuat menebak kekuatan tempur musuh, senjata apa yang musuh pakai, dimana markas terdekat musuh, apa kelemahan mereka, dan bagaimana kesiapan pasukannya dalam melakukan serangan yang tepat ke titik terlemah itu.

Jika pertempurannya di pedesaan, maka taktik gerilya dirasa yang paling menguntungkan. Karena di negeri musuh, Belanda, Inggris atau Jepang, para serdadu itu tidak memiliki hutan dan tidak pernah bertempur di hutan. Sehingga inilah titik kelemahan mereka.

Perang memang melahirkan kepahitan, kesedihan, dan penyesalan. Tapi dari perang itu juga lahir jendral-jendral hebat yang namanya terkenang sepanjang masa. Tetapi sering setelah perang usai, jendral dengan nama yang mulai harum itu, mulai mengambil alih kekuasaan dan banting setir menjadi politisi. Sesuatu yang tidak etis mereka lakukan.

Pada perang dunia ke-2 pada tahun 1943, Franklin D. Roosevelt presiden Amerika Serikat pernah menegur jendral Charles de Gaulle yang memimpin pasukan pembebasan Prancis karena sifatnya yang sangat nyentrik. “Jendral de Gaulle adalah tentara yang patriotis dan mengabdi ke negaranya. Tapi di sisi lain dia seorang politikus dan sektarian, dan saya yakin dia telah memiliki semua karateristik seorang diktator.” Akhirnya Roosevelt pun menunjuk Jendral Giraud yang meskipun usianya di atas 60 tahun, tapi dirasa tepat memimpin perang mematikan ini.

Hal ini secara memilukan pernah terjadi setelah Orde Lama berakhir. Ya, Orde baru. 

Meskipun saya sempat pesimis, apa Soekarno mau eranya dulu disebut Orde Lama? Seandainya saja Bung Karno tahu kalau di buku sejarah anak SMA, era pemerintahannya disebut Orde Lama, Proklamator itu pasti bakalan memukul meja dengan berang dan berkata, ”Jangkrik!” 

Soekarno sosok yang puitis. Dia pasti ingin nama keren seperti Orde Merdeka, Orde Bamasta (Bangun Semesta) atau Orde Mestaka (Merah Putih Pustaka) menjadi nama orde yang ia pimpin selama kurang lebih 21 tahun lamanya itu.

Kembali ke topik. Di era Orde Baru kesan ini sangat kental. Posisi pejabat banyak diambil alih seorang jendral. Memang masa itu, kuliah jadi hal mewah. Orang yang jelas-jelas terdidik, punya pengalaman, kekuasaan di corps, punya wibawa di mata rakyat dan dekat dengan presidennya hanyalah para jendral. 

Lalu bagaimana sekarang?

Kini mahasiswa jumlahnya melimpah, tenaga ahli bertebaran bahkan sering dipakai negara asing membangun industrinya, pengusaha-pengusaha muda mulai tampil, demokrasi mulai diperbarui dengan semangat toleransi, partai politik semarak lagi dan semua mengarah pada pembangunan yang nyata. Tapi tetap saja, jendral-jendral ini masih punya taji. Mereka masih diandalkan. Bukan untuk angkat senjata. Tapi beradu di medan perang lain.

Mereka ingin mengabdi lebih jauh lagi dibanding hanya mengurusi perang yang sedang reda. Sungguh luar biasa semangat para jendral ini meskipun uban mulai menunjukkan eksistensinya di berbagai helai rambut, mereka tetap mau melayani kita di tempat dimana seharusnya kita berada. 

Apalagi seorang pensiunan jendral sering berkata, “Meskipun sudah selesai di sini, jika negara memanggil saya siap kembali!”

Salut!

Mereka tidak mau kalah dengan yang muda. Ikut menyemarakkan semua posisi penting di negara ini demi melayani rakyat yang sedang kesusahan itu.

Ketika dinamika politik sedang tinggi-tingginya, jendral diturunkan jadi jagoan di Pilkada. Ketika sepakbola sedang kisruh, Jendral diangkat jadi ketua PSSI. Ketika ormas mulai besar, Jendral diangkat jadi dewan pembinanya. Jendral juga sering diturunkan mengurus bisnis dan menjabat sebagai komisaris di berbagai perusahaan. 

Maka saya sedikit canggung.

Ketika industri dangdut koplo sedang ramai-ramainya, jangan-jangan para jendral ini juga berniat mengambil alih? 

Ini perang zaman now. 
  


  • Share:

You Might Also Like

0 Comments