Tetralogi Puisi (Satu) I'm Begin!

By Andre Demofa - Mei 11, 2018




Rindu Tak Diundang
Udara mengisi lorong panjang telinga
Pandangan terpaku di tembok putih tanpa noda
Dengan kening yang berkerut aku bertanya,
Pada rindu yang gentayangan di tiap malam
Pada hasrat liar yang mengusik ku dalam-dalam
Dimana dirimu berada?
Aku ingin berjumpa walau satu purnama
Aku ingin bertemu meski cuma bertukar ramah
Tapi biarlah lonceng ini menutup kisah kita yang tak lagi mekar
Ditemani palung hampa aku berteriak,
Sudahkah usai pertemuan kita?
Tak lagi pijakan ini sama
Sejak dirimu ditelan janji durhaka
Sejak dirimu bertamasya pada kecupan nama lain
Untuk apa lagi ku ingat?
Kini tersisa serabut luka
Dan rindu yang tak diundang
Aku resah!
Inilah sepotong hati yang mencari neraka,
Namun masih betah di surga...

Tikus Berdasi
Tersapu kelap-kelip imajiner dari inti syaraf
Hanyut diamuk karma yang mengajak perang
Hayalan yang semanis madu
Buyar sudah oleh jejak lama yang memburu
Cerita kemarin, jadi cerita hari ini
Teman di sore itu, jadi musuh sore ini
Kebenaran datang menangkapku
Kenyataan menjala ke setiap baut hidup
Begini sudah terjadi,
Nasib tak lagi pamrih
Upah mencuri adalah dicuri
Hanya saja aku menangis,
Karena yang diambil juga harga diri...

Sepadan
Ramai orang berteduh di durasi jenaka
Melihat lakon orang-orang lugu di panggung bebas
Setelah pulang sore membelah rimba roda
Lepaskan sabuk penat sejenak
Bersandar di sofa murah
Di layar orang tertawa, aku pun tertawa
Menikmati sajian hangat di gelas kaca
Melepas ikat kepala,
Menjeda detak urat bertempo cepat
Pisahkan diri dari cemar serigala berkerah
Menjulur kaki di unggun rumah yang hangat
Momentum yang ku damba dari bilik kerja,
Hidup merdeka di atas meja...


Topeng
Terusir dari arus orang berlari
Tersisih aku ke riak yang berselisih
Aku bertanya pada ilalang yang diam,
pada anggukan sapi di padang,
Adakah makhluk yang setia?
Aku jenuh!
Sedari aku diingat, sesering aku dilupakan
Dipuja sebentar lalu mereka berkhianat
Diangkat tinggi ke muka lalu mereka ringan menjungkal
Pada apa lagi aku berpegang?
Jika yang diukur suci ikut bersandiwara
Jika yang dinilai masyhur menjadi rakus
Aku goyah di hadapan Tuhan
Aku goyah menebak isi jubah manusia
Jika setiap topeng tinggal di wajah,
Dimana tempat untuk memeriksa rupa?
Aku lelah...


Maret, 2017 - Andre Demofa

*Selain menulis esai ringan, saya juga gemar menulis puisi. Rubrik tetralogi puisi akan diposting setiap minggunya di blog ini sebagai dedikasi atas sastra Indonesia yang mulai kurang diminati anak muda. Hidup sastra Indonesia!   

  • Share:

You Might Also Like

0 Comments