Dilema Merilis Novel Musikal Pertama

By Andre Demofa - Juli 15, 2018




Jauh sebelum saya memutuskan menulis novel musikal, tepatnya kelas 2 SD saya ingat novel pertama yang saya baca. Judulnya memang samar-samar. Tapi novel pertama itu membuat saya menangis. Saya tekankan, saat itu saya baru kelas 2 SD, and I’m cry?

Yang membuat saya menangis adalah salah satu bagian awal dari novel itu.  

Bagian dimana seorang ayah duduk di halaman depan kelas menunggu anaknya keluar dari pintu sambil berjongkok di dekat motornya. Wajah ayahnya terlihat datar, tatapannya kosong menyambut anaknya keluar kelas. dan siang itu juga sang ayah mengajak putrinya pergi ke rumah sakit, ia tidak mengatakan apa-apa, tidak memberi sinyal apapun, sang ayah membiarkan gadis kecilnya itu masuk ke pintu yang terbuka di rumah sakit, membiarkan anaknya mengetahui  kenyataan; Ibunya sudah meninggal  setelah lama melawan penyakit kanker.

Sang anak berusaha memeluk jasad ibunya, namun gadis perempuan itu ditahan oleh suster jaga,  gadis kecil ini terus meronta meraih tangan ibunya, dia menangis dan terus saja berteriak  memangil-manggil nama ibunya yang tak bergerak di atas tempat tidur, ia memohon  agar ibunya  bangun dan bisa mengepang rambutnya lagi sebelum berangkat sekolah, mengajarinya melipat origami kertas yang belum sempat dia tahu. Ayahnya cuma diam di pojok ruangan sambil menundukkan kepala. Dialog demi dialog dari bagian awal novel ini sangat menyentuh, apalagi ketika ayahnya berjanji akan menjaganya sebaik mungkin meski sebagai single parents.

Ya, kurang lebih seperti itu awal ceritanya.  
  
Bel sekolah  berbunyi, saya letakkan lagi buku itu di rak perpustakaan dan masuk ke kelas. Dalam hati berdebar-debar, apa kelanjutan novelnya.  Pulangnya, saya mencari lagi buku itu, saya cuma hapal warna cover novelnya putih kecokletan. Ya, saya tidak pernah lagi menemukan buku itu sampai hari ini. Saya benar-benar gelisah satu hari itu.

Dan sejak hari itu saya sadar, saya ternyata mudah sekali terbawa suasana. Saya mudah menjiwai sesuatu. Entah itu bakat atau bukan, kecendrungan itu terus mengakar dalam diri saya, dan beruntungnya kecendrungan itu  14  tahun kemudian membawa saya bisa menulis novel seperti hari ini.

Ya, penghayatan adalah modal dasar seorang penulis. Seorang penulis adalah pembaca pertama dari karyanya, jika ia tidak menghayati apa yang dia tulis, bagaimana mungkin orang lain akan mampu menangkap pesan dari tulisannya?

Untuk itu di satu sisi saya beruntung punya penjiwaan yang kuat akan segala sesuatu, di satu sisi ini juga kerugian karena jika tidak bisa mengontrolnya dengan baik,  saya bakal sering mengedepankan rasa daripada logika dalam mengambil keputusan. Semua memang punya plus dan minus.

Soal kontrol itu akan kita bahas lain waktu. Saya akan bicara tentang novel pertama saja.

Hampir dua bulan terakhir di awal tahun 2018 saya menulis novel musikal yang kita sebut saja 'NA' ini. Judulnya sebenarnya bukan ‘NA’ bahkan itu bukan inisialnya, ‘NA’ digunakan biar mudah saja menyebutkannya

Judul novel ini sengaja saya rahasiakan. Membocorkan judulnya sama dengan membocorkan sisi kejutan dari novel ini. Saya tidak mau ambil resiko. Bicara resiko, resikonya sama dengan main catur tapi kita berpikir menggunakan tangan yang bergerak-gerak di atas bidak, membuat lawan bisa membaca pikiran kita.

Oke. Kita lanjut.

Novel ini belum selesai dan bukan ide novel pertama yang saya tulis. Sebelum ini, saya sudah menulis banyak draft naskah yang aneh-aneh, dengan topik  A sampai Z, tapi tidak satupun dari naskah itu yang membuat saya percaya diri melabelinya dengan kata ‘debut’.  

Ya, mengerjakan novel debut tidak boleh kebut-kebutan seperti  mengerjakan skripsi.

Debut adalah karya pertama, maka bagi saya naskah untuk sebuah debut haruslah istimewa.  Sama seperti cinta pertama. Huuh.

Ketika menemukan ide untuk novel ‘NA’, saya punya keyakinan novel ini  cocok memenuhi harapan saya. Sebuah novel yang dekat dengan  saya, di dalamnya tertuang puisi, komedi-komedi receh ala blog ini, sampai lagu karya saya sendiri yang dikumpulkan dari masa-masa sekolah dulu.

Ya, novel ini berbentuk musikal. Salah satu yang saya suka.

Secara historis, sangat sedikit novel musikal di Indonesia.  Padahal di luar negeri novel dengan format musikal sudah laris sejak dulu.

Saya bahkan belum pernah menemukan novel seperti itu di toko buku.  Apa mungkin karena saya jarang membongkar semua rak dan mencari-cari sampai ke dalam? Entahlah. Tapi jika menelusuri di internet, mengunjungi toko-toko buku online populer, saya belum berhasil menemukannya.

Novel musikal dalam arti ada tulisan dan kepingan cd berisi lagu di dalamnya. Kalau film, lagu itu adalah soundtracknya.

Nah, kelebihan dari novel musikal adalah pembaca tidak hanya disuguhkan dengan fantasi sebuah tulisan, namun diperkuat dengan nada-nada yang mendorong fantasi itu agar pesan yang disampaikan penulis bisa lebih tepat sasaran.

Kita semua pasti pernah tersugesti ketika mendengar lagu sedih yang durasinya hanya 3 menit sama dengan membaca novel yang tebalnya sampai 300 halaman.

Dan ya, novel musikal inilah yang menjadi proyek debut saya.

Jika tidak ada aral melintang, ada 10-12 lagu di dalamnya yang akan dimuat untuk menemani berbagai adegan yang krusial di dalam ceritanya. Tidak hanya itu, lagu dalam novel ini juga punya keterkaitan satu dengan yang lain, ada benang merah yang menghubungkan keduanya. Jadi bukan seperti buku antologi cerpen yang mana cerita demi cerita terpisah satu dengan yang lain. 

Salah satu buku antologi cerpen dengan konsep serupa adalah Rectoverso karya Dewi Dee Lestari. Bukan bermaksud membandingkan, hanya saya mau memberi gambaran betapa novel musikal berbeda dengan antologi cerpen musikal, yang mana ketika diadaptasi film antologi cerpen akan menjadi film Omnibus sedangkan novel musikal akan menjadi film tunggal yang pada umumnya kita tonton.

Ya, tingkat kesulitan menulis novel musikal memang lebih rumit dari novel pada umumnya. Inilah mengapa saya berani menjadikan ini debut.

Novel ini terasa istimewa baik secara teknis pembuatan maupun isinya. 

Sesumbar saya mengatakan pada seorang teman (adik kelas di SMA dulu) kalau novel ini akan terbit di bulan Februari 2018. Maaf sekali, prediksinya meleset. Novel ini bahkan belum sempurna. Memang bukan lagi sekedar kerangka atau outline, tiap bab sudah padat dengan kalimat, tapi di sanalah masalahnya. Novel saya kepanjangan.

Mungkin karena terlalu asyik, saya jadi lupa diri. Jumlahnya 300 halaman lebih di kertas kerja saya, yang mana penerbit sudah berulangkali menegaskan tidak merekomendasikan menerbitkan naskah penulis pemula yang terlalu panjang, apalagi novel remaja yang pasarnya ditujukan untuk remaja seperti novel ‘NA’ ini.

Jadi wajar, saya perlu melakukan koreksi kolektif untuk meringkasnya. Dan itulah yang saya kerjakan sekarang ditambah mencari modal untuk rekaman lagu-lagu pendukungnya dengan menulis di kolom-kolom kontributor website besar dan kerja freelancer.  

Perjalanan masih panjang.

Dengan proses tentatif seperti ini, saya belum berani berjanji kapan novel ‘NA’ ini akan terpajang di toko buku. Seandainya semua konten naskah dan musiknya lengkap dan akhirnya dikirim ke penerbit, untuk menerima konfirmasi saja paling lambat harus menunggu tiga bulan, proses revisi yang bisa memakan waktu dua bulan, sampai proses naik cetak dan distribusi yang umumnya berlangsung satu bulan.  Tapi karena prosesnya yang tidak biasa, saya semakin tertantang. Semakin sulit prosesnya, 
saya jadi tidak sabar ingin tahu seperti apa masa depan itu. 

Ditambah dengan industri perbukuan yang tidak menentu seperti sekarang, banyak indikator yang mempengaruhi proses cetaknya, apalagi dengan logika novel ini punya ketebalan standard dengan kepingan CD di belakang sampulnya, bisa diprediksi harganya akan sedikit lebih mahal dibanding buku dengan genre atau ketebalan yang sejenis.

Apa penerbit mau mengambil resiko itu? Bagaimana aturan perpajakan yang mendasari dua karya yang dijual dalam satu paket? Mengapa pembaca mau memiliki CD sedang mereka bisa mengunduh lagu bajakannya di internet? Semua pertanyaan di atas bukan melemahkan, justru membuat saya lebih penasaran. Karena semua pasti punya jalan keluarnya. Dan itu akan kita ketahui sebentar lagi.  

Ya, inilah tantangan buat sebuah novel dengan format baru, mungkin saja akan jadi novel musikal pertama di Indonesia. Mungkin saja. Kalau saya salah, mohon dikoreksi.

Bicara soal isi novel, beberapa teman dekat sudah saya beri sedikit bocoran tentang seperti apa jalan ceritanya, yang pasti garis besarnya tidak jauh beda dengan garis besar pengalaman saya selama tiga tahun terakhir. Sebuah biografi? Bukan. Ini bahkan bukan sebuah novel biopik. Saya belum jadi Gubernur Sumut atau Wakil Presiden RI.  Apa yang mau ditonjolkan dari kisah hidup saya? Lagipula, pengalaman hidup saya tidak begitu menarik untuk dibagikan. Saya anak muda biasa sama seperti kalian. Malah kisah saya lebih membosankan.

Lalu, novel ini bercerita tentang apa?

Ya, novel ini bercerita tentang kekuatan sebuah ingatan.

Ingatan tentang apa?

Barangkali tidak keren kalau menulisnya sekarang. Tapi dari lagu-lagu yang akan saya rilis bulan demi bulan, cluenya juga akan kelihatan. Jadi tunggu saja.

Apa fiksi apa non fiksi?

Um, saya tegaskan ini fiksi.

Begitu berharganya sebuah debut sampai saya memilih mengerjakan novel  ‘kurang kerjaan’ ini, novel yang proesnya rumit dan gak bisa ditebak kapan selesainya, sedangkan sudah ada beberapa naskah siap tulis yang jauh lebih mudah untuk dikerjakan, tapi saya menomorduakannya.  

Sinting? Mungkin. Saya ingin debut novel ini istimewa. 

Dan memang secara praktik bukan cuma saya, beberapa novelis yang lebih dulu kondang di tanah air memulai debut yang sama dengan cara yang kurang lebih serupa. Andrea Hirata contohnya dengan novel Laskar Pelangi yang bercerita tentang garis besar masa lalunya bertemu Ibu Halifa, guru mereka tercinta di Bangka Belitung. Raditya Dika dengan Kambing Jantan yang bicara tentang kehidupan asmaranya yang absurd dan kekonyolannya selama LDR dari Indonesia ke Adelaide. Alit Susanto dengan Shitlliciousnya yang bicara tentang dunia anak kampus yang lucu, sampai Danny Dirgantoro dengan kisah persahabatan lima sekawan yang naik gunung Mahameru berjudul 5CM yang sampai hari ini pun masih diburu pembaca-pembaca baru. 

Tentu debut begitu berarti buat mereka dan cara terbaik memulai sebuah debut adalah menulis apa yang paling dekat dalam kehidupannya. Menulis kisah mereka sendiri, membagikan kenangan yang paling berkesan untuk jadi bacaan banyak orang. Meskipun banyak dibumbui hal-hal fiksi.

Dan setelah proses debut selesai, beberapa dari penulis di atas banting stir menulis cerita dengan feel berbeda. Ada yang menulis cerita yang berdasarkan kisah orang lain, atau kisah mereka lainnya yang lebih humanis dan fantasis. Setelah debut, mereka bebas menjadi apa saja.

Ya, novel ‘NA’ yang saya kerjakan punya arti yang sama. Saya mencurahkan seluruh perasaan di dalamnya, dan karena itu dekat dengan saya, pengerjaannya pun mengalir begitu saja. Setiap karakter dalam novel ini saya kenal betul sehingga mudah untuk dituliskan. Saya ingin novel ini jadi debut yang meninggalkan kesan, baik dalam proses menulisnya maupun kesan bagi mereka yang tertulis di dalamnya. Meskipun sekali lagi, ini hanyalah novel fiksi.  

Bel sekolah 14 tahun yang lalu memang memisahkan saya dengan novel pertama, rasanya nanggung,  saya belum selesai membacanya dan justru dibuat menangis di awal ceritanya. Sungguh jahat membuat seorang anak kecil penasaran seperti itu.

Barangkali jika saya menghabiskan novelnya saat itu, saya tahu sisi lain dari sebuah novel tidak hanya menangis, tapi ada tawa, ada sisi lucu dan juga menggelitik dalam ceritanya. Gadis kecil itu pasti tertawa pada akhirnya, meski dia pernah kehilangan ibunya.

Maka, untuk novel pertama ini, saya akan membuat tokoh utamanya tertawa di akhir cerita. Saya ingin balas dendam.  Saya akan menyisipkan semua elemen rasa ke dalamnya untuk kita rasakan bersama-sama  dan menyelesaikan novel ini tepat waktu. Saya pasti menyelesaikannya.

Saya tidak ingin bel itu memisahkan kita lagi. 

Ya, dan bel itu kini bernama rasa malas.

Stay Licious.


  • Share:

You Might Also Like

0 Comments