Valuasi Literatur (Menulis Corner)

By Andre Demofa - Agustus 15, 2018



Banyak dari kita yang tiba-tiba mendapatkan ide tulisan yang cemerlang, lalu menahan ide tersebut untuk dituliskan karena menganggap sedang tidak berada dalam momentum yang tepat.

Menulis adalah seni mempengaruhi seseorang, namun bagaimana mungkin kamu dapat mempengaruhi yang lainnya, sedangkan kamu sendiri tidak cukup kuat untuk mempengaruhi diri untuk menulis.

Adalah hal yang sulit untuk memaksa pikiran mau menulis. Dan kendala terbesar dalam menulis adalah : Menaruh nilai yang terlalu tinggi bahkan sebelum kita menulis.

Banyak orang terlalu memikirkan “Output“ karyanya, dibanding proses “Inputnya“, inilah yang dimaksud sebagai valuasi literatur.

Meminjam istilah bisnis, anda mengharapkan dapat menulis sesuatu yang menjual, dan ketika tulisan itu selesai, hasilnya haruslah besar, berbanding lurus dengan mahalnya sebuah ide. Nah, ini yang perlu saya tekankan. Bahwa kebanyakan penulis, terlalu mengharapkan karyanya luar biasa sukses, mengisi pikirannya dengan hal ini, sehingga dalam prosesnya, kamu akan tertekan, mengalami dampak batin yang luar biasa, karena kamu dituntut untuk membuat sebuah karya yang luar biasa dah ehem, sempurna.

Dan dengan pikiran yang terus mencecoki kamu untuk membuat sebuah karya yang luar biasa, maka menulis menjadi sebuah beban. Kamu menjadi kaku, dan menjadi terlalu khawatir selama menulis, apakah cara menulis, poin dalam tulisan, atau alurnya memang sudah tepat - Kamu terus bertanya-tanya dan tidak menulis dengan mengalir begitu saja.

Kamu mulai meragukan karya sendiri, apakah ide itu memang cukup baik untuk dikelola menjadi kenyataan atau tidak, intinya dengan berpikir bahwa output sebuah karya harus luar biasa, kamu membuat balok perintang bagi diri kamu sendiri, dan gawatnya itu terjadi bukan di saat tulisan selesai, melainkan ketika kamu baru saja memulainya.

Mari kita lihat contoh menarik dari penulis yang pernah sukses. Mereka menulis dengan rasa nyamannya, sehingga kekuatan “alami“ dari pikirannya membantu tulisan itu cepat selesai.

Kita contohkan Andrea Hirata dengan Laskar Pelanginya. Ia tidak mengharapkan novel itu menjadi komersil. Yang ia pikirkan saat itu adalah: Aku hanya ingin menulisnya.

Andre Hirata tidak mengharapkan sejak awal novelnya best seller atau minimal terjual 10.000 copy, ia cuma berpikir bagaimana seluruh isi hatinya tertuang dalam sebuah buku dan kelak itu dapat ia bagikan kepada teman-teman di masa kecilnya di Belitung.

Inspirasi sejati datang dari kesederhanaan. Dan sebuah tulisan yang hebat akan lahir dari seorang yang menulis untuk berbicara dengan dirinya sendiri. Memang, prinsip ini condong pada novelis, namun sebaliknya, prinsip valuasi literatur sebaiknya kamu buang jauh-jauh sebelum menulis.

Kamu boleh optimistis, namun jangan valuasi gila-gilaan itu menjerat dan mengkerangkeng anda sehingga inspirasi sejati itu jadi mati dan membuat kamu gagal.

Menulis adalah seni yang halus, kamu harus bisa menaklukkan diri sendiri  sebelum melaju dan menaklukkan orang lain lewat isyarat tulisan yang kamu buat.

Kelak, kamu bisa memikirkan lebih jauh soal nilai karya, namun sebelum itu kerjakanlah karya tersebut sampai benar-benar matang. 

Hilangkan ilusi dalam benak kamu untuk menjadi sempurna dan luar biasa, hanya tegaskan dalam diri kamu bahwa karya itu siap untuk dirilis dan titipkan doa sebelum melemparnya ke pasar.

Optimis itu baik, namun optimis dengan syarat itu yang bahaya!

Selamat menulis kawan, jangan lagi terjebak dalam valuasi literatur. Semoga berhasil!



  • Share:

You Might Also Like

0 Comments