Generasi ‘Manja’ di Padang Bencana

By Andre Demofa - September 14, 2018



Perlu jalan bermil-mil jauhnya di masa seperti sekarang untuk menghindari pemandangan anak-anak memegang gadget. Di desa maupun kota, gadget mulai menjadi benda yang anti klimaks, tidak lagi serupa dulu yang dianggap ‘sakral’ ataupun mewah.

Gadget bak kacang ijo yang dijual di pasar Minggu, rasanya memang tak seperti kacang, tapi geliatnya dan pemahamannya seperti pedagang yang menjual kacang, sama harfiahnya secara prinsip bahwa memiliki gadget adalah lumrah dan justru aneh jika dalam satu komunitas yang sedang berkumpul orang-orangnya tidak memegang gadget masing-masing. Itulah mengapa pengguna gadget menyerupai kacang, yang tidak mungkin dijual tunggal sebiji demi sebiji. 

Bahkan sejak balita pun anak-anak mulai dijejali dengan gadget. Banyak balita yang sudah ramah terhadap internet. Segelintir dari balita-balita gaul itu menjadi selebgram atau youtubers dan itu diikuti orang tua lainnya yang berharap kesuksesan instan yang sama terjadi pada anaknya. Sama-sama lucu kok, sama-sama masih belum mengenal asmara, dan sama-sama masih pipis di celana. Kenapa tidak? Peluangnya sama, begitulah pikir mereka. 

Di luar kontroversi dan sisi pro kontranya, tak bisa dipungkiri gadget menjadi benda yang tak terpisahkan dari gerak-gerik keseharian kita. Mulai dari anak-anak, remaja, pemuda, dewasa dan lansia. Berbagai taraf insan di bumi ini membeli, menggunakan, dan sering menggonta-gantinya. Lihat saja situs review smartphone di internet yang kaya raya dari iklan mobile karena begitu banyaknya netizen yang mau tahu berapa sih harga gadget terbaru.

Lihatlah kota, lihatlah desa, lihatlah ilalang-ilalang, dan tanyakan pada rumput yang bergoyang. Betapa gadget sangat dibutuhkan. Meskipun arusnya tidak sederas di daerah metropolitan, pengguna gadget di desa juga mulai beradaptasi dengan tren ini. Mereka terilhami dengan kemajuan zaman yang seturut dengan hasrat untuk menjelajahi sisi luar dunia yang belum mereka kenal.

Rasa penasaran adalah elemen yang menumbuh-suburkan keinginan pemuda-pemudi desa untuk memiliki gadget. Hingga mereka tahu apa yang tidak orang tua mereka tahu, dan mereka bisa melakukan apa yang orang tua mereka tidak pernah atau bisa lakukan. 

Namun saya akan berhenti dulu sampai di sini dan membenarkan persepsi kita akan tulisan ini. Sekilas, seperti sesuatu yang satir, tapi saya tidak sedang membahas  dampak gadget terhadap kehidupan sosial anak, tidak juga membahas akibat-akibat hoax yang bisa memprovokasi orang-orang ‘lugu’ di desa untuk saling bunuh hanya karena isu perselingkuhan atau isu ilmu hitam.

Ini semua tentang kesempatan.    

Benar jika anak-anak bisa rusak jika tidak diberi pendampingan dalam menggunakan gadget, benar remaja-remaja tanggung bisa terseret dalam pergaulan bebas jika tidak dibekali realitas tentang nikmatnya menikah muda dari video-video sensasional yang mereka tonton di internet, dan benar angka perselingkuhan makin tinggi sejak media sosial digunakan bapak-bapak dan ibu-ibu di rumah.

Itu semua benar.

Namun kita juga tidak bisa menutup mata bahwa dengan gadget dan koneksi internet, di tangan orang yang tepat, hidupnya dapat menjadi lebih baik. Gadget atau dalam bahasa Indonesianya ‘gawai’ telah menciptakan satu industri tersendiri yang sering kita sebut sebagai industri 3.0. Apa itu industry 3.0? Singkatnya, internet menjadi satu ekosistem yang menopang berbagai jenis usaha di masyarakat hingga kini. Semua ini hanya soal kesempatan.  

Saya hanya ingin berdiri di tengah-tengah dilematis ini dan mengatakan bahwa gadget adalah kebutuhan masa kini dan itu tidak bisa dibantah. Sekali lagi, itu tidak bisa dibantah. Gadget adalah hak setiap orang. Kecuali beberapa golongan tertentu seperti narapidana yang sedang menjalani masa hukuman. Karena jika demikian, bakal banyak orang mau berkunjung ke penjara untuk meminta wifi.

Oke, sudah fiks ya.    

Intinya, millenials, gadget, dan paket data adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dan jika salah satu dari tiga serangkai itu ada yang belum lengkap itu bisa bikin patah hati.   

Dan harus diakui kaum millenials ternyata punya sisi nyentrik, eksisme, dan jiwa solidaritas yang tinggi, loh terhadap sesamanya jika bicara lewat media sosial. Sesuatu yang sewaktu-sewaktu bisa berbuah jadi aksi yang nyata yang menggerakkan banyak pihak untuk melakukan apa yang benar.

Contoh paling dekat adalah ketika gempa bumi di Lombok pada awal bulan Agustus 2018 lalu. Gelombang aksi solidaritas untuk memberi bantuan datang dari media sosial, dan itu didominasi anak-anak muda. Ada saja cara anak muda untuk ikut membantu. Mungkin tidak dengan dana, tapi dengan menyebarkan tautan yang menggalang dana tersebut, atau membuat foto profil dengan tema ‘peduli Lombok’ sebagai wujud simpatisme. 

Memang, tuduhan generasi ‘manja’ sudah melekat sejak banyaknya anak-anak muda yang bandel dan sering membangkang dari orang yang lebih tua darinya. Mereka lebih suka berkutat pada gadgetnya dibanding mengerjakan PR atau tugas-tugas pokok di rumah. Mereka juga lebih cengeng dan terlalu ekspresif pada sesuatu yang sebenarnya remeh temeh lewat foto-foto atau tulisan galau mereka di media sosial.

Namun, generasi ‘manja’ ini juga bisa melakukan sesuatu yang berarti untuk sesamanya.

Percaya atau tidak, bahkan ketika perang dunia ke-2 dulu, kata ‘generasi manja’ sudah disematkan bagi angkatan-angkatan muda Amerika Serikat. Namun, yang patut diacungi jempol dari generasi-generasi yang dianggap ‘hilang’ ini adalah mereka semua saling terhubung sehingga menjadi generasi yang kuat.

Jika dulu di abad ke-20 semua masih dihubungkan lewat radio atau tayangan propaganda televisi dan mereka sudah menjadi kuat, kini kita generasi muda yang dihubungkan lewat internet harusnya berkali-kali lipat jauh lebih kuat.

Ya, dan ini adalah kekuatan kita yang muda. Saya juga salah satu millennial, loh.

Dengan satu tema besar yang bernama ‘budaya sadar bencana’ kita dapat mengambil satu contoh kecil bagaimana anak muda saling mengingatkan sesamanya tentang apa yang terjadi di daerahnya masing-masing. Bagaimana mereka terhubung dan membantu sesamanya.  

Saya ingat waktu itu Maret 2016, terjadi gempa di Kota Medan. Dan itu terjadi beruntun (gempa susulan).  Sigap, saya langsung membuka Facebook dan melihat lini masanya dipenuhi cuitan-cuitan teman-teman yang mengalami hal yang sama. Keuntungannya? Saya tidak merasa sendirian.

Perasaan merasa sendirian ketika bencana terjadi adalah ‘penyakit’ yang kini bisa terobati dengan adanya media sosial. Rasanya memang beneran seperti ‘generasi manja’ tapi begitulah adanya.   

Perasaan ‘merasa tidak sendirian’ adalah kekuatan dan kita bersyukur mendapatkannya di era millenials seperti sekarang. Coba bayangkan, betapa banyak turis yang melakukan ‘selfie’ atau vlog kecil-kecilan ketika gempa bumi Lombok terjadi satu bulan silam.

Banyak yang mengkritik mereka sebenarnya. Tapi saya mau katakan. Itu bukan karena mereka  gaya-gayaan, tapi itu adalah respon alami untuk membunuh perasaan ‘kesepian’ ketika  bencana terjadi. Itu adalah naluri alaminya untuk mempertahankan diri. 

Justru dengan itu mereka dapat menunjukkan pada dunia apa yang sedang terjadi dan dunia dapat memberi jawab (feed back) dalam bentuk bantuan dana, kalimat dukungan dan hal-hal lainnya.

Bencana memang bisa terjadi kapanpun. Dimana saja dan kapan saja. Tidak peduli siapa targetnya, namun berkat gadget dan internet, tidak hanya membunuh perasaan kesepian, kita juga mendapat bekal lain untuk tanggap terhadap bencana.

Secara real time, kita dapat mengetahui apa yang harus dilakukan lewat komunikasi dengan pihak berwajib atau lewat teman-teman yang dapat dipercaya dalam situasi darurat bencana. Informasi dalam bentuk video, infografis, atau panduan suara juga bersebaran di internet dan itu dapat menjadi bekal kita sewaktu-waktu dalam keadaan terdesak.

Bahkan seharusnya bagi pemuda-pemudi yang berada dalam titik-titik rawan bencana juga diberikan satu modul komplit, atau mungkin aplikasi tersendiri di smartphone mereka yang akan berfungsi untuk menuntun mereka dalam situasi darurat bencana dan itu yang harus diakomodasi oleh pihak berwajib yang menangani hal tersebut seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Dibanding cerewet dan memarahi pemuda-pemudi dalam bermedia sosial atau internet ria, lebih baik memanfaatkan peluang ‘keterhubungan’ ini untuk mengajak pemuda-pemudi jadi generasi tangguh yang siap untuk selamat.

Aplikasi sederhana saja, seperti mapping otomatis yang akan membawa mereka pada jalur aman, atau satu panduan keselamatan dengan beragam skenario bencana yang terjadi, dan pengguna aplikasi tingal memilih salah satu skenario yang sedang mereka hadapi lalu mengikutinya. Tentu kami yang muda-muda ini akan merasa sangat terbantu dengan adanya program tersebut.  

Kita punya banyak insinyur hebat dalam hal teknologi, kenapa tidak mengajak mereka? Toh, mereka juga masih muda kok.  

Apalagi jika berbicara tentang banyaknya korban hilang yang susah ditemukan. Di daerah rawan bencana, pihak berwajib sebenarnya sudah memprediksi titik-titik rawannya, sehingga di titik tersebutlah harus dilakukan pendataan bagi warganya dan jika memungkinkan ditambahkan alat pelacak di gadget masing-masing warga dan dalam keadaan darurat, alat itu bisa hidup untuk memberi tahu lokasi lanjutan bagi tim penyelamat. Tentu itu sangat membantu mengurangi korban jiwa dan ini soal kesigapan petugas. Timing yang pas akan sangat membantu korban yang punya peluang selamat.

Tapi apa alat itu ada? Bagaimana caranya menciptakan alat tersebut? Saya tidak tahu. Itulah gunanya anda sekolah S3 ke luar negeri. Bukan cari ijazah saja, toh?

Banyak ide-ide brilian yang justru muncul ketika bencana sudah terjadi. Maka dari itu, mengapa kita harus menunggu dulu supaya bencana terjadi?

Ya, sekali lagi, era millenials bukan menawarkan keuntungan mutlak, namun menawarkan peluang mutlak yang bisa dimanfaatkan. Semua ini tentang kesempatan.

Dan menjadi terhubung itu manis sekali. Meskipun di saat ada hal baik, ada hal buruk yang membayanginya. Contohnya hoax. Saya ingat banyak sekali berita hoax terkait  gempa Lombok bulan lalu seperti ada yang mengatakan telah terjadi tsunami di pantai-pantai tertentu dan banyak yang panik karena mempercayai itu.

Di sini saya tidak mengeluh tentang keluguan orang-orang ini, dalam situasi bencana, percayalah kita akan lebih mudah mempercayai siapa saja. Di pikiran hanya ada hasrat untuk selamat. Tidak ada waktu lagi untuk menganalisis atau meriset apa yang didengar, dirasa atau dibaca. Yang penting lari dan menyelamatkan diri. Itu lumrah sekali.

Yang lebih saya sorot adalah pihak berwajib yang ternyata bisa kalah dari berita hoax tersebut, yang ternyata tidak lebih dipercaya dibanding berita palsu yang bersilewaran di internet atau media sosial. Di sinilah kesempatan yang sebenarnya untuk membuktikan kekeluargaan pihak berwajiib yang harusnya lebih didengar dan dipercaya. Keluarga itu pasti hadir dan dipercaya, bukan?

Dan di sinilah dasar masalahnya. Bagaimana mungkin di era millenials seperti sekarang, anak-anak muda akan tahu tagline ‘siap untuk selamat’ tanpa adanya dorongan persuasif dari pihak berwajib di saat menonton vlog dan bermain mobile legends di android jauh lebih seru? Atau bagaimana mereka bakal bisa menerapkan budaya sadar bencana yakni: ‘kenali bahayanya,kurangi risikonya?’ jika mereka tak pernah dikunjungi secara langsung lewat kegiatan-kegiatan simulasi yang mengasyikkan?

Di sinilah, pihak berwajib harus mengajak anak muda untuk ‘siap untuk selamat’ bukan mengajarinya. Sekali, harus mengajak bukan mengajari. Dan itulah tantangan besar di era millenials seperti sekarang. Mampukah BNPB sebagai salah satu pihak berwajib melakukannya?

Era millenials ibarat permen karet, mereka lentur, elastis, dan justru manis ketika tidak berada dalam kekakuan. Berikan mereka kampanye yang sehat dan buat anak-anak muda itu terlibat langsung. Bukan merasa digurui atau sedang berada dalam tongkrongan bersama sang dosen killer.

Di sanalah harapan ada pada BNPB atau insan-insan peduli kemanusiaan lainnya yang bisa memberi rasa nyaman dan panutan. Di sinilah BNPB harus hadir. Di sinilah BNPB menjadi keluarga.

Tapi mereka juga ibarat permen batang yang mudah panik, sering kalap, dan tidak tahu harus melakukan apa ketika bencana sedang terjadi. Ibarat lepas dari batang, permen yang kehilangan pendiriannya tentu tidak dikatakan permen batang lagi.

Untuk itulah BNPB hadir memberi inspirasi dan mendorong tiada henti.

Saya jadi ingat sepotong lagu Sheila On 7 yang menemani malam dingin mengetik tulisan ini.

“Tahukah lagu yang kau suka, tahukan bintang yang kau sapa, tahukah rumah yang kau tuju, percayalah itu aku….”

Kapan BNPB menjadi yang disuka, disapa, dan dituju sebelum, ketika dan setelah bencana terjadi? Kami masih menungu. Dan kami tidak kemana-mana.

Penuh harap,

Dan Salam tangguh!     
        


  • Share:

You Might Also Like

0 Comments