Aku dan Kompetisi Debat Mahasiswa Indonesia (KDMI)

By Andre Demofa - Juli 17, 2019


Halo, guys. Lama juga gak posting di sini ya. Aku cuma ngabarin kalau kemarin aku ikut salah satu event yang diadain LLDIKTI, Kementrian Riset dan Pendidikan Tingi (Kemenristek-Dikti).

Namanya adalah Kompetisi Debat Mahasiswa Indonesia atau yang sering disingkat dengan KDMI. Nah. KDMI ini berbarengan dengan NUDC (National University Debating Club). Bedanya kalau NUDC seperti istilahnya menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris. 

Jadi di event ini yang dilombakan  adalah debat.

Mm, sampai di sini paham kan kalau aku tuh pernah loh ikut lomba debat. Meskipun aku orangnya melankholis dan romantis, ehekkk, dan suka membuat karya yang selo melo, tapi tetap aja ada satu ruang dalam diriku yang hobi berkata-kata. Hobi mendebat orang lain.

Dan aku udah unjuk gigi juga dari SMA. Ya, aku udah ikut-ikut event debat sejak SMA, cuma ya masih tingkat sekolah. Kalau dulu di sekolah, itu ada namanya Porakel (Pekan Olahraga Antar Kelas). Jadi, di Porakel ini timku pernah jadi juara satu umum. Hehe.

Tapi untuk tingkat provinsi atau nasional aku belum pernah ditunjuk. Enggak tau kenapa. Mungkin karena aku juga kurang suka menunjukkan diriku, aku sih gak pernah mendebat orang secara terang-terangan, atau membangun kesan, “Aku ini debaters, loh,” sama sekali enggak. Aku orang yang cinta damai dan gak suka memperpanjang masalah, kecuali memang masalahnya itu runyam ya harus diselesaikan.


Berpose di podium KDMI 2019.


Karena aku sebenarnya benci banget berdebat kalau bukan di event. Karena berdebat itu tidak akan menyelesaikkan masalah. Dan aku gak bangga kalau disebut sebagai pendebat. Jadi aku selalu diam-diam aja di kelas, gak banyak ngomong, dan orang ga tau gimana cerewetnya aku. 

Begitupun aku di perkualiahan. Aku ga hobi bicara, bisa dikatakan aku setengah-setengah introvert gitu. Cuma kalau ada teman diskusi, ada teman mau membahas satu dua topik, dan itu bukan untuk umum melainkan bangku ke bangku, maka aku gak segan-segan cerewet.

Jadi sebelum aku ikut KDMI, sebelumnya aku jadi perwakilan kampusku ke Pilmapres (Pemilihan Mahasiswa Berprestasi) 2019. Gila, itu event bergengsi banget dan beban di pundak delegasinya itu berat banget pastinya. 




Bisa dibilang Pilmapres adalah puncak tertinggi dari event-event yang diadakan Kemenristek-Dikti. 

Karena Pilmapres adalah akumulasi setiap prestasi mahasiswa, jadi orang yang diutus untuk ke tingkat Provinsi adalah mereka yang paling berprestasi dan cakap di tiap-tiap kampus. Dan aku senang banget bisa terpilih mewakili kampusku waktu itu.

Aku mewakili Universitas Darma Agung, meskipun ketika aku diutus aku walk out karena satu dua alasan yang gak bisa ku jelaskan di sini. Hehe. Aku sampai kena marah habis-habisan sama Wakil Rektor 3 Bidang Kemahasiswaan. Tapi ya memang salah ku sih.

Jadi, kembali ke KDMI. Debat ini kan adalah makanan semua mahasiswa. Kalau diajak nulis, ya paling sedikit yang bisa. Tapi kalau urusannya debat, pasti banyak banget mahasiswa yang mau ikut. Dan aku gak pernah tertarik untuk ikut KDMI ini.

Cuma, teman baikku waktu itu, inisialnya SS (hehe), dia ngajak aku ikut lomba debat KDMI. Dia jadi koordinator untuk event ini. Atau yang dipercayakan untuk membentuk tim. Dan dia ngajak aku yang amatir ini. Aku sama sekali buta soal debat metode Parlemen Asia (yang dipakai di KDMI 2019), gak begitu paham konsepnya, tapi dia percaya samaku. 

Jadi sekali lagi, aku dipilih ikut KDMI bukan karena aku yang paling hebat atau aku yang paling jago, cuma karena beruntung aja dia teman baikku dan dia percaya samaku.

Aku pelajari-pelajari dulu eventnya dan aku bilang ke SS 30 detik kemudian, “Yaudah deh.”

Aku mikirnya gini. Hitung-hitung menebus kesalahanku karena udah WO di Pilmapres. Hehe.


Bareng my Brader, SS. 


Jadi di KDMI mungkin kami yang pertama ya.

Tahun lalu sepertinya utusan kampus ku belum ada. Sama seperti Pilmapres juga. Aku yang pertama. Kadang aku mikir, kok aku beruntung banget ya. Selalu jadi yang pertama.

Ok, singkat cerita kami pun membentuk tim.

Awalnya teman ku yang SS ini bingung karena yang jadi kandidat namanya banyak. Ada beberapa dari fakultasnya, Fakultas Hukum. Temanku ini salah satu ketua untuk tim debat di fakultasnya juga. 

Jadi dia yang seleksi gitu.

Dan terpilih lah tiga orang.

Karena dalam debat yang paling penting adalah kerjasama tim, maka teman ku SS bukan mencari orang yang handal atau tajam kalau ngomong, melainkan dia mencari orang yang kompak dan bisa bekerjasama.




Maka terpilih kami bertiga. Yakni aku, SS, dan OL. Iya, aku kasih inisial semua.

Alasannya memilih kami lucu, “Karena kita semua lahir di bulan yang sama,” haha.  Memang iya sih.  Aku dan SS ini cuma beda tujuh hari dan dengan OL paling beda beberapa minggu. Selain itu kami memang orangnya langsung gampang banget akrab.




Jadi untuk kekompakan tim memang dia gak salah pilih.

Setelah tim terbentuk, kami pun disuruh membuat esai. Hmm, ini sih spesialisasiku.

Aku pun membuka esainya dan gak makan waktu lama pemberkasan kami udah siap.

Latihan pun dimulai.

Asli, itu adalah salah satu momen terbaik di hidupku sebagai mahasiswa.

Latihan.

Kenapa yang terbaik?

Karena untuk pertama kalinya, aku merasa semangat mengerjakan sesuatu di kampus.

Iya, biasanya aku setengah-setengah. Karena ini juga event nya exicted, kami jadi punya alasan untuk pulang latihan sampai malam. Mulai deh aku jadi penghuni kampus yang masuk pagi pulang malam, Selama 2 tahun kuliah, baru inilah aku pulang malam. Haha, anak rumahan banget, ya.  

Dan mereka sampai beberapa hari nginap di rumahku juga untuk latihan karena waktunya itu mepet banget.

Kekompakan kami langsung terbentuk dalam waktu singkat.




Dan kita gak pakai mentor, jadi metode latihan kita adalah saling mempraktekkan berdebat satu sama lain dan saling mengevaluasi setelahnya. Simpel, kan?

Mungkin kampus lain udah mempersiapkan dirinya untuk event ini jauh-jauh hari, sampai bayar mentor, dan berlatih dengan mosi berbeda tiap minggu. Kami gak mau meremehkan lawan tanding kami di KDMI 2019 nanti, jadi kami berlatih totalitas waktu itu. Bahkan event-event lain kami cancel semua demi fokus ke sini.

Aku juga dalam hati gak mau malu-maluin kampusku. Hehe.

Setelah berlatih, kita pun tiba di hari H. Kita menjumpai dosen pembimbing, dan dia ngajak kami jumpa Pak Rektor. Rasanya itu setiap kami jalan, berpapasan dengan dosen, ditanya-tanya mau ikut event apa, ada kepuasan tersendiri. Kayak bisa percaya diri gitu. Haha.


Ada kebanggaan memakai ini. 

Kami memakai jaket almamater dan setelah berdoa bersama Pak Rektor, kami berangkat ke hotel Grandhika Medan menggunakan mobil minivan dari kampus. Aseek. Ini pertama kalinya aku naik mobil dari kampus.

Di atas sana, kami sempatkan berselfie ria.


Di mobilnya kampus. 


Sampai tiba di hotel, kami bisa lihat anak-anak kampus dari seluruh Sumatera Utara yang berpartisipasi. Adrenalin meningkat.

“Wah, ini toh wajah-wajah pendebat,” pikirku. Aku sih berwajah kalem aja.

Bisa ku lihat kedua temanku, dari pembukaan acara, breefing, pembagian tim dan pembagian mosi, sampai kami bersalaman sepertinya mereka udah mulai gugup terbukti dari tangan mereka yang dingin.


Wajah-wajah nervous. 


Memang waktu itu asli, kita gugup disamping memang AC nya dingin banget. Haha.  

Gimana enggak, ini yang pertama  buat kita.

Dan kompetisi pun dimulai.  


Mekanismenya adalah panitia akan membagi dua tim yang berhadapan dalam tim pro dan kontra. Lalu setelah kami tau di posisi mana dan siapa yang menjadi tim lawan, panitia lalu menampilkan mosi (topik debat) di layar. 

Nah, kami mencatat mosi itu, lalu panitia memberikan waktu 20 menit, ya cuma 20 menit bagi pembicara pertama di tim pro untuk menyampaikan argumennya dan itu harus dipresentasikan dalam maksimal 7 menit.


Shit, dan aku adalah pembicara pertama itu. 

Mosi pertama kami. 


Hal yang sangat aku syukuri dalam kompetisi ini adalah kami berhadapan dengan tim-tim yang tepat.

Aku mau cerita sedikit tentang lawan kami. Dua lawan pertama kami adalah kampus keperawatan. Jadi sangat kami maklumi jika mereka kurang persiapannya, sama seperti kami. You know lah, anak keperawatan itu sibuk banget karena praktikumnya banyak. Sehingga ya, hasilnya beda tipis aja. Kami beruntung bisa menang tipis. Mereka memang jago-jago, meskipun sibuk di kampusnya, mereka tetap punya waktu ikut event ini dan memberi perlawanan yang sengit. Bravo, pokoknya.


Bersama salah satu mahasiswa keperawatan. 

Kami menang dua kali di babak penyisihan. 

Ada yang lucu sih di pertandingan pertama. Karena biasanya kampus lain yang lagi match diberi tahu siapa pemenang tiap rondenya plus nilainya, ini dari semua kampus yang berlaga hanya match kami yang belum diberitahu. 

Sampai aku turun tangan nanya ke panitianya. “Kok kami lain sendiri, Kak?“ tanyaku gitu.

Akhirnya jurinya pun akui kalau mereka khilaf. Haha. Mungkin waktu itu juri nya kurang minum Aqua. Minum dulu sana, Bu. Wekwekwek.

Dan pertandingan penyisihan ketiga, pertandingan terakhir, kami berhadapan dengan bintangnya kampus debat. Yakni UMSU.

Iya, UMSU.

Mereka nantinya jadi juara 2 di KDMI 2019 ini.

Tapi udah sempat berhadapan dengan mereka itu rasanya senang banget. UMSU memang jago lah pokoknya.

Dari semua pertandingan, lawan UMSU inilah yang paling seru. Paling melepas adrenalin. Paling buat aku semangat. Tim juara gitu loh. Jadi aku gak sia-siakan momen ini. Aku mikir kalau tim kami bisa  setidaknya mengimbangi mereka saja, maka tim kami memang layak jadi tim juara.

Aku sampai nyeletuk ke temanku, “Ku jitak nanti kau, Bro kalau gak bisa mempertahankan argument ku tadi,” kataku.  

Haha. Maaf, Bro. Waktu itu memang aku terlalu bersemangat.

Jadi di KDMI 2019, mungkin aku mau ceritakan sedikit ya. Ada tiga pembicara. Yakni, pembicara pertama yang memulai argumen, pembicara kedua yang mempertahankan argumen, dan pembicara ketiga yang memperkuat argumen, dan ditutup oleh pembicara pertama sebelumnya dengan kesimpulan. 


Pembicara pertama itu Perdana Menteri, pembicara kedua itu Wakil Perdana Menteri, dan pembicara ketiga itu Government WHIP. 



Aku tuh jadi pembicara pertama di debat pertama dan kedua yang mana kalau kita di posisi Pro, argument dari pembicara pertama ini yang akan dibahas selama satu putaran mosi itu. 

Dan konsep yang dipakai adalah debat parlemen asia.

Hasilnya gimana?

Kami kalah dari UMSU. Hehe.

Tapi tetap lolos ke babak 16 besar karena meskipun kalah di pertandingan terakhir poin kami cukup tinggi. Bahkan ada peringkat ke-11. Seandainya lawan kami bukan UMSU waktu itu, aku optimis sih bisa 10 besar. Uhuuuuk.

Indikator penilaian.
Udah pro? 

Nah, di sela-sela waktu, meskipun dapat kesan sebagai pendebat, kami tetaplah manusia biasa, tetap mahasiswa normal dan generasi muda yang hobi berfoto-foto.

Jadi ini foto kami, baik yang sok eksis, foto tim, dan foto rame-rame.



Aku pinjam dulu ya almet kalian, hehe. 

Tukaran almet lagi.
Di sini si OL entah kemana. Lagi ngambek kayaknya waktu itu karena kami kalah lawan UMSU. Haha. 
Wohoho.



Intinya nutrisi kami sangat terpenuhi lah selama acara itu. Haha. Rasanya restoran itu milik kami sepanjang hari. 







Kemudian di pertandingan 16 besar (besok harinya), kami sudah siapkan mental dan tenaga untuk menghadapi Universitas Medan Area. Iya, mereka tuh juara bertahan. Juara 1 tahun kemarin dan barangkali satu-satunya kampus swasta dari Sumut yang pernah lolos ke putaran 8 besar KDMI tingkat nasional. Itu sih kata temanku, Bung YS yang tahun lalu (KDMI 2018) jadi pemenang dan kita jumpa di event lain LLDIKTI beberapa bulan kemudian.

Lucunya, setiap kami berdebat dengan tim papan atas macam UMSU dan UMA, mereka punya supporter. Haha. Mereka punya orang untuk menyoraki, dan memberi support. Ada penonton gitu. Jadi beda gitu auranya. Waktu mereka menyampaikan argumen, kesannya itu kayak meriah sekali. Padahal yang mereka sampaikan itu biasa-biasa aja, sama aja kayak kami. 

Dan Bung YS ini juga ada di situ. Makanya waktu kami jumpa bulan Oktober di event kewirausahaan (event yang berbeda dari KDMI) aku nyeletuk santai, “Jadi kau ya Bro yang kemarin jadi biang keladi nyorakin-nyorakin peserta, padahal gak boleh loh,” kataku. Dia cuma ketawa nyengir aja.

Ya, memang harusnya sih gak boleh ada supporter di arena penyisihan kecuali udah masuk semifinal barulah satu batalion pun bisa diluncurkan untuk jadi tim hore.

Ketika berhadapan dengan UMA, aku merasa senang banget karena topiknya adalah tentang sepakbola. Waduh, cowok banget. UMA waktu itu delegasinya dua perempuan dan satu cowok. Kami bertiga cowok. Jadi di atas kertas, dari penguasaan topik harusnya kami menang.


Mosi kami di pertandingan itu.


Tapi nasib berkata lain.

Kami kalah, Bro lawan UMA.

Dan di situ langkah kami ke babak selanjutnya berhenti.

Ya gapapa sih. Meskipun kita udah sampai ke tahap ini aja sebenarnya udah hebat. Kan keren tuh headline-nya. “Tim debat UDA dihentikan juara bertahan UMA” wuiiihh.

Nah, di pertandingan berikutnya, kami udah malas nonton. Haha.

Jadi kami nongkrong aja di resto, di kolam renang, PDKT sama mahasiswi di sana, hahay dan lain-lain.




PDKT dulu, guys. Haha. 


Bahkan waktu kalah itu pun aku sempat kesal sama rekan se-tim ku. Asli aku kesal banget bisa dikalahkan di babak 16 besar. 

Gapapa kalau topiknya sulit, ini tentang sepakbola. Kan bikin gregetan. Jiwa kelaki-lakianku langsung luntur seketika ketika dikalahkan debat sama wanita soal sepakbola. Huffttt....

Tapi sepertinya di KDMI memang ada tradisi, bagi tim yang kalah untuk berkumpul dan saling menghibur diri satu sama lain. Haha. Jadi, yang lalu sudah berlalu. Semua berbaur jadi satu dan kembali tertawa.

Sebelum beranjak pulang, kami berfoto dulu untuk jadi laporan ke universitas nantinya. 



Dan sekedar informasi, pemenang debat KDMI 2019 adalah USU (Juara 1) dan UMSU (Runner Up).

Mereka bertanding di podium terbuka di acara final yang harinya ya samaan dengan hari kami dikalahkan UMA. Dan itu disaksikan beramai-ramai oleh setiap delegasi.

Jadi kami bisa saksikan gimana sih mereka yang katanya juara itu.

Ya, namanya juga kompetisi ada yang menang dan ada yang kalah. Itu lumrah.

Selamat sekali lagi buat tim yang menang, dan buat yang kalah anggap aja ini sebagai pengalaman yang memotivasi ke depannya.

Sepulang dari event itu, aku nyeletuk ke SS, “Momen ini gak bakal terlupakan.”

Dan di akhir acara, ya kita dikasih uang saku dong sama LLDIKTI plus sertifikatnya. Nominalnya kalau gak salah waktu itu Rp.600rb per tim. Sekitaran itu deh. Aku agak lupa. Karena pulang dari sana, uangnya kami pakai buat makan-makan lagi dan buat kata-kata penutup untuk membubarkan tim. Haha.




Laporan kita ke kampus dibuat dalam sebuah dokumen dan disatukan dalam satu map cokelat. Si SS yang ngerjain semuanya. Kami sempat mikir dan berharap bisa dikasih uang saku juga kemarin dari kampus dan ternyata...

Ga ada. 

Haha. Oooh, dasar mahasiswa.

Untuk KDMI 2020 sih aku gak tau bakalan ikut juga atau enggak. Tapi kalau diajak ya aku siap-siap aja. Karena kan aku udah semester akhir, jadi semoga bisa jadi pengalaman terakhir yang mengesankan gitu. Haha. 

Cuma kalau pun ga ikut, ya gapapa. Tahun ini juga sangat mengesankan bahkan di luar ekspetasiku.

Nah, ini pesanku buat kalian mahasiswa.

Buat kamu yang masih mahasiswa, jangan pernah bengong aja. Coba tuh ikutin event di kampus dan LLDIKTI wilayah kalian masing-masing. Ada banyak. Pokoknya kalau jadi mahasiswa itu harus haus akan event dan ilmu. Dan saranku yang harus kamu denger nih, tolong punya fokus di satu bidang.

Jangan borong semua juga. Karena lebih baik kamu fokus di satu hal dan menjadi expert di sana daripada menguasai banyak hal tapi suam-suam kuku dan tidak menjadi bintangnya di bidang itu. 

Coba cari satu fokus keahlianmu.

Mungkin itu dulu deh. Tulisan ini jadi kepanjangan.

Sampai jumpa di event lainnya.   

  • Share:

You Might Also Like

1 Comments