My Birthday - Sebuah Refleksi Singkat

By Andre Demofa - Agustus 21, 2019


Setiap orang akan mengalami yang namanya penuaan. Dan ya, kamu, aku dan kita semua sedang dalam proses menuju ke sana. Setiap detik yang kita torehkan sekarang, setiap detik yang berlalu menandakan betapa kita semakin dekat dengan menua itu sendiri.

Aku tidak mengatakan kematian. Karena kematian tidak hanya mengintai mereka yang sudah renta, namun juga bagi mereka yang baru lahir dari rahim ibunya.  

Jadi, syukurilah setiap detiknya dalam hidup, karena hidup tidak akan menjawab kita kembali jika Tuhan sudah putuskan untuk memanggil kita.

Umurku sekarang sudah menginjak 22 tahun.

Kalau kata orang tuaku sih, itu umur dimana orang-orang sudah bisa kawin dan punya anak. Haha.

Rasanya seperti baru kemarin aku SMA.  Uhukk.

Tapi sekarang sudah kepala dua saja, aku jadi sedih betapa banyak hal yang belum aku lakukan sebelumnya. 

Duh, kok aku jadi melow gini.

Usia 22 tahun adalah suatu peringatan dari Tuhan bahwa masa muda ku semakin berkurang. Aku harus cepat bergerak. Masih banyak tantangan yang harus dijawab, dan petualangan yang harus dimulai.

Rasanya mainku masih belum jauh.

Kadang aku iri lihat orang-orang di usia 22 tahun yang sudah bisa mendirikan perusahaan sendiri, sudah bisa jalan-jalan keliling dunia, sudah bisa jadi seorang bintang pop, sudah bisa menjadi motivator kondang, sudah bisa jadi inspirasi dan kesaksian hidup bagi banyak orang.

Sementara aku? Siapa aku?

Aku belum bisa apa-apa.

Memang sih, kalau aku memandang ke atas rasanya jauh banget. Rasanya aku tuh seperti setitik pasir di suatu pantai yang bermil-mil garisnya. Tapi jika aku memandang ke diriku sendiri, bahkan ke waktu-waktu yang lewat, aku bersyukur sampai detik ini aku sudah melakukan langkah-langkah kecil yang setidaknya bisa menginspirasi sedikit orang.

Aku bersyukur masih ada orang yang berkata, “Aku mau sepertimu, Ndre.”

Aku masih bersyukur ada orang yang berkata, “Kayak mana caranya bisa kayakmu, Ndre?”

Aku bersyukur masih ada yang terinspirasi dari kisahku.

Tapi yang mau aku katakan adalah bahwa setiap orang punya jalan hidup yang berbeda-beda. Dan setiap orang juga punya prosesnya masing-masing.

Jangan pernah menyamakan prosesmu dengan orang lain, atau justru membenci prosesmu, jangan pernah membenci dirimu sendiri karena prosesmu kadang lebih lambat dari orang lain, atau bahkan sangat lambat.

Karena Tuhan akan membuat kita semuanya menjadi kupu-kupu yang indah pada waktunya.

Waktu Tuhan adalah waktu yang terbaik.

Mungkin seorang Mark Zuckerberg bisa membangun perusahaan sekelas Facebook di usia 19 tahun, mungkin Ahmad Dhani memulai bandnya Dewa 19 di usia 19 tahun, tapi masih ada Jeff Bezos pendiri Amazon yang baru memulai startupnya itu di usia 31 tahun dan kini bahkan lebih besar dari Facebook, atau Morgan Freeman yang akhirnya menjadi aktor kondang di Hollywood di usianya ke-50 tahun dan kini bahkan bisa lebih kaya dari aktor-aktor muda manapun karena jam terbangnya yang sangat tinggi.

Jadi sukses itu tak bicara soal umur.

Jangan bandingkan prosesmu dengan proses mereka. 

Mungkin mereka menemukan goal financial-nya di usia 19 tahun, di 17 tahun, atau bahkan masih anak-anak, sedangkan kamu yang sudah kepala dua belum juga berhasil mandiri secara finansial. 

Tapi kamu mungkin memiliki kelebihan lain yang mereka tidak miliki. Seperti keluarga yang bahagia, kesehatan, atau pun karunia lain yang mungkin bagimu tidak terlihat, tapi itu adalah berkat yang berbeda bagi mereka di sudut dunia lain yang sudah mencapai kebebasan finansial di usia muda. 

Ini sebuah refleksi yang berlaku  juga untukku.

Aku tidak tahu kapan bisa membuat karyaku populer, entah itu novel musikal atau blog, atau karya-karyaku lainnya. Aku bahkan tidak bisa menebak karya mana yang akan laris lebih dulu.

Tapi aku tidak khawatir.

Aku akan mencoba melakukan yang terbaik, sebisa ku.

Karena semua orang punya prosesnya sendiri-sendiri. 

Lebih baik gagal dalam usaha keras, daripada gagal dalam pelarian yang tak pantas.

Dan aku ga mau memandang kiri kanan atau depan belakang.

Proses ku adalah prosesku, dan aku adalah aku, bukan mereka.

Selama tujuan kita sama, tidak peduli di usia berapa kita mencapainya, selama kaki ini kelak menginjak garis finish, itu sudah cukup.

Karena Tuhan juga bukan bicara tentang kelimpahan, tentang sisa, atau tentang ketumpahan berkat, Ia hanya berkata, “Berilah pada kami hari ini makanan kami yang SECUKUPNYA’.

Secukupnya. Ya, tak kurang, tak lebih. 

Jadi, alangkah baiknya jika proses akan membawaku pada situasi yang secukupnya. Yang pas. Yang tepat waktu. Tidak terlalu cepat, dan tidak terlalu lama.

Dan aku berharap kamu pun begitu.


Penutup

Semoga di usia yang sekarang aku bisa melakukan sesuatu yang lebih baik lagi.

Dan terkhusus buat keluarga, sahabat, dan kalian semua, terima kasih telah memberiku momen terbaik di hidupku.

Ya, terima kasih.

Dan kepadamu wahai blog ku tercinta, maafkan aku karena sudah sering menelantarkanmu sampai dirmu berdebu dalam kekosongan seperti sekarang.

Semoga kelak aku bisa menebusnya. Hehe.

I love my life.  



  

  • Share:

You Might Also Like

0 Comments