Edukasi Literasi Digital yang Futuristik Pada Anak ala Generasi Pos Millenial

By Andre Demofa - September 30, 2019


Edukasi literasi digital adalah edukasi literal yang lebih spesifik pada pemanfaatan teknologi digital untuk anak dalam ruang lingkup kelurga. Literasi digital harus menjadi kurikulum sadar dari sebuah literasi keluarga, yang dimulai dari pemanfaatan gawai pada anak.

Sebagai generasi pos millennial, penulis menghabiskan banyak waktu berselancar di dunia internet, mendengar, membaca refrensi, memperbarui informasi dan menemukan banyak poin-poin strategis untuk menjadi masukan bagi Ayah dan Ibu sekalian tentang batasan-batasan apa saja yang mesti diperhatikan dalam independensi anak memainkan gawainya.

Penulis maklum jika masih ada kebingungan orang tua dalam menerapkan standart apa saja dalam kontrol penggunaan gawai pada anak, sehingga penulis merangkumnya untuk Ayah dan Ibu sekalian sebagai bagian dari edukasi literasi digital yang penulis harap mampu membuka cakrawala berpikir dan sebagai masukan tentang apa saja yang dapat kita lakukan terhadap ‘teknologi’ secara kritis.  
   
Langkah-langkah ini praktis digunakan, dan semoga bisa bermanfaat dalam membangun karakter anak yang digitalis namun cakap secara logis dan bermoral secara agamis.    

Berikut 15 poin pentingnya yang penulis rangkum secara teknis:

1. Perhatikan Penggunaan Bahasa di Media Sosial  

Nah, semua pasti pernah muda. Setiap generasi pasti pernah punya bahasa-bahasa prokem, bahasa pergaulan, singkatan-singkatan, dan lain-lain yang berganti seiring tren. Adalah peran orang tua dalam mengkonfirmasi kelak itu baik atau tidak untuk anak. Orang tua harus melakukan literasi digital pada anak tentang hal ini. Jangan sampai anak mengucapkan apa yang ia tidak tau. Kadang anak bisa mengakses itu lewat media sosial seperti Instagram dan Facebook.

Ucapan seperti ‘Negara +62’, ‘Santuy’, ‘Bodoamat’, ‘Burik’, ‘Pelakor’, dan bahasa lain yang konotasinya terkesan kasar tentu akan sangat tidak elok jika diucapkan anak-anak. Untuk itu peran orang tua untuk memproteksi sang anak dari istilah-istilah ini, dan mulai mengedukasi jika anak mulai ikut-ikutan mengucapkannya.

2. Jangan Berikan Akses Membuat Akun Media Sosial

Adalah hal yang salah jika memberikan anak izin membuat akun media sosial di usianya yang masih kecil. Bahkan raksasa media sosial seperti Facebook dan Instagam membuat batasan bahwa hanya anak umur 13 tahun ke atas yang  dapat memakai platform asal Amerika Serikat tersebut.
Tentu ada alasan dari aturan pembatasan umur. Salah satu bahayanya jika sang anak melihat sesuatu yang tak pantas ia lihat, berkenalan dengan orang yang punya niat jahat, sampai pengaruh idola yang salah.

Jauh sebelum masa media sosial ada acara ‘Smack Down’ di tayangan televisi yang membuat banyak anak-anak saat itu menirunya dan korban jiwa pun berjatuhan karena tidak ada edukasi dari orang tua tentang itu. Televisi masih memiliki filter, namun media sosial hampir tidak dibatasi filter, sehingga anak-anak bisa mengakses seluruh dunia dari sana. Apalagi perkembangan saluran video di Facebook Page dan IGTV yang kini tak terbendung, tentu itu dikhawatirkan mempengaruhi anak melakukan pilihan-pilihan yang salah. Maka dari itu, pencegahan jauh lebih baik. Sebelum anak tumbuh dan  berpikir lebih logis jangan berikan akses ke media sosial.

Kalaupun sang anak mengetahui beberapa hal sekilas, berikan edukasi literasi tentang apa yang ia dengar dan saksikan. Orang tua harus sangat kooperatif, karena kesan eksplanasi orang tua akan mempengaruhi anak dalam merespon. Di sinilah pentingnya komunikasi.

Orang tua harus melihat tanda-tanda perilaku dan gerak-geriknya lalu membuka ruang diskusi entah itu di meja makan, ruang keluarga sambil menonton, pusat rekreasi dan lainnya. Bangun suasana cair ketika berdialog dengan anak, dan temukan sesuatu yang menganggunya atau mendorong rasa penasarannya. Jika itu baik, berikan edukasi, jika itu terkesan buruk, berikan edukasi lanjutan.  

3. Konversi Youtube ke Youtube Kids

Tentu bagi orang Indonesia Youtube bukan hal baru. Malahan Youtube adalah saluran video yang paling banyak ditonton di Indonesia bahkan dunia setelah televisi. Maka, Youtube juga harus menjadi perhatian orang tua karena konten Youtube sangat luas cakupannya. Orang tua perlu melakukan limitasi dengan mengkonversi Youtube yang biasa dipakai ke Youtube Kids.

Apa itu Youtube Kids?

Youtube Kids adalah saluran video yang sengaja dikhususkan untuk siaran yang ramah pada anak. Jadi orang tua tak perlu risau ada konten dewasa di sana. Segera unduh Youtube Kids di gawai Ayah Bunda, sebagai alternatif dari tayangan televisi yang semakin tidak ramah bagi anak.  

Tayangan yang diharapkan bagi anak tentu yang jauh dari video kekerasan, dunia politik, perdebatan agama, seksualitas dan lainnya yang berbahaya bagi pola pikir anak. Melainkan video yang ramah anak sewajarnya memberikan nilai-nilai amanat untuk cinta terhadap orang tua, sesama, lingkungan dan negaranya.

Nah, disarankan juga bagi orang tua tidak menganjurkan anak mengakses Youtube secara mandiri di Warnet (Warung Internet). Sudah menjadi rahasia umum, banyak anak-anak yang rusak pergaulannya setelah lama bermain di warnet. Hal itu dikarenakan, operator warnet sering tidak mau tau (acuh) pada apa yang dibuka oleh pelanggannya termasuk anak-anak.

Penulis sendiri pernah melihat sekumpulan anak menyaksikan tayangan kekerasn eksekusi yang dilakukan teroris ISIS di saluran Youtube dan tentunya tanpa sensor. Mereka melihat itu sambil tertawa-tawa seolah menyaksikan hal yang wajar.

Ini juga jadi catatan bagi pemerintah untuk mengawasi warnet yang ada. Bila perlu anak-anak di bawah umur tidak diperbolehkan menggunakan fasilitas warnet tanpa bimbingan orang tua atau operator yang bersertifikasi. Bagi penulis ini sangat urgensi karena setiap jam, selalu ada anak yang terpapar radikalisme karena tayangan yang ia tonton di Youtube via Warung Internet.
  
4. Jangan Biarkan Anak Mengakses Beranda Google News

Tidak berlebihan jika Google disebut sebagai ‘Mbah’ karena memang Google menguasai hampir semua informasi di dunia kecuali Deep Web.

Nah, Google News adalah produk dari Google yang menjadi agregator dari berita-berita viral yang ada di internet.  Google News dapat kita akses pada beranda Google atau peramban Google Chrome kita.

Satu hal yang penulis tekankan di sini adalah berita viral di Google News sering bahkan sama sekali tidak mendidik. Berita utama (tajuk) umumnya hanyalah tentang tindakan asusila, berita gosip artis, politik, dan lain-lain yang menggiring opini banyak orang ke arah yang negatif.

Maka, penulis menganjurkan kepada orang tua, apalagi jika memiliki anak yang sangat hobi membaca, jangan berikan akses kepada Google News. Alangkah lebih baik, gairah membaca itu diekspresikan pada buku bacaan, atau E-book ramah anak yang tentunya juga banyak tersedia di Google. Salah satunya bisa diakses lewat Google Play Book.

Namun jika sang anak terlanjur membaca, pastikan sang anak mendapatkan edukasi terhadap bacaan apa yang ia konsumsi. 

Bila perlu, beri kunci (password) untuk membuka beranda Google News karena umumnya bagi pengguna Android, aplikasi Google News dan Chrome adalah bawaan yang tidak dapat dihapus. 
  

5. Perhatikan Aplikasi Agregator Berita Yang Ada di Handphone Orang Tua

Google News hanyalah satu dari sekian banyak agregator berita. Beberapa aplikasi serupa seperti Kurio, Baca, Babe, sampai UC News kadang beisi berita viral yang kurang lebih sama dengan Google News bahkan kadang lebih ekstrim dan dilengkapi dengan multimedia lain seperti video.

Maka, jika Ayah Bunda memang harus memiliki situs agregator berita itu, cobalah untuk menguncinya. Karena anak punya rasa penasaran yang tinggi. Lebih baik mencegah daripada mengobati.

Sekali lagi, jika anak bertanya tentang apa yang ia baca, atau Ayah Bunda menyadari dari fitur historisnya, jangan ragu untuk mendiskusikan itu pada anak sekaligus menyelipkan edukasi literasi kepadanya.


6. Manfaatkan Video Edukatif Untuk Menjawab Pertanyaan Anak

Edukasi literasi digital tak melulu soal mencegah dan mengobati namun juga bisa membangun wawasan anak. Pada satu kesempatan jika anak bertanya, “Mengapa bumi itu bulat, Pa?” atau “Kerja astronot di luar angkasa itu apa, Mi?”  maka Ayah Bunda bisa memberikan penjelasan alternatif lewat video.

Ada banyak video edukatif di internet seperti Youtube yang bisa Ayah Bunda unduh dan konsumsi secara pribadi. Cara ini akan memberi perbedaan dan tidak membosankan dibanding menjelaskan panjang lebar dengan naratif. Tentu, video-video itu juga bisa mengingatkan kepada anak jika mereka berbuat bandel di satu waktu. “Nih, Papa ada video, kalau kamu jadi anak baik bisa dapat ini loh...” dan itu akan lebih berkesan pada anak.

Bagian ini juga sangat tepat diterapkan di dunia pendikan untuk menyegarkan pikiran anak-anak setelah jenuh belajar seharian atau agar membuat mereka lebih betah belajar di kelas. 

7. Perkenalkan Podcast Sedini Mungkin Pada Anak.

Media seperti podcast masih terasa asing bagi beberapa orang. Podcast adalah media audio yang mana cara kerjanya seperti radio. Hanya saja podcast berisi rekaman suara, entah itu berupa percakapan, sebuah drama, penceritaan suatu kisah, kampanye sosial dan lain-lain dengan medium suara yang umumnya berformat MP3 dan dapat diunduh secara gratis maupun berbayar.

Podcast semakin berkembang dan dapat diakses di Spotify, Youtube, Anchor, Soundcloud, dan media-media lain. Ke depannya, podcast akan menjadi media populer, dan Ayah Bunda dapat memanfaatkan media ini untuk memberikan edukasi kepada anak.   

Salah satu konten yang relevan adalah podcast dongeng.

Umumnya, dongeng selama ini diakses lewat video sehingga orang tua yang khawatir mata anaknya menjadi rabun, dapat menggunakan media ini.

Keuntungannya, karena berupa suara, podcast bisa didengar untuk menemani anak tidur, bisa juga menjadi hiburan bagi anak ketika ia sedang belajar.

Ke depannya, penulis yakin podcast anak akan berkembang seperti halnya saluran video Youtube Kids.   

Podcast juga dapat dimanfaatkan dalam dunia pendidikan. Edukasi literasi digital melalui podcast sangat relevan dan mudah, layaknya cara kerja di lab bahasa. Anak-anak hanya perlu mendengarkan apa yang disampaikan sang caster (istilah untuk penyiar di podcast), lalu menuliskannya atau mengingatnya.

Karena berdasarkan jurnal penelitian yang pernah diunggah Anselmus Krismantio (UNTAN, 2014), anak cenderung lebih mudah menyimak lewat audio dibanding mendengar guru berbicara dalam pembelajaran di kelas.   

8. Koleksi Lagu Yang Cocok Untuk Anak

Edukasi literasi digital lewat lagu memiliki catatan tersendiri.

Industri lagu anak di masa sekarang memang masih mengalami depresi. Namun bukan berarti anak tidak mendapatkan haknya. Ayah Bunda harus memperhatikan lagu-lagu yang didengar dan sering dinyanyikan oleh anak. Beberapa lagu yang viral di media kita akhir-akhir ini sering kali sangat jauh dari kesan ramah anak.

Lagu yang pernah viral dan menghebohkan seperti ‘Lelaki Kerdus’ bahkan ‘Anjing Makan Sayur Kol’ jadi catatan kita bersama tentang efek lagu-lagu itu terhadap psikologis anak.

Orang tua diwajibkan memberikan edukasi pada lirik-lirik dalam lagu seperti itu, lagu-lagu yang tidak memberikan pesan moral atau nilai etika dan justru membuat anak-anak menghapal kalimat yang kasar seperti umpatan, sarkasme, dan lain-lain.

Orang tua wajib hadir memberikan teguran bahkan jika diperlukan, seumpama anak benar-benar menyukai lagu ‘tidak ramah anak’ tersebut. 

Untuk memenuhi permintaan lagu yang ramah bagi anak, maka beberapa rekomendasi lagu ada di situs nya Direktorat Pembinaan Keluarga yang dapat Ayah Bunda akses di sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id

Ayah Bunda juga masih dapat mengunduh lagu-lagu anak dari situs streaming musik. Ada yang gratis dan berbayar. Tentunya yang gratis juga tak kalah kualitas dan kuantitasnya.

Tentunya Ayah Bunda juga disarankan memutarkan lagu dengan wawasan kebangsaan kepada anak. 

Lagu-lagu umum yang bersifat nasionalis, sampai lagu-lagu daerah yang menggungah rasa cinta tanah air. Lagu daerah yang ramah terhadap anak, salah satunya dapat disimak melalui soundcloud dengan kata kunci pencarian ‘Gita Bahana Nusantara’ dimana Gita Bahana Nusantara merupakan paduan suara yang menyanyikan lagu daerah dalam pentas nasional.

Nah, untuk menstimulus daya logis anak sekaligus memberikan relaksasi, maka Ayah Bunda juga bisa mengunduh lagu-lagu instrumental .   

Kata kunci seperti ‘jazz instrumental’ , ‘accoustic instrumental’ , ‘Piano relaxation’, dapat memberikan sensasi musik yang berbeda pada anak sehingga sang anak jauh lebih rileks, tenang, dan menikmati momen santainya, atau dapat menemaninya di saat sedang belajar.


9. Kenalkan Anak Dengan Google Map.

Google Map bukan hanya menjadi GPS untuk mengarahkan jalan bagi pengemudi, namun fungsinya jauh lebih luas yakni dapat mengetahui historis kemana saja anak pergi seharian.

Hal ini jika orang tua mengizinkan anak membawa gawainya ke sekolah atau bermain. Dengan menggunakan satu akun, Ayah Bunda dapat mengetahui lokasi sang anak secara update, selain itu setelah puas seharian bermain di sekolah dan di luar rumah, Ayah Bunda dapat mengetahui historis kemana saja tempat perjalanan anak selama 24 jam terakhir dan datanya pasti valid. Itu akan menjadi refrensi untuk digunakan orang tua sebagai evaluasi pada aktivitas anak di luar rumah.  

Ini juga menjadi edukasi literasi digital dari Ayah Bunda kepada anak untuk memanfaatkan teknologi jika suatu saat tersesat atau ingin menghapal lokasi-lokasi tertentu, maka sang anak dapat membaca pada Google Map sehingga kemampuan membaca denah dan geografisnya jauh lebih baik.

10. Kenalkan Internet Untuk Eksplorasi Hobi Si Kecil

Hampir setiap tutorial yang Ayah Bunda butuhkan untuk pengembangan bakat dan minat anak saat ini ada di internet. Maka, pemanfaatan internet tidak boleh berhenti pada hiburan semata, melainkan juga bagaimana mengeksplorasi talenta anak yang tak terbatas pada akademis saja.

Di masa sekarang, manajemen talenta anak yang baik oleh orang tua menghasilkan karya-karya yang menakjubkan. Seperti munculnya youtuber-youtuber cilik seperti Zara Cute, Hana Callista, dan lain-lain.

Maka ketika sang anak berminat bermain piano, belajar bermain gitar, belajar fashion, memasak,  belajar menggambar, dan minat-minat lainnya, bisa mengembangkannya lewat tutorial yang ada di internet

Dan setiap aktivitas itu harus berdasarkan bimbingan orang tua.

Contohnya ketika penulis masih kecil, penulis sangat hobi menulis dan ingin mencari event-event kepenulisan. Namun saat itu teknologi digital belum sepesat sekarang, sehingga dulu penulis berlanggaan  majalah seperti Bobo, Mombi, dan membeli koran hari Minggu berisi rubrik anak demi mengejar informasi tentang dunia literasi.

Edukasi literasi digital pada anak untuk mengeksplorasi talentanya memang tidak terbatas pada pengembangan saja, melainkan pencarian informasi tentang event-event yang sesuai minatnya serta komunitas bakat yang dapat sang anak masuki untuk lebih bertumbuh dan berinteraksi lebih luas dengan banyak orang.


11. Kontrol Permainan Mobile Game Pada Anak

Literasi digital pada anak tentang dunia mobile games juga harus diperhatikan Ayah Bunda, loh. Terlebih dalam hal komunikasi jika game yang dimainkan bersifat online.

Tak bisa dipungkiri industri game saat ini sedang bertumbuh sangat pesat. Bahkan Youtuber paling kondang se-dunia adalah youtuber yang punya profesi sebagai caster gamers.

Apa itu caster gamers?

Mereka adalah orang-orang yang mengkomentari jalannya permainan dalam suatu game. Hampir seperti komentator dalam pertandingan sepakbola, namun umumnya caster mengkomentari jalannya permainan ia sendiri dan ini sangat populer di Indonesia.

Banyak gamers yang hobi menonton permainan gamers lain, apalagi anak-anak.

Anak-anak tersebut gampang sekali kagum dengan menonton permainan game orang lain yang sang anak tidak mampu ikuti.

Namun sering kali, para caster gamers ini memiliki komunikasi yang tidak ramah untuk anak, bahkan cenderung berkata kasar dengan nada tinggi.

Bagi anak remaja dan pemuda itu bisa jadi diterima sebagai adrenalin dalam permainan mobile games, namun bagi anak itu dapat diartikan berbeda, sehingga mereka akan terbawa, mengikuti kalimat itu, dan menjadi lebih temperamental/emosional.

Orang tua harus hadir dalam literasi digital di dunia mobile games inl. Anak dianjurkan tidak menonton tayangan caster seperti itu, bahkan tidak memainkan game yang sarat dengan kekerasan dan aksi-aksi berbahaya.

Namun kenyataannya, banyak sekali anak-anak yang sudah terjerat dalam mobile games yang demikian sehingga ada istilah yang sangat populer di kalangan gamers yakni ‘bocah’ artinya anak kecil yang main game bersama orang dewasa dan sering mengumpat-umpat lawan bermainnya dan ini jadi perhatian kita bersama.

Maka dari itu, ini catatan bagi Ayah Bunda untuk tidak membiarkan anak larut dalam mobile game yang salah.  

Dan ini juga peluang loh bagi Ayah Bunda, jika sang anak memang sangat hobi bermain game, maka bisa diarahkan untuk menjadi caster game anak baik itu di Youtube maupun media lain, karena hal ini masih langka di Indonesia.


12. Dampingi Penggunaan Google Searh

Ketika penulis masih kecil, begitu ada pertanyaan sulit maka penulis akan bertanya ke orang tua, ke kakak kelas, atau ke tetangga.

Namun sekarang ada fenomena dimana anak-anak dengan gawainya dan koneksi internet bisa bertanya dengan mudahnya ke Google melalui pencarian di Google Search.

Apalagi berita televisi saat ini sangat tidak ramah bagi anak sehingga anak cenderung juga ingin tau apa yang sebenarnya sedang dibahas oleh orang tua dan masyarakat banyak. Entah itu tentang politik, kasus-kasus asusila, dan lain-lain yang membuat anak penasaran dan bereksperimen di Google Search.

Sebaliknya, orang tua rajin memeriksa historis Google Searchnya untuk melihat informasi apa saja yang telah anak akses dan mengevaluasi langkah berikutnya jika ditemukan sang anak telah mengakses informasi yang tidak seharusnya ia baca. 

13. Berikan Pemahaman Tentang Fashion Influencer

Beberapa waktu lalu, muncul konten di Youtube yang sangat trend membahas tentang outfit anak zaman now.

Nah, outfit itu sendiri adalah gaya berpakaian (fashion) yang dilakukan sekelompok anak-anak muda yang populer di media sosial dan ini banyak ditiru bahkan oleh anak-anak kecil.

Biasanya anak akan merasa kagum dan merasa termotivasi ingin menjadi seperti idolanya, sehingga ia memperbarui penampilannya sesuai idolanya. Tak jarang, banyak anak yang meminta uang pada orang tuanya untuk mewujudkan hasrat itu.

Maka orang tua harus memberikan pendekatan yang serius tentang hal ini. Memberikan literasi digital bahwa keren itu tak selamanya mahal, bahwa keren itu tidak harus berdasarkan penampilan fisik, bahwa keren itu adalah jika mampu menolong sesama tanpa pamrih, keren itu berpakaian sopan dan bersih. Orang tua harus memberikan edukasi literasi digital tentang ini.

Apalagi jika di gawai Ayah Bunda ada aplikasi belanja online, maka lebih baik dihindari untuk diakses ke anak, karena anak bisa semakin larut dan merasa mendapat dukungan mengembangkan sensasinya itu.  

Namun jika orang tua merasa ada potensi dari sang anak untuk menjadi model, maka hal itu sah-sah saja dilakukan. Cuma harus tetap berdasarkan bimbingan Ayah Bunda.

14. Dampingi Anak Membaca Komik Digital

Beberapa media sosial di Indonesia kini kebanjiran karya creator komik. Contohnya seperti Line Webtoon, Bulu Manga, MangaToon, bahkan juga ramai beberapa creator komik di Instagram.  

Tanpa pengawasan orang tua, komik yang dibaca anak justru melemahkan psikologisnya.  

Ketika penulis kecil, penulis membaca komik dari hadiah jajanan di kantin ataupun membeli dari Abang-abang yang berjualan mainan dengan sepedanya. Dulu tidak ada komik digital yang dapat diakses secara gratis dan real time. Maka di era teknologi digital sekarang, ini adalah peluang yang harus dimanfaatkan orang tua sekaligus diawasi dengan ketat.

Sisi positifnya komik digital yang relevan dapat memberikan hiburan dan edukasi tersendiri pada anak, contohnya komik tokoh pahlawan super seperti Marvel atau boleh yang asli milik Indonesia dari Bumi Langit Universe yakni komik adaptasi Gundala yang bakal dirilis ke publik.

15. Edukasi Anak Tentang Keuangan Digital

Memberikan pemahaman tentang finansial pada anak sejak dini adalah bentuk edukasi literasi digital yang sangat positif. Tanamkan literasi pada anak bahwa menabung adalah kegiatan yang menyenangkan dan memberi keuntungan. Anak juga harus ditekankan slogan ‘Hemat Pangkal Kaya’ sehingga anak juga mulai belajar mengelola uang jajannya.

Apalagi di era digital saat ini, anak akan sangat mudah tergoda pada suatu barang yang ia lihat, atau pada beberapa kasus menghabiskan uangnya untuk membeli voucher games.

Ini juga masa yang sangat tepat mengajarkan anak dunia perbankan digital yang kini telah berkembang ke arah fintech dan payment mode menggunakan gawai sehingga anak tidak lagi canggung ke depannya.

Sehingga ini juga masukan dan tantangan bagi pemerintah untuk memberikan format edukasi fintech yang ramah  terhadap anak dalam waktu dekat. 

Penutup

Yap, ke-15 poin tersebut akan memperkuat literasi keluarga Ayah Bunda, karena mau tidak mau demam digital sedang kita hadapi. Ayah Bunda harus bersahabat dengan dunia digital karena itu juga merupakan hak anak-anak kita, tinggal bagaimana Ayah Bunda mengelolanya untuk pertumbuhan karakter sang anak.  

Abang/Kakak juga harus mengajarkannya ini pada adiknya yang masih kecil, apalagi Abang/Kakak yang masuk dalam barisan generasi millennial yang tentunya tahu kurang lebihnya tentang tips-tips di atas.

Semoga tips praktis di atas dapat membantu dalam mewujudkan literasi keluarga, mewujudkan gerakan literasi nasional, dan pada akhirnya mempersiapkan anak-anak kita menjadi generasi yang tangguh digital.

Salam, Sahabat Keluarga.


  • Share:

You Might Also Like

0 Comments