Aku dan Lagu Nostress - Pegang Tanganku

By Andre Demofa - Januari 21, 2020


Lagu ini pertama kali aku temukan di flashdisk teman kampusku. Waktu itu kebetulan kita satu kelompok untuk tugas membuat makalah. Ya sebagai seorang teman yang baik, aku iseng dong memeriksa isi flashdisknya. Siapa tau ada....

Haha.

Intinya, aku menemukan hal lain. Aku menemukan lagu dengan nama band ‘Nostress’.

Waktu itu Oktober 2016. Cuaca lagi mendung-mendungnya bahkan sering hujan di kotaku. Aku  dengerin lagu itu di saat suasana hatiku juga sedang mendung karena satu dua hal.

Kalau aku tidak salah ada tiga judul lagu Nostress di flashdisknya waktu itu. Tapi judul ‘Pegang Tanganku’ menjadi lagu yang pertama kali aku dengar dan aku ulang beberapa kali.

Rasanya teduh banget mendengarnya.

“Sederhanakan diri, di depan masih panjang. Karena hidup tak hanya senang dan indah. Indah dan senang. Senang dan indah. Indah dan senang....”

Aku seakan mendengar ada orang yang mengatakan itu padaku secara langsung. Apalagi ‘suara dua’ di lagu itu seakan menegaskan pesan itu berulang kali.

“Oi, Dre. Jangan senang-senang aja di pikiranmu...” kurang lebih itu yang ku dengar.

Ya, siapa sih yang ga mau hidupnya senang dan indah terus menerus? Siapa coba, angkat giginya?

Pasti semua orang ingin terus di fase itu.

Belakangan, sebelum mendengar lagu itu aku mengalami yang namanya depresi ringan. Ya, aku lagi banyak masalah sama pacar, dan ini bukan ribut-ribut biasa. Ributnya udah sampai bunyi meriam bambu, kali. Jadi dashyat banget sampai kedengaran tetangga. Haha.  

Di bulan itu juga aku masih gak nyangka bisa drop out dari kampusku yang lama (senang sih) dan saat ini mencoba membiasakan (baca: menerima) kampusku yang baru. Aku mencoba menerima diriku sendiri waktu itu.

Iye, iye. Ini cerita 2016. Jadi ga usah terlalu terbawa suasana. Ini udah lama juga. Santai saja. 

Ditambah sewaktu kita baru jadi mahasiswa baru, kawan-kawan lama hilang, dan mau tak mau kita harus cari kawan baru. Kebetulan aku dapat teman baru waktu itu. Kalau teman wanita yang akrab itu disebut teman gak sih?

Hmm, anggap aja dia calon gebetan. Iya calon.

Jadi aku tuh selalu cerita ke dia tentang kegelisahanku, tentang isi hatiku, apapun lah. Kami bisa ngobrol via telpon sampai jam 2 pagi. Rekor tertinggi ku nelpon itu masih dipegang dia. Yakni 4 jam. 

Bayangin, kalian nelpon 4 jam? Itu tenggorokan sampai disiram air enam gelas, kali makanya bisa ngomong ngalur kidul selama itu.

Lalu apa hubungannya dengan dia?

“Pegang tanganku, hentikan tawamu sejenak. Sudah terlalu banyak tuk senang, sudah saatnya merenung dan bersyukur...”

Ya, karena aku terlalu dekat dengannya. Aku selalu tertawa kalau di dekatnya. Aku jadi takut jatuh hati. Apalagi aku masih menjalin ‘status’ dengan seseorang yang di masa itu permasalahan kami lagi klimaks-klimaksnya . Jadi tensi ku sedang naik-naiknya. Aku gak bisa berpikir jernih.

Yang aku mau cuma bisa punya tempat untuk berlari dan melupakan masalahku. 

Tapi aku belajar dari lagu ini.

“Oh indahnya menjalani denganmu, nikmatnya bersamamu, tapi kita harus mulai mengerti, tapi kita harus mulai batasi...”

Aku harus mulai memikirkan ulang semuanya. Ga boleh terpancing atau larut dalam perasaan seperti ini. Ga boleh salah ambil keputusan. Jangan sampai seseorang, meskipun dia membuatmu sangat nyaman, meskipun bagimu sekarang dia adalah duniamu, lalu menjadi tempatmu satu-satunya sampai kamu melupakan yang lainnya.

Meskipun terdengar soft dan masalahmu hilang lenyap ketika mendengar suaranya, tetap saja masalah harus diselesaikan. Jangan jadikan siapapun itu, entah itu pacar atau gebetan mu sebagai dunia pararel dimana dia adalah tempatmu satu-satunya untuk bercerita.

Kadang, kamu berpikir bahwa dia selamanya begitu. Tapi dia tak begitu. Semakin kamu jadikan dia tempat satu-satunya, semakin jauh jalan mu untuk pulang.

Lagu itu benar-benar menegurku keras untuk mulai berpikir jernih. Aku tak boleh menggantungkan diriku dan perasaanku pada siapapun. Masalahku ya, masalahku. Aku harus selesaikan. Bercerita boleh, tapi jangan terlalu berlebihan.

Aku tak boleh larut dalam zona nyaman yang pada akhirnya membuatku kecanduan dan ketika dia tidak di sana, aku menjadi orang yang berbeda (baca: tak waras).  

Ah itu momen yang tak terlupakan.  

“Indah itu tak selalu ada, senang itu sementara. jika senang jangan terlalu, jika sedih jangan terlalu...”  

Itu adalah potongan liriknya yang membuatku tersadar, mungkin aku orangnya terlalu drama. Mungkin aku menganggap masalah ini terlalu besar, padahal semua orang juga bisa mengalaminya.

Aku harus mulai mengurangi efek drama itu, dan mulai merenungkan masalah yang ada dengan jernih. Jangan libatkan perasaan yang berlebihan, karena terkadang dia bisa mengguncangmu.    

Aku ingat, aku naik ke lantai 4 kampusku, sekedar membiarkan angin meniup wajahku. Dari ketinggian aku melihat gedung-gedung pencakar langit dan wajah kota dari sini sambil mendengar lagu Nostress - Pegang Tanganku. Aku benar-benar merenung di atas sana. Sendirian.

Aku ingin mencari jawabannya.

Dan pada akhirnya, aku tak perlu mencari karena jawaban itu datang sendirinya.

Aku putus dari pacar, dan dia, yang ku sebut dalam lagu ini drop out dari kampus hanya dua bulan setelahnya.

Memang, seorang laki-laki harus memecahkan masalahnya sendiri. Jangan biarkan drama menguasaimu. Drama cukup dalam tulisanmu saja. My friend, this is your real life.   

Terima kasih Nostress telah mengajarkan ini semua...
 



  • Share:

You Might Also Like

0 Comments