Aku dan Lagu Nostress - Tunda

By Andre Demofa - Januari 30, 2020



Nah, aku bakal bercerita tentang pengalaman dengan lagu yang satu ini. Masih bersama Nostress. Ya, band asal Bali yang sebelumnya pernah aku ulas di sini.

Band yang satu ini memang selalu tepat sasaran kalau menyentil dan memberikan kita nasehat berharga.

Judul lagu yang aku bahas kali ini adalah: Nostress - Tunda.

Ok. Bukan seperti musik folk pada umumnya, musik di lagu ini kesannya gak melow, malah justru 180 derajat perbedaannya dari lagu yang pernah dibawa Nostress sebelumnya. Lagu ‘Tunda’ ini  membuat kita terpingkal-pingkal tertawa dan nyeletuk ke diri sendiri, “Iya juga ya.”

Belum lagi pembawaan dalam lagu ini yang sangat countries ala lagu-lagu koboi orang Amerika Serikat. Jadi membuat pendengarnya merasa ingin sedikit bergoyang. Hanya saja karena lagunya adalah sebuah bentuk sindiran, kita akan lebih banyak melongo daripada bergoyang. Itu kalau kalian mengikuti liriknya.

Nostress memang juara kalau buat lagu bersifat tegur-menegur begini.

Berbeda dengan lagu lainnya juga, tempo lagu ini sangat cepat, dan Nostress sepertinya mengekspresikan dengan sangat total pesan dalam lagu ini. Baik dari liriknya, cara pembawaan musik, vokal dan backing vokalnya itu epic banget. Bahkan sampai ada suara harmonikanya. Duh, itu favoritku banget. 

“Tunda, tunda, tunda sampai kau menua, dan tunggu-tunggu-tunggu dulu...”  

Pesan lagu ini seperti bisa ditebak adalah: Jangan menunda waktu.

Jadi waktu itu, aku lagi nulis untuk sebuah event. Ya, aku mikir kan, ga usah nulis kerajinan deh sesuai jadwal. Karena berdasarkan pengalaman sendiri (bukan pengalaman orang lain), deadline kompetisi itu biasanya suka ngaret atau PJ nya biasanya suka memperpanjang deadline lombanya. 

Dan seperti kita tau, penyakit seorang penulis dari dulu sampai hari ini adalah suka sekali menunda waktu. Dan para PJ event tau benar lah tabiat ini. Maka event akhir-akhir ini terdengar ga masuk akal.

Misalnya deadline pengerjaan cuma dikasih 2 minggu. Padahal tingkat kerumitan membuat kontennya itu cukup tinggi. Sehingga ada pikiran di kepala ku (iya, bukan di kepala orang lain), kalau dia bikin deadllnenya dua minggu itu berarti dia mau mundurkan tanggalnya. Maksudnya supaya mereka yang mau ikut itu ga berleha-leha. Kalau dikasih satu bulan, entar ngerjainnya mepet atau pas H-1 sebelum penutupan event.

Nah, dengan memajukan deadline event, PJ berharap jiwa-jiwa penulis yang suka menunda waktu bisa sedikit dinetralkan. Hehe.

Tapi ya namanya juga sifat, mau dimajukan atau enggak, sama doang. Tetap juga menunda waktu.

Itu yang aku alamin beberapa kali. Mikirnya bakal diperpanjang, tapi eh akhirnya formulir pendaftaran dikunci dan lomba ditutup.

Nah, soal tunda menunda waktu aku mungkin juaranya.

Contohnya aja blog ini. Domain ini aku register dari pertengahan 2017, tapi baru kelihatan aktifnya akhir-akhir ini aja. Itu pun karena mau wisuda. Jadi mulai sibuk mengumpulkan portofolio. Hehe.

“Sekarang ku kerjakan yang harusnya bulan lalu, sorenya ku kerjakan yang harusnya minggu lalu, sial malamnya semua itu sudah berlalu, esok harinya ku mulai lagi dengan...Tunda, tunda, tunda!”

Kadang kalau mendengar potongan lirik ini aku senyum-senyum asem sendiri. Ada benarnya juga nih kawan.  

Kalau penundaan yang lebih ekstrem sih banyak banget. Boleh nyombong gak?

Bahkan ada pernah ku tunda sampai 6 tahunan. Maka lirik Nostress ini ngepas banget di hati 

“Gambar presidenku sudah terus berganti, tetap saja aku ulangi...”

Selo, ini bukan tentang menunda mengatakan perasaanku ke perempuan yang ku suka. Kalau aku untuk urusan yang begitu gercep (alias: gerak cepat). Haha.   

Intinya menunda waktu itu berbahaya loh kalau jadi kebiasaan. Itu bahkan bisa jadi sebuah lingkaran setan yang membuatmu menyesal di kemudian hari.

Menunda- Menyesal - Memutuskan bertobat- Menunda - Menyesal - Memutuskan bertobat - Menunda...(dan seterusnya).

Oleh karena itu, aku dan lagu Nostresss ini sangat cocok. Mungkin lagu ini adalah jodoh di telingaku, karena setiap kali aku mendengarnya dalam mode rebahan, aku bakal tersadarkan.

“Andre, kamu bukan golongan Squidward yang pernah berkata: Untuk melakukan hari ini apa yang bisa dilakukan besok...”

Fiuuh..


  • Share:

You Might Also Like

0 Comments