Lagu, Kita dan Sebuah Insepsi (Music Corner)

By Andre Demofa - Februari 13, 2020


Sebagai seorang yang hobi mendengarkan lagu, maka bukan hal yang asing lagi jika ada orang yang mengalami tawa, sedih, terharu, tersenyum, atau pun perasaannya bercampur aduk ketika mendengarkan sebuah lagu. Itulah magisnya sebuah lagu. Dapat memberi sugesti kepada pendengarnya.  
Contoh terdekat, buat kalian yang pernah punya pacar pasti punya lagu kenangan masing-masing, bukan?


Barangkali hanya kalian yang tahu, tapi pasti ketika mendengar lagu itu di suatu tempat kalian akan ingat satu sama lain.  

Pada awalnya lagu itu menyembuhkan. Lagu itu menemani bunga yang mekar di dalam dada. Lagu itu menjadi pemanis sebelum tidur. Lagu itu kalian putar saat sedang kangen-kangennya.

Tapi bayangkan kalau kalian putus?

Lagu itu memang sama, perasaan kalian pada lagu itulah yang berubah.

Lagu itu mulai jadi semacam bencana.  

Apa yang salah dengan lagu ini, kenapa kembali ku mengingatmu? Seperti aku bisa merasakan, getaran jantung dan langkah kakimu, kemana ini akan membawaku?”

Potongan lirik lagu Lapang Dada dari Sheila On 7 di atas sangat jelas menggambarkan betapa sebuah lagu adalah musuh besar bagi orang-orang yang ingin move on.

Ya, lagu bisa jadi semacam senjata yang mengingatkan kalian pada mantan (ehem mantan), membuat luka di hati semakin besar dan menambah beban pikiran. Apalagi dengan kecendrungan manusia yang sedang patah hati, suka dengan kesedihannya sendiri maka lagu itu akan lebih lagi menambah remah-remah kesedihanmu.

Bahkan anehnya, bukan mematikan lagu yang membuatnya sedih, banyak orang malah memutar lagu itu berulang kali sampai hidungnya memerah kempas-kempis karena terisak.

Memang nikmat rasanya menangisi orang yang kita sayang. Itu tandanya kita benar-benar menyimpan tentangnya di dalam hati.

Duh, selama ini ada gak ya yang menangisi aku seperti itu? Haha.

Faktanya, lagu adalah jenis insepsi yang sulit dipatahkan. 



Maka, beban paling sulit ketika move on bukan menghapus foto-foto lamanya, menghapus kontaknya, tidak lagi berinteraksi dengan teman-temannya yang bisa mengingatkan kalian lagi padanya, atau berusaha membuang semua barang pemberiannya.

Itu bisa kalian lakukan dalam satu hari.  

Justru beban paling berat adalah menghindari lagu yang pernah kalian dengarkan bersama, atau yang pernah kamu jadikan soundtrack dalam hubungan itu.

Apalagi kamu tidak bisa mengontrol lagu apa yang keluar dari radio, yang dinyanyikan supir angkot di angkotnya, atau dilantunkan teman ketika dia duduk denganmu di dalam kelas.

Bisa jadi, tanpa kalian sadari lagu nostalgia itu tiba-tiba dinyanyikan oleh orang lain dan akhirnya kalian galau sendiri.

Pernah suatu waktu ada teman yang curhat ke aku, waktu dia lagi duduk di kursi untuk dicukur di barber shop, tiba-tiba temannya bernyanyi lagu kenangannya dulu di kursi tunggu, dia yang mendengar langsung bereaksi secara tidak sengaja dan membuat pisau cukurnya mengenai wajahnya. 

Sakit sekali bukan?   

“Aku bisa untuk menjadi apa yang kau minta, untuk menjadi apa yang kau impikan tapi ku tak bisa menjadi dirinya...”

Salah satu potongan lirik lagu Dewa 19 - Selimut Hati di atas adalah suatu contoh lagu romantis yang bisa jadi di luar sana ada orang yang akan emosi dan menjambakmu ketika menyanyikannya. Dia pikir kamu itu menyindirnya.

Ya, itu di luar sana.

Bukan di sini pastinya.

Ehem, bukan di sini.

Rasanya pasti sakit sekali.  

Karena bagaimana pun kerasnya kalian berusaha, sulit move on dari sebuah lagu.  Bisa sih bisa, tapi sulit memisahkan lagu itu karena sudah terprogram di pikiran kita.  

Mungkin kalian menyangkalnya, melawannya, tapi sadar tidak sadar hati kecil kalian akan berusaha menikmati lagu itu.

Kasihan.

Aku juga sering banget lihat ada yang nulis kayak gini di komentar Youtube sebuah lagu galau.



Asli aku prihatin membacanya.

Ya, kolom komentar jadi ajang curhat mereka yang ditinggalkan mantannya.

Sad sekali ya.

Ternyata lagu itu segitunya memancing mereka untuk mengeluarkan uneg-uneg, dan karena lagu itu juga mereka teringat masa lalunya.

Lagu oh lagu....

Maka cara terbaik untuk move on dari sebuah lagu adalah membiarkan waktu berjalan apa adanya. 

Nikmati saja. Memang berat pada awalnya. Tapi cepat atau lambat kalian juga akan terbiasa.

Atau mau cara yang lebih menarik lagi?

Putar aja lagunya itu berulang kali sampai kamu bosan. Siapa tau dengan begitu kamu mulai biasa saja ketika mendengarkan lagu tersebut.  

Atau mau cara lebih ekstrim lagi?

Coba cover lagu itu. Ya, nyanyikan sendiri. Mungkin dengan menyanyikannya, kamu bisa berdamai dengan diri sendiri.

Pada akhirnya, move on dari sebuah lagu hanyalah masalah waktu. Aku percaya, bahwa mengenang mantan bukanlah dosa, kecuali yang kamu kenang adalah dosa yang pernah kalian lakukan berdua. 

Itu lain lagi ceritanya. Haha.

Cobalah untuk berpikir realistis bahwa masa lalu adalah masa lalu.

Bahwa dirimu ada hari ini bukan untuk menjadi bulan-bulanan masa lalu, bahwa dirimu berharga, dan masih ada orang terbaik yang disiapkan Tuhan untukmu.

Dan satu lagi, untuk urusan lagu yaa...

Jangan pernah ketika kamu galau, menjadikan sebuah lirik lagu sebagai pedoman langkahmu.

Bisa bahaya entar.

“Ku kan terus berjalan, walau hatiku panas, ku rela biarkan saja sekarang, siapapun gantimu aku akan mau...” - sebuah penggalan lirik lagu Tongam Valentino - Terus Berjalan.

Apa kamu mau dengan siapapun selama orangnya bukan dia?  Ya pasti enggaklah.   

Nikmati saja kegalauanmu, keluarkan sisa-sisa air matamu, jadikan lagu itu sebagai media untuk mencurahkan semuanya. Tapi cukup sampai di sana.

Jangan ikuti panduan dari lagu.  Berpikirlah jernih.

Karena sebuah lagu adalah insepsi yang berbahaya jika kamu menurutinya.

Jadikan insepsi itu sebagai bentuk pengekspresian diri. Jangan jadikan sebagai pedoman langkahmu.

Orang yang bertindak berdasarkan emosi semata, entah itu yang paling pahit sekalipun akan salah langkah. Cool down dulu.

Bicara tentang lagu kenangan bersama dia, jika kamu berhasil move on, dan kini tersenyum bersyukur atas yang telah terjadi, kamu bisa lepas dari insepsi masa lalu itu, apa yang mau aku sampaikan adalah:

Selamat kamu telah menjadi dewasa.

Ya, selamat.  

Petualangan baru masih menantimu.  


  • Share:

You Might Also Like

0 Comments