Aku dan Lagu Payung Teduh - Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan

By Andre Demofa - Februari 10, 2020


Pertama kali lagu ini melantun ketika mata ku masih terpejam di tengah grasa-grusu orang rumah di dapur. Waktu itu masih pukul 6 pagi. Adikku, Andri harus sampai ke sekolahnya pukul 7.30 pagi. Dia mau tak mau harus  cepat-cepat bangun, apalagi angkot kadang tidak bisa ditebak. Kapan datang, kapan tidak. Kapan mau jalan ngebut, kapan melambatnya. Angkot terkadang egois, ya!

Ups, tapi ini bukan tentang angkot.

Ini tentang sebuah lagu.  Tentang sebuah penafsiran yang berasal dari hati terdalam.

Angkot memiliki edisinya sendiri.

Intinya, si Andri harus cepat pergi sekolah setiap harinya, jadi sejak jam 6 pagi dia udah sibuk ngurus ini-itu. Dan bukan anak millennial namanya, kalau apa-apa gak ditemenin lagu.

Biasanya, hapenya akan diletakkan di atas kulkas dengan volume maksimal, lalu dia mulai beraksi. Mulai  mandi, sarapan, bahkan ikat tali sepatu pun, lagu-lagu di playlist handphonenya akan menemaninya.

Dia kadang ikut bersenandung juga.  Pun, karena saking tergodanya bernyanyi, dia bisa bernyanyi sambil makan. Itulah betapa kuatnya ikatan si Andri dan musik.  

Bahkan mungkin ketika dia sedang menghapal tugas, di pikirannya juga sedang bernyanyi-nyanyi. Kita tak pernah tau.  

Dan sembari dia mengerjakan semua itu, aku yang ganteng ini masih memejamkan mata. Masih terjaga di padang mimpi. Masih memeluk selimut yang sudah kusut.

Yang namanya ada suara ribut-ribut, ditambah aku orangnya sensitif sama suara, maka lagu yang si Andri putar kadang membangunkanku perlahan.

Jangan pikir lagunya itu bergenre rock atau pop melayu.  

Lagu yang ia putar benar-benar cocok didengerin pagi-pagi. Intrumen musiknya ala-ala folk, jazz, akustik, atau apapun yang memang syahdu.    

Intinya dalam keadaan setengah sadar aku bisa mendengar dan ya, aku mulai menikmatinya.

Enak sekali rasanya kalau bangun tidur itu dibangunkan lagu yang kita tak tahu judulnya apa, tapi ketika kita dengar, kita malah pengen melanjutkan tidur. Hehe.  

Kalau kata Rommi Rafael. semakin dalam dan semakin dalam, dan akhirnya tenggelam di dalamnya.

Dan ketika lagunya berakhir, kita membuka mata karena ingin mendengar simfoni itu lagi. Kita kecarian. kita pengen playlist itu diulang.  

Kesan itulah yang ku dapat ketika pertama kali mendengar lagu Payung Teduh - Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan.

Aku tak tau judul lagunya, aku tak tau makna lagunya, namun selintas saja mendengarnya, aku tau lagi ini bakal something hits one day.

Memang, aku jarang tau lagu-lagu baru, karena aku ga begitu sering mendengarkan radio. Apalagi televisi. Wohoho, jangan ditanya. Emang zaman sekarang masih ada ya tangga lagu di televisi?

Bangunkan aku dari tidurku kalau masih ada.

Justru ku anggap si Andri adalah radioku sekarang, hehe karena dia suka putar lagu yang sama sekali baru dan kadang aku mikir, “Kok bisa ya ada lagu sebagus ini ga terkenal?” ku tanya begitu padanya.

“Ya, samamu aja gak terkenal. Lagu ini udah terkenal kok. Refrensi musikmu aja yang sempit,” katanya nyeletuk santai.

Sialan. pikirku. Ternyata, menurutnya aku yang gak tau musik hits zaman sekarang.

Tapi ada benarnya. Memang aku ga begitu suka berpetualang mencari lagu baru yang enak. Aku percaya lagu hits (yang benar-benar hits) akan menemukan pendengarnya pada waktunya.

Hmmm...

Sebuah pembelaan diri yang berani.

Kembali ke topik. Lagu Payung Teduh - Untuk Perempuan Yang Sedang Dirindukan mengingatkanku akan: Seseorang.

Yap, seseorang. Karena dia seseorang, berarti dia bukan dua atau tiga. Melainkan satu. Dan dia adalah sosok yang luar biasa. Dia adalah gadis yang membantu melepaskan diriku dari zona galau tertinggi di masa itu. Tahun-tahun dimana lagu ini mulai hits, di 2017.

Itu adalah tahun paling dramatis dalam hidupku. Bisa dibilang aku menjadi manusia drama.

Apa-apa gampang sedih, apa-apa gampang ketawa, apa-apa gampang bercerita, apa-apa gampang melamun, apa-apa pengen sendiri, intinya waktu itu aku sangat sensitif dan tak tau menahu tentang apapun di luar diriku. 

Aku benci orang-orang. Aku benci orang-orang tersenyum padaku, seakan aku ini lemah, seakan mereka mengerti siapa aku, seakan mereka mengerti apa yang ku rasakan. Padahal mereka hanya kepo, mereka hanya sekedar bertanya, hanya penasaran, hanya sekedar basa-basi, lalu berkata, “Oh ya, semangat ya!”.

Shit. Aku ga butuh itu.  

Aku mengalami yang namanya krisis kepercayaan.

Baik pada diriku sendiri maupun orang lain.

Potret diriku di awal 2017. Kumal banget, kan?  

And then, di masa itu aku hampir ga punya satu teman pun. Bukan karena aku ga bisa, tapi aku ga percaya lagi sama siapapun. Itu benar-benar pernah terjadi.

Aku percaya, untuk sukses aku harus mengerjakan semuanya sendiri. Aku harus bersusah payah sendiri, karena toh pada akhirnya ketika aku mempercayakan sesuatu, aku bakal kecewa. Menaruh hati pada orang lain itu menyakitkan.

Pada waktu itu, aku mengalami dua hal transisional paling rumit sepanjang historis kehidupanku yang tak bisa ku ceritakan di sini. Intinya, karena dua hal itu (yang mana keduanya juga saling berkaitan), aku mengalami kejadian di atas. I don’t trust anyone.

Rasanya mengulang ingatan ini, aku merasa ingin kembali ke masa lalu dan menampar keras pipiku, lalu berkata, “BAGA!” (Dalam bahasa Indonesia: Bodoh).

Dia’ Adalah Malaikat Tanpa Sayap   

Aku mulai cerita singkat ini dari perkenalan dengan seseorang. Dia gadis yang biasa saja. Tidak begitu cantik, tapi memang sih dia cantik.

Dia punya kharisma sebagai sosok yang sangat ramah, murah hati dan bertutur kata lembut. Dia orang yang sangat sabar, punya ketangguhan di dalam dirinya, berkemauan kuat baik itu untuk jalan yang benar maupun salah (haha) karena kadang dia  berkemauan kuat untuk menyontek sewaktu ujian.

Meski dosennya sedikit killer, dia tetap berkemauan menyontek dan itu langsung dieksekusi dengan mantap. Tangannya pasti tak bisa dipisahkan dari smartphone ketika ujian. Terlepas itu salah dan tidak, setidaknya dia berkemauan untuk lulus dengan IP tinggi. Hihi. 

Dia punya masa lalu yang sangat inspiratif, bisa dikatakan ceritanya adalah sebuah harta karun buatku. Ceritanya membuka mataku lebar-lebar bahwa, “Hei, Andre apa yang kamu alami itu belum ada apa-apanya dibanding kisahku.”

Aku menaruh respect sangat tinggi padanya. Aku begitu salut pada cerita lika-liku hidupnya. Mungkin dia orang pertama yang menggugahku di masa itu. Dia benar-benar bercerita dengan tenang, tulus, dan apa adanya tentang pengalaman hidupnya.

Dan itu baginya jalan Tuhan yang memang harus ditempuh. Dia masih bisa tersenyum, masih bisa tertawa, masih bisa berbuat baik pada orang lain meski dia sering disakiti, direndahkan, dianggap enteng. Dia masih bisa percaya pada orang lain. Dia masih menghormati orang lain, menghormati orang yang sebenarnya sudah mengecewakannya.

Bahkan pada beberapa kesempatan di masa itu, aku bisa nangis sendiri merenungkan kisahnya. Aku menarik pada diriku sendiri. Seandainya aku di posisinya, apakah aku siap? Apakah aku bisa seperti dia? Bertahan dan optimis bahwa masa depan itu sungguh ada?

Dan tak sampai di sana, ia melakukan hal yang jauh lebih menggugahku.

Dia percaya padaku.

Dia percaya pada impian besarku, dia percaya bahwa aku bisa mencapai hal-hal besar tak terbatas pada apa yang orang lihat padaku di masa itu. Dia percaya bahwa aku pantas berada di posisi yang lebih baik.



“Tempatmu bukan di sini...” itu kalimatnya yang masih berdengung di telingaku.

Aku suka bercerita padanya. Aku mulai nyaman bercerita padanya tentang apa yang jadi hobiku dan apa yang menjadi keinginan terdalamku.

Aku katakan, aku ingin berkarya. Aku katakan, aku ingin membangun blog pribadi. Aku katakan, aku ingin menjadi pencipta lagu. Aku katakan, aku ingin menjadi penulis novel musikal, aku katakan aku ingin mendirikan startup company, aku katakan bahwa aku ingin punya nama baik di kampus.

Aku tak segan-segan mengatakan itu semua padanya. Because i’m trust with her.   

Kita sudah bicara dari hati ke hati, jadi untuk apa lagi disembunyikan?

Dia berkata, “Aku percaya samamu. Dan aku bakal dukung.”

Aku hampir menangis mengingat momen itu. Dia mengajakku makan di sebuah restoran dan kita bercerita tentang langkah apa selanjutnya.

“Kita mulai dari sini saja...” katanya.

Dan petualanganku pun dimulai.

Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan

Kisahku setelahnya menjadi luar biasa. Cakrawala duniaku terbuka lebar. Bahkan aku mulai membangun blog ini di 2017, tahun dimana aku mencari jati diriku. Tahun dimana aku bertemu dengannya.  Tahun dimana dia berkata, “Biar aku yang bayar biaya register domainmu ya...”

Haha. Jadi ketahuan deh.  

Blog ini adalah langkah pertamaku. Disusul dengan langkah-langkah kecil lain. Banyak sih yang gagal, tapi ada juga yang berhasil.  

Intinya, aku mencapai banyak hal berkesan di tahun-tahun berikutnya. Dia sangat banyak membantuku. Hal yang tak perlu ku sampaikan satu per satu. Setidaknya dibandingkan 2017, saat ini, tepat ketika aku menulis ini, orang-orang memandangku dengan optimis. Mereka percaya padaku.

Potret diriku ketika berlaga di KDMI dan memimpin rapat BEM Fakultas.  

Ya, ‘sang malaikat’ itu membuat semuanya mungkin.

Lalu setelah kita muter-muter membahas ini dan itu, lalu apa hubungannya dia dengan lagu itu?

Jujur, aku tak mengerti betul apa arti dari lirik lagu Payung Teduh tersebut dan aku tak berani menerjemahkannya dengan persepsi ku sendiri apalagi membagikannya kepada kalian. Khusus lagu ini, aku ingin menyimpannya sendiri.

Aku hanya ingin mengatakan, terlalu banyak isi dalam hatiku yang ingin ku bagikan jika mendengar lagu ini.  

Aku dan dia dulunya sama-sama orang yang berlari. Sama-sama orang yang jauh dari rumah (dalam arti yang berbeda tentunya), sama-sama mencari jati diri, sama-sama membenci malam karena malam adalah tempat terhening untuk menerima kenyataan, namun pada akhirnya kita berdua saling menemukan dan terbiasa berjalan bersama untuk saling mendukung.

Rasa malu, rasa rendah diri, tidak percaya pada siapapun adalah lumrah bagi mereka yang lari. Dan saat itu, dia memintaku berhenti berlari ke arah yang jauh. Dia berkata, “Jalani aja.” Aku mengangguk. Dan kami mulai sering berjalan. Baik kiasan maupun secara harfiah.

Aku mulai berjalan, aku percaya padanya, aku mulai percaya pada diriku sendiri dan menemukan keindahannnya satu per satu.   

Ketika itu malam, 23 Mei 2017. Kami baru saja selesai mengerjakan video iseng untuk clip lagu ciptaanku. Aku pulang, merebahkan diri menonton ulang video itu. Dan lelahku berbuah lelap.  Aku tertidur, dan paginya, lagu itu melantun...

“Lalu mataku merasa malu, semakin dalam, ia malu kali ini. Kadang juga ia takut, tatkala harus berpapasan di tengah pelariannya...”

Aku membuka mata perlahan. Pagi ini aku langsung teringat padanya.

Teringat banyak hal yang terjadi di sore kemarin, dan hal yang akan berlanjut di hari ini.

Ketika mendengar lagu itu, aku merasa tenang. Aku merasa tentram. Aku merasa optimis bisa melakukan lebih dan lebih lagi untuk karyaku.

Dan aku terbayang wajah lembutnya.

Aku langsung bangun, berjalan ke dapur, dan bertanya pada Andri. “Apa judul lagunya ini?”

“Lihat aja sendiri.”

“Passwordnya?

“Hari lahirku.”

Aku mengusap layar smartphonenya. Dan membaca judulnya.

Oh, ini lagu yang aku cari. 

Mungkin sejak itu, aku jadi selalu teringat padanya setiap kali mendengar lagu ini.

Hari ini, 10 Februari 2020....

Pukul 18.20, aku sengaja memutar ulang lagu itu di playlistku dengan sebuah speaker JBL di meja belajarku.

Aku terdiam. Telah banyak hal yang terjadi sejak saat itu. Pikiran ku terbang ke sana kemari mencari makna yang tertaut selama ini.

Apa rasaku selama ini salah? Atau rasanya yang salah?  

Dan aku belum juga menemukannya.  

Semoga tulisan ini dapat membantuku merasa lebih baik.


  • Share:

You Might Also Like

0 Comments