Bisnis Online Dengan Modal Suara? Emang Bisa? This Is Podcast Era!

By Andre Demofa - Februari 20, 2020


Zaman sekarang kalau gak cepat-cepat peka terhadap perubahan tren, para kreator konten mungkin akan tergilas oleh perubahan itu sendiri. Sudah banyak buktinya.

Mereka yang terkenal dalam waktu singkat, mulai wara-wiri di layar kaca, lalu beberapa minggu kemudian bak hilang ditelan bumi.  

Kalau istilahnya, zaman sekarang menjadi viral itu gampang, tapi selesainya juga gampang.

Sehingga untuk bertahan di waktu yang lama dalam industri hiburan seperti sekarang perlu namanya kemampuan adaptif.

Ya, harus adaptif pada tren terbaru.

Tren itu sendiri tergolong dua.

Yakni tren konten dan tren platform.

Biasanya sih keduanya ini berhubungan.

Hanya bedanya, kalau konten adalah output produksi dari si artis, sedang platform adalah tempat dimana si artis mempublikasikan kontennya.

Ibarat pasar.

Kalau lagi musim durian, dan kamu punya banyak durian, kamu gak mungkin jual durian di tempat pelelangan ikan atau pasar otomotif.

Pasti kamu bakal cari pasar buah atau minimal tempat yang relevan lah dengan target konsumenmu.

Seperti itulah korelasi antara konten dan platform.  

Bicara Platform

Dulu sekali waktu semuanya masih serba analog, platform hiburan itu hanyalah radio.

Karena radio gratis dan semua orang bisa mengaksesnya dengan mudah.

Orientasi seorang artis dikatakan berhasil atau tidakpun tergantung bagaimana penikmat radio menyukainya.

Berbagai konten radio diproduksi seperti bintang radio, sandiwara radio, sampai acara curhat di radio.

Bahkan Warkop DKI yang terdiri dari Dono, Indro dan Kasino yang fenomenal itu memulai karir mereka di Prambors Radio lewat sandiwara radio dan podcast (cuap-cuap).


(Sumber: Youtube)


Lalu tren berganti ke televisi.  

Kamu harus ikut cast di salah satu stasiun televisi untuk bisa tampil di acara televisi.

Dan semua ada step by step-nya.

Mulai dari cameo, terus jadi asisten artis, bantu-bantu crew, dan kalau kamu beruntung kamu bisa memainkan peran, lalu kamu bisa menjadi artis beneran.

Bisa juga lewat jalur audisi terbuka. Seperti audisi srimulat, audisi pencarian bakat dan lain-lan.

Atau bisa juga membayar sejumlah uang untuk berkenalan dengan produser suatu acara dan kamu bisa main film di sana.

Bahkan seorang Fajar Nugros, sutradara film Cinta di Saku Celana dalam ceritanya di podcast Raditya Dika mengatakan industri hiburan di masa itu memang penuh proses panjang untuk menapaki puncak karir. Di era itu, Nugros harus menduduki pos-pos rendah dulu hingga bisa memegang kursi sutradara seperti sekarang.

Birokrasi dulu rumit, ya.   

How about now?

Sekarang semua serba lebih mudah.


(Sumber: Youtube.) 


Kamu cukup bikin channel Youtube, lalu dapat ratusan ribu hingga jutaan subscribers kamu bisa masuk tv bahkan kalau kamu memang sensasional atau punya keahlian dalam industri film, minimal-minimal kamu bisa dibikin series tersendiri atau syukur-syukur diproduseri untuk bikin film.

Skinny Indonesia24 dan Bayu Skak adalah contoh konkret. 

Dan kalau untuk series ada Cameo Project, Young Lex, Atta Halilintar yang pernah dibikinin acara sendiri sama Trans Media.

Selain itu banyak lagi kok. Aku cuma ngasih contoh biar kamu ada gambaran.  

Karena industri adalah tentang rating.

Jadi segala yang populer, itu satu langkah lebih dekat dengan uang.

Karena kan orang penasaran dengan kamu.

Di Youtube misalnya kamu itu hobi bikin video lucu, dan orang kan penasaran kamu di depan kamera lucu, terus gimana sih kehidupan pribadimu, gimana sih caramu bersosialisasi sama orang lain dan televisi menangkap sinyal itu untuk menjadikan kamu artis di acaranya agar penonton mu di Youtube bisa lebih tau tentangmu dan televisi pun untung karena potensi penonton kamu di Youtube otomatis akan nonton kamu di program televisinya.

Sehingga kalau zaman sekarang kamu mau masuk televisi dengan gampang ya kamu harus punya bargaining power (daya tawar) yang kuat. Kamu harus bisa menunjukkan dirimu itu adalah raja/ratu di suatu platform.

Minimal raja/ratu dari sekian ratus ribu followers mu.   

Nah, bicara soal platform, dulu, jauh sebelum Youtube menjadi media favorit semua orang, jauh sebelum vlog, sebelum orang menjadi populer hanya karena mukbang, prank, ngebikin klarifikasi atau pamer aksi-aksi di luar nalar, menjadi blogger adalah salah satu cara untuk menjadi populer.

Blogger itu ya seperti aku ini.


Tampilan Blog di awal 2000an (Sumber: Lifehacker.com.au)


Menulis di sebuah website.

Bisa dibilang, sebelum era Youtube, Blog adalah media favorit semua orang.

Saat itu internet masih mengandalkan teks tertulis sebagai sarana hiburan.

Membaca adalah kegiatan yang lumrah.

Membaca adalah cara orang menikmati hidup.  

Maka menjadi blogger menjadi satu pekerjaan yang prestisius dan sangat digemari karena kamu menulis apa yang mau orang baca.

Apalagi dulu kan internet belum se-masif sekarang, belum lagi dulu model handphone cuma bisa Facebook doang, dan kuota itu agak kemahalan. Hehe.  

Jadi, selebblog adalah satu goals karena seleblog selangkah lebih dekat dengan industri hiburan mainstream semacam televisi.

Selebblog pasti memiliki banyak followers, dan followers itu adalah sesuatu yang seksi bagi televisi.

Beberapa selebblog di masa itu bahkan bisa membuat buku dari postingan blognya dan akhirnya diproduseri menjadi sebuah film karena ceritanya di blog banyak banget yang baca.

Sebut saja Raditya Dika dengan Kambing Jantan, Alit Susanto dengan Relationshit, dan Trinity dengan Naked Traveler-nya.


Tampilan blog jadul Raditya Dika di masanya. (Sumber: Diahpurwitasari.wordpress.com)


Mereka bertiga adalah selebblog yang pastinya blogger di masa itu tau siapa mereka dan kejeniusan mereka dalam berkarya.

Nah, sekarang platformnya makin meluas.

Ada pergeseran tren di kalangan millenial.

Untuk menulis sudah ada Wattpad, Kaskus, dan media lainnya.

Bedanya kalau di blog pribadi kita harus perjuangkan followers kita secara manual, di Wattpad dan Kaskus sudah ada jutaan followers yang potensial mengikuti platform tersebut dan akan mengikuti kamu kalau memang konten kamu menarik.

Bahkan dari dua media yang aku sebutin barusan, banyak lahir artis dadakan di bidang kepenulisan. yang karya tulisnya itu dijadikan buku bahkan sampai difilmkan dan dibuat web seriesnya.  


Salah satu judul novel Wattpad yang paling banyak dibaca dan difilmkan di 2020. (Sumber: Wattpad)

Jadi, kamu harus pandai memilih platform yang tepat.

Bicara Konten

Kalau kata senior di komunitas blogger dulu, mereka suka bilang kayak gini, “Content is the king” artinya konten adalah raja.

Konten itu bisa berupa apa aja.

Mulai dari tulisan, video, foto, sampai suara.  

Kita contohin aja tulisan.

Mau di blog pribadi, di Wattpad atau di Kaskus, tetap aja kalau tulisan kamu gak menjual (bukan ga bagus ya), itu bakalan susah naiknya.

Jadi mau platformnya bagus, mau platformnya itu banyak potensi followers-nya, tetap aja kamu harus membuat konten yang bagus dan memikat.

Bahkan aku berani bilang, kalau konten adalah apa yang pertama harus kamu pikirkan dulu sebelum memilih sebuah platform.

Karena platform bisa berganti-ganti, tapi ciri dan identitas kamu ya tetap pada konten yang kamu buat.

Misalkkan Raditya Dika. Nah, ini favoritku.     

Waktu zaman blogger dia bisa beradaptasi bikin konten yang related untuk pembaca blog.

Waktu zaman twitter, dia bisa nulis twit yang related juga dengan warganet di sana.

Waktu dia nulis buku, dia bisa nulis buku yang juga cocok banget dengan kebiasaan pembaca buku di Indonesia.

Konten Raditya Dika bisa beradaptasi dengan sangat cepat.

Tapi identitasnya sebagai penulis buku humor tetap melekat.


Bicara Konten dan Platform

Nah, selesai ngomongin keduanya secara terpisah, aku bakal bahas yang lebih ekstrim.

Jadi hanya orang-orang tertentu aja yang mampu melakukan ini.

Yakni berpindah konten dan berpindah platform, tapi tetap bisa disukai dan menjadi seorang yang tetap eksis.

Iya. Kalau misalnya kontenmu cuma menulis dan kamu mampu beradaptasi pada platform yang ada itu udah biasa.

Tapi kalau hari ini konten mu menulis, besoknya video, besoknya podcast, dan terus ganti-ganti platform, dan kamu tetap eksis itu yang diancungi jempol.

Contohnya Arief Muhammad atau dulu dikenal dengan @poconggg.


Salah satu timeline twitter Arief Muhammad (@Poconggg) di masanya. (Sumber: Fimela.com)


Dia bikin akun twitter, dan jadi selebtwit. Kontennya padahal cuma twit lucu yang ditulis konsisten.

Dia bikin blog, jadi selebblog. Followers-nya itu loh. Buanyaak banget.  

Dia bikin buku, jadi penulis best seller.

Nah, itu kan dari tulisan ke tulisan cuma beda platform.

Ajaibnya, waktu lagi ngehits Youtube, dia juga jadi Youtubers dengan jutaan subscribers.

Dia bikin konten video dan itu hits juga di Instagram.

Kalau tau Mak Beti, itu adalah karyanya yang populer banget.


Transformasi luar biasa Arief Muhammad dari @Poconggg ke Mak Beti.


Dan hampir semua ABG-ABG itu suka banget sama video lucunya itu.  

See?

Dia bisa beradaptasi pada konten dan pada platform dengan sangat cepat.


Ngomongin Podcast

Ok. Dari tadi kita muter-muter terus, sekarang masuk ke inti pembicaraan.

Apa itu Podcast?

Podcast adalah konten. Bukan platform.

Singkatnya, podcast adalah konten suara dimana kamu cuap-cuap ngomongin apa aja, dan orang lain suka dan mau dengerin apa yang kamu omongin.

Atau gambaran sederhananya, kamu itu punya radio sendiri.

Mungkin sampai di sini udah paham, ya.

Podcast itu intinya jauh lebih gampang dibuat dari video.

Karena hanya mengandalkan audio, kamu gak harus nunjukin wajahmu atau studio mewahmu.

Podcast pun sekarang lagi tren banget.

Bahkan udah ada valuasinya segala.

Kalau di Amerika Serikat, podcast itu udah populer  karena pasarnya udah siap untuk itu.

Mereka punya Spotify dan jutaan pengguna premium.


Siapa sih yang gak tau app yang satu ini? (Sumber: Spotify.com)


Kesadaran akan menghargai ciptaan orang lain cukup tinggi, sehingga kreator konten bisa hidup dari sana.  

Namun di Indonesia, podcast belum memiliki platform utama.

Singkatnya gini.

Kalau kamu mau nonton video, pasti kamu langsung mikir Youtube.

Tapi kalau podcast?

Kamu mikir-mikir dua kali. Bisa jadi di Youtube juga ada, di Instagram juga ada, di Spotify juga ada, di Anchor FM juga ada, dan banyak lainnya. 

Sehingga podcast belum jadi something new industries di Indonesia.

Belum ada pemain besar yang menguasai podcast itu sendiri.

Sehingga, konten-konten podcast yang bagus itu berserakan kemana-mana.

Padahal, kalau bicara animo, grup-grup podcast udah banyak banget menjamur di Indonesia.

Salah satu nya aku yang gabung di grup Podcast Sumut.

Sehingga, podcast masih menunggu platform yang benar-benar secara tidak resmi akan menjadi homebase karya-karya kreatornya.

Seperti video dengan Youtubenya, atau novel digital dengan Wattpadnya, atau bahkan foto dengan Instagramnya.


Terus, Apa Yang Kamu Harus Lakukan?

Kamu perlu yang namanya official.

Ya, website sendiri.

Kalau kamu memang mau terjun di dunia podcaster, sembari menunggu platform ‘masa depan’ itu kamu harus membuat lebih dulu platform pribadimu.   

Kamu perlu wadah untuk menjadi homebase dari karya-karya kamu nantinya.

Yang pasti kamu orangnya bakal agresif banget coba seluruh platform yang ada, kan?

Tapi kalau semuanya kamu coba, citra kamu bakal abu-abu.

Entar dibilang anak Spotify bukan, youtubers bukan karena main di Instagram juga, dibilang selebgram juga enggak karena belum banyak followers, hehe, dibilang anak Anchor juga bukan karena jarang nge-play siaran temanmu  hanya hobi upload karya doang, maka kamu perlu yang namanya official website untuk memastikan dirimu sebagai kreator konten yang orientasinya ke konten bukan platform.

Jadi apapun platform eksternalnya nanti, kamu gak mau dilabeli dengan itu semua, kamu adalah podcaster dimanapun kamu berkarya.

Dan representasinya adalah website pribadi kamu.

Ya, kamu perlu bikin website.

Harus malah.

Karena website selain memudahkan kamu memperkenalkan diri ke semua komunitas podcast, itu juga bakal menambah nilai jual mu loh karena masih jarang podcaster yang punya website pribadi di Indonesia.

Wait.

Masih ada yang bingung gak sih apa itu website?  

Website itu simpelnya ya kayak blog aku ini.

Yang sedang kalian baca ini ya namanya website.

Bedanya website kamu sendiri nanti kontennya podcast-podcast yang kamu buat dan link-link karya kamu di platform lain.

Sehingga kamu sudah punya portofolio sendiri yang orang bisa lihat dan dengarkan di website kamu.  

Website itu sendiri memerlukan dua komponen.

Yakni domain dan hosting.

Domain itu adalah alamat dari website kamu kelak.

Kalau namaku contohnya Andre Demofa, maka aku bakal buat nama domain ku www.andredemofa.com.

Jadi kelihatan lebih professional.

Dan hosting adalah media penyimpanan yang kamu perlukan untuk blog kamu itu.

Karena kamu mainnya podcast, itu kan bisa berupa mp3 dan mp4, bahkan mungkin .wav yang formatnya jauh lebih berat, maka kamu perlu beli hosting supaya loading blog mu gak lambat karena memorinya kepenuhan/berat dan kamu gak akan kehilangan semua data-datamu jika sewaktu-waktu blogmu ditutup entah karena pelanggaran atau apa karena menggunakan hosting gratis.

Penyedia hosting Indonesia sendiri ada banyak banget.

Hosting Indonesia yang terpecaya itu salah satunya Qwords.


(Sumber: Qwords.com)


Ya, kamu bisa cek sendiri di sana. Aku cuma merekomendasikan.

Dan jangan percaya juga dengan penyedia hosting Indonesia yang abal-abal, atau yang menawarkan harga murah padahal sebenarnya harga murah tidak menjamin kualitas dari hosting yang kamu beli.

Jadi, beli hosting Indonesia di tempat yang terpercaya aja ya, guys.

Soal harga gimana?

Bikin website itu gak mahal kok.

Bahkan bisa dibilang lebih mahal kamu nongkrong di starbuck daripada bikin website.

Karena zaman sekarang bikin website itu lebih cepat, mudah dan murah.

Kamu bisa cari sendiri sih refrensi domain dan hosting Indonesia pilihanmu.

Tapi aku sendiri rekomendasikan di Qwords.

Bukan karena aku tetangganya atau gimana, tapi karena aku udah menjadi pelanggan Qwords selama empat tahun terakhir. Kliennya juga banyak yang bergengsi, sehingga aku sih believe sama mereka.


Sumber Uang Podcast Darimana?

(Sumber: Indozone.id)


Ngomongin susahnya mulu dari tadi, terus cara dapetin uangnya bijimene?  

Hal pertama yang harus kamu pahami adalah podcast bukanlah suatu bisnis sampai kamu memiliki pasar tersendiri.

Kamu harus punya followers dalam jumlah tertentu untuk menjadikan podcast sebagai suatu bisnis.

Setidaknya itu peluang terbaikmu saat ini.  

Pertanyaan pun muncul.

Kalau platformnya belum ada yang true, terus aku harus mulai darimana untuk dapetin followers?

Mulai aja dari yang paling bikin kamu nyaman.

Aku sih saranin di Spotify, Youtube dan Instagram.

Karena selain di sana penggemar podcast sangat banyak, di sana platformnya mudah untuk digunakan (user friendly).

Terus aku harus bikin podcast tentang apa?

Terserah. Apa aja, yang penting kamu bahagia ngerjainnya.

Kamu harus temukan sendiri yang menjadi kekuatanmu. Lalu kembangkan itu dan konsisten.

Kunci sukses kreator konten adalah konsisten.

Dari aku sih kamu harus bikin sampul (thumbnail) yang menarik, judulnya juga gak boleh biasa, ya agak bandel dengan clickbait juga biasa sih zaman sekarang, dan yang pasti topiknya harus bermanfaat buat orang lain.

Boleh podcast solo atau duet atau trio, atau kwartet itu tergantung gimana pembawaan kamu aja.

Yang penting kamu dan orang lain nyaman mendengarnya.

Kalau semua itu udah kamu jalankan, kamu bisa dapetin uang dari sumber-sumber berikut ini.

Satu, kalau memang apa yang kamu bagi itu something usefull, kamu bisa adain seminar.

Iya, seminar kamu gak salah dengar.

Banyak kok motivator yang berasal dari podcast.

Contohnya di channel Pria Idaman. Dia itu bikin podcast youtube di sini.

Dia bikin kelas relationship gitu lewat podcastnya. Laku dong. Bahkan dia pernah session sharing sama Raditya Dika di kelasnya.

Dan kelasnya itu berbayar.

See?

Dari podcast kredibilitasmu bisa berbuah rupiah lewat talkshow, kelas, atau seminar yang kamu adain.

Kedua, kalau pengikutmu sudah banyak, kamu bisa menjual podcast suaramu atau ikut dalam kemitraan dengan agregator besar, yang mana di Indonesia masih sedikit jumlahnya.

Ketiga, kamu bisa ikutan lomba. Memang belum banyak sih yang event besar. Tapi event kecil dari komunitas seperti dari SPOON itu biasanya ada tiap bulan. Ini sih bisa kamu ikutin untuk dapetin uang jajan.

Keempat, kalau kamu pasang podcast kamu juga bisa dapat iklan. Tergantung media yang kamu sedang garap sekarang. Kalau Youtube kamu bisa dapat uang dari Google Adsense-nya, kalau Instagram kamu bisa jual endorsement. Kan keren tuh endorsement dari suara. Hehe. 

Memang masih sejauh itu sumber pendapatan seorang podcaster.

Tapi tidak menutup kemungkinan kalau kelak platform ‘masa depan’ itu hadir, sumber pendapatannya juga semakin banyak dan beragam.

Bahkan jika kamu memiliki keahlian lain, podcast bisa jadi cuma sebagai batu loncatanmu ke industri arus utama, dan kamu bisa bikin buku, main film, bikin lagu dan lain-lain karena orang-orang sudah pada mengenalmu lebih dulu lewat podcast, sehingga mereka lebih believe dan akan lebih terbuka menerima keahlian kamu yang lain.

Penutup

Pesan dariku, bisnis online itu bukan sekedar jual beli produk-jasa.

Tapi juga soal jual-beli citra.

Dan kamu bisa bikin citramu bagus lewat podcast.

Podcast kelak bisa menjadi bisnis yang bagus, jika kamu tau bagaimana memanfaatkannya untuk membangun citra dan kredibilitasmu.  

Siapa sih yang ga bisa cuap-cuap doang. Ngomong-ngomong gitu? 

Tapi bikin podcast ga semudah itu, kawan.

Ya, ga semudah itu.

Podcast adalah suatu seni yang juga harus kamu pelajari dari hari ke hari.

Jadi kamu harus gigih.   

Karena pasar podcast di Indonesia belum terbentuk dengan sempurna, jadi ini kesempatan kamu untuk segera belajar dan menunjukkan keunikan kamu di antara podcaster lainnya.

Pesan dariku sih: Konsisten.

Itu yang utama.  

Karena konsisten biasanya akan bekerja untukmu secara jangka panjang.

Meski karyamu kurang bagus sekalipun di awal-awal, tapi kalau konsisten belajar, konsisten berkarya, yakinlah kamu akan menemukan tempat di hati pendengarmu.

Sebelum kamu menemukan dirimu (konten), menemukan pendengarmu (platform), dan menemukan industrinya (konten dan platform), podcast bukanlah sebuah bisnis.

Tapi jika kamu menemukannya, dan pastinya itu perlu waktu, kamu sudah menjadi podcaster dan kamu bisa cantumkan itu di CV kamu.

Aku jadi teringat momen ketika Mark Zuckerberg akan menemui mitra Venture Capital pertamanya. 


(Sumber: Facebook.com)
Ya, kamu juga bisa.

  • Share:

You Might Also Like

0 Comments