Nama Geng di Tembok-tembok Rumah

By Andre Demofa - Februari 28, 2020




Di tahun 2010, saya masih berseragam putih biru. Masih anak SMP. Dan pada masa itu ada dua hal yang sedang booming-boomingnya; Boy Band dan Geng Motor.

Perempuan biasanya berdebat sengit memperebutkan siapa boy band paling hebat. Sampai cakar-cakaran malah.  Sedangkan laki-laki berdebat tentang siapa geng motor paling disegani.

Tentu, peristiwa menjamurnya geng motor di masa itu sangat melekat di pikiran anak-anak seusia kami.

Dimana efek pertempuran antara Geng Kapak dan Geng Buaya di film Kungfu Hustle, banyak yang menggila ingin seperti itu. Banyak yang ingin menguasai jurus tapak Budha dan jurus kodok terbang.   

Saya ingin sekali masuk geng motor saat itu. Rasanya keren meskipun kata senior harus punya nyawa ganda karena dunia geng itu keras. Tidak ada yang berjiwa lemah di sana.

Tapi sayangnya saya tidak punya motor. Cuma sepeda yang punya lonceng kringg..kringg di atas keranjangnya.  

Padahal saya sudah siap bertempur.  Hati dan raga ini siap masuk dalam jajaran orang-orang keren pada masa itu. 

Punya rompi biru, celana robek, rantai di saku, lipstik hitam, dan sapu tangan merah yang diikat di leher.

Tapi niat itu saya urungkan.  Saya memutuskan untuk masuk boy band saja.

Namun sayang, tidak ada teman yang mau diajak bergabung. Mereka semua ingin fokus pada UAS.  

Lagipula saat itu saya masih sangat pendek. Bahkan lebih pendek dari kulkas dua pintu. Sulit menjadi sosok yang garang dengan kondisi fisik begini. 

Tapi Napoleon Bonaparte juga pendek bukan? 

Sungguh obsesi yang salah.

Karena kedua pilihan itu tidak bisa diraih, jadilah saya siswa yang culun.

Saya mengira bahwa euforia geng motor vs boy band akan berakhir dalam waktu singkat. Semua akan kembali kepada tren dan kebiasaan lama. 

Tidak ada lagi kubu, tidak ada lagi kotak-kotak diantara kami. Semua akan sadar bahwa kita adalah Indonesia. 

Sekali lagi kita adalah Indonesia.

Tapi sayang, itu terus saja berlanjut. Bahkan jauh lebih parah.

Geng motor semakin beringas. Mereka seperti lupa bahwa jika mereka tertembak atau dibacok lawan, tidak ada sutradara yang mengatakan, “Cut, kita ulang aksinya," mereka lupa bahwa tawuran dan pertempuran itu adalah kenyataan. Itu nyata, bego!

Darah yang berceceran itu bukan obat merah yang dicampur dengan bahan kimia lainnya. Itu benar-benar darah yang timbul karena gesekan senjata. Mereka lupa, bahwa yang mereka hadapi adalah manusia yang punya tulang dan daging. Bukan hologram.

Mereka lupa, bahwa pangkat yang mereka miliki tidak akan membuat calon mertuanya senang. Itu cuma tempelan. Bahkan dijahit di penjahit pinggir jalan dengan kualitas kain sekelas bahan kaos kutang.

“Kamu pangkat apa di Geng Motor sebelah?“

Orang tua mana yang bakal bertanya begitu kalau mau menjodohkan anaknya?

Geng Motor semakin beringas. Mulai dari menganggu polisi, merusak fasilitas umum, sampai melakukan aksi begal.

Sekarang ini suasana sudah semakin damai. Mulai jarang terjadi perang antar geng meskipun ada tapi sesekali. 

Semua sudah kembali pada kehidupan yang normal. Film tentang geng-geng itu juga jarang ditampilkan lagi di televisi.

Tapi tetap itu meninggalkan bekas. Bukan tugu atau patung memoriam. Melainkan coretan gambar di dinding.

Penggemar boyband dan girlband tidak sefanatik geng motor. Saya tidak pernah melihat gravity “BTS“, “EXO“, “BlackPink” di tembok-tembok kosong di kota Medan. Mereka cuma membombardir social media saat itu.

Berbeda dengan geng motor. Nama mereka ada dimana-mana. Di tembok sekolah, di tembok gang-gang sempit, di tembok perumahan elit, di tembok pom bensin, di tembok rumah sakit, dan di tembok-tembok potensial lainnya. 

Mereka mengkavling itu.  

Bahkan yang seharusnya tidak ada dibuat ada. Contohnya, di tiang-tiang listrik. Mereka membombardir dengan tulisan nama mereka. Mengambil porsi untuk brosur WC tumpat dan service AC.

Tapi begitulah dinamika sosial kita.

Ketika beranjak semakin dewasa, saya naik kelas dalam hal berpikir. Ternyata mereka menulis nama mereka bukan untuk ajang pamer, melainkan karena satu hal...

Supaya mereka diperhatikan, karena kurang kasih sayang.

Ya, ternyata kasih sayang itu tak cukup dari keluarga, tapi juga dari jalanan.... 

Ehem, miris ya.  



  • Share:

You Might Also Like

0 Comments