Playlist Lagu Bertema Politik Yang Memaksa Millenial Untuk Mikir

By Andre Demofa - Februari 05, 2020


Sebagai seorang pemuda kita ga boleh benci pada politik. Kita harus mau membuka mata, karena hulu dari keputusan publik ada pada politik. Politik kadang bukan tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah, tapi ini tentang keadilan. Dan dimana ada keadilan, di situ juga pasti ada ketidakadilan. Seperti dua mata koin yang berbeda, tapi saling eksis dan tarik-menarik.  

Tak harus menjadi aktivis untuk mengerti politik. Tapi dari lagu-lagu berikut kita bisa tau keindahan lain dari politik, yakni pemikiran. Ada banyak pemikiran yang dapat diambil, tidak hanya dari esai, buku catatan, ataupun film. Lagu juga mampu memikat dengan caranya sendiri.

Lagu berikut akan memaksa kita untuk berpikir, tentang lirik-lirik puitis yang dituangkan penyairnya menjadi sebuah lagu, dan dari pemikiran ini semoga ada yang dapat kita petik menjadi inspirasi yang berharga.    

Tanpa berlama-lama lagi, ini dia... 

1. Polka Wars - Rekam Jejak  




Nama Polka Wars mungkin masih terasa asing di telinga. Tapi lagunya mulai populer ketika gelaran kampanye Pilpres 2019 kemarin. Lagu Polka Wars ini sempat dipakai Prananda Surya Paloh dalam iklannya di televisi. Apalagi kalau bukan Metro TV.

“Rekam jejakku, dapat kau telusuri dalam pusaka....”  

Begitulah potongan liriknya. Dan pertama kali saya mendengar lagu ini, ga menunggu dua kali, saya langsung perbesar volume televisi dan menghapal tiap liriknya supaya bisa searching di google untuk tau judul lagunya apa.

Saya sempat mikir, keren juga nih Prananda Surya Paloh sewa band untuk bikin jingle kampanye-nya.

Waktu itu beliau maju pileg DPR RI dari Dapil 1 Sumatera Utara. Ya, dapil di tempat saya memilih. 

Tapi setelah membuka official music videonya, saya baru tau lagu Rekam Jejak ini bukan untuk kampanye. Itu memang sebuah lagu bertemakan aktivis. Dari gambaran di video klipnya, ada seorang anak muda yang di-interogasi paksa oleh seseorang. Sekilas seperti menceritakan gerakan aktivis 98.

Dan sepertinya sedikit menyentil era pemerintahan orde baru serta cecenguk-cecenguknya.

“Aku berdaulat untuk harapanku, aku bergerak untuk harapanmu....” 

Aktivis banget kan?

Cuma kebetulan liriknya dipotong untuk keperluan kampanye.

Lagu ini punya diksi yang rumit banget. Harus pasang telinga betul-betul dan punya wawasan vocabulary yang luas. Tapi kalau tau artiinya, kalian akan kagum. 

Ditambah dengan aransemennya yang menurutku sih pas banget mewakili ketengangan di masa itu.

Dan durasinya yang singkat, hanya sekitar 3 menitan, membuat lagu ini langsung ke intinya. Ga banyak tarik ulur. Juara banget pokoknya.   

2. Eross Chandra ft. Okta- Gie


Ini lagu dari soundtrack film Gie. Film yang diangkat dari kisah seorang aktivis mahasiswa di masa orde lama, Soe Hok Gie. Liriknya aktivis banget. Dan dalam banget.

“Sampaikan lah pada ibuku, aku pulang terlambat waktu, ku akan menaklukkan malam dengan jalan pikiranku. Sampaikanlah pada bapaku, aku mencari jalan atas semua keresahan-keresahan ini, kegelisahan manusia...” 

Kita dapat mengerti jalan pikiran seorang Gie saat itu. Jalan pikiran tentang politik dan kemanusiaan. 

Karena di masa itulah terjadi genosida puluhan ribu mungkin ratusan, atau mungkin jutaan nyawa manusia yang terkait dengan PKI. Entahlah, tapi kemanusiaan benar-benar dipertanyakan saat itu. 

Belum lagi krisis ekonomi yang melanda negara karena perebutan politik dan ego dari pemimpin-pemimpin yang sekali pada akhirnya hanya menyengsarakan rakyat.

Kegelisahan yang sama juga dirasakan aktivis mahasiswa masa kini. Ya, meskipun ga ada genosida juga di masa sekarang, tapi tetap saja kita punya tugas yang sama untuk menuntut politik menjadi sebuah rumah yang nyaman untuk kemanusiaan, bukan justru menjadi alat untuk menghabisinya.

Bravo, Gie!  

3. Eross Chandra ft. Okta - Cahaya Bulan



Nah kalau ini ga usah dijelaskan terlalu panjang. Karena lagu ini memang yang paling populer.

Sebuah lagu fenomenal yang diangkat dari puisi asli karya Soe Hok Gie.

Liriknya gila keren banget. Katanya ini adalah puisi dari Soe Hok Gie yang dijadikan lagu. Memang juara banget Mas Eross Chandra dalam menggubah lagu.

“Aku orang malam yang membicarakan terang, aku orang tenang yang menentang kemenangan oleh pedang...”

Kalau lagu ini di kalangan mahasiswa sastra udah pasti ga asing lagi. Soalnya musikalisasi dari lagu ini udah sering banget dibuat, dan rame di Youtube.

Lagu ini bercerita tentang kegelisahan. Hanya saja jauh lebih dalam. Kita dibuat hanyut dalam kegelisahan seorang Gie di malam hari.

“Cahaya bulan menusukku, dengan ribuan pertanyaan.... Yang takkan pernah ku tahu dimana jawaban itu....”

Benar-benar situasi hati yang sedang hancur jika kita menerjemahkan lirik itu. Seakan Soe Hok Gie tau bahwa umurnya tidak akan lama lagi, dimana dia tidak tau ujung kisah politik negeri ini, tidak tau bagaimana semua konflik itu berakhir, dimana seorang Gie hanya mewariskan pertanyaan-pertanyaan, dan kita sebagai generasi muda penerus harus menjawab pertanyaan itu.  Dengan karya nyata tentunya.

Bukan dengan lagu. Emangnya kita ini lagi epic rap battle?

Lagu ini juga sering aku dengerin ketika merenungkan perpolitikan di Indonesia. Ehe, macem betul aja. Tapi memang betul. Kadang air mata kita bisa menangis mendengarnya, dan lagu ini benar-benar mewakili yang setiap orang rasakan ketika menggumuli yang terbaik untuk negaranya.

Sekali lagi, bravo Gie!   
   

4. Feast - Peradaban  




Nah, kita ke band yang belakangan ini naik daun. Liriknya memang sulit dimengerti, frontal, dan agak keras. Namun masih di taraf wajar.  

“Bawa pesan ini ke persekutuanmu, tempat ibadah terbakar lagi, bawa pesan ini lari ke keluargamu, nama kita diinjak lagi!”  

Liriknya berani sekali bukan menyuarakan isu sosial yang akhir-akhir ini mencuat?

Kalau diperhatikan, lagu ini menceritakan tentang sebuah peradaban yang takkan bisa dihancurkan oleh ideologi politik manapun. 

“Karena peradaban berputar abadi, kebal luka bakar, tusuk atau caci maki....” 

Liriknya dalam banget kan?

Kalau dari yang aku tangkap, Feast mencoba mengangkat sebuah isu bahwa dunia ini adalah sebuah ruang yang abadi yang berisi peradaban manusia yang berganti dari hari ke hari. Peradaban boleh berganti, tapi dunia tetap sama. Pemimpin boleh estafet berkali-kali, tapi dunia ini tetap seperti ini. 

Dunia ini bukan milik satu orang. Dunia ini tak bisa dikekang oleh seorang penguasa absolute. Bahwa apapun yang berhasil dikerjakan hari ini, bisa saja dilupakan atau disingkirkan oleh orang lain. Begitupun sebaliknya. Tapi Feast menitikberatkan liriknya pada optimisme, bahwa peradaban itu selalu mengarah ke jalan yang lebih baik.

“Suatu saat nanti tanah air kembali berdiri, suatu saat nanti kita memimpin diri sendiri, suatu saat nanti kita meninggalkan sidik jari, suatu saat nanti semua berbesar hati...”

Dan ada suara samar-samar, “Lawan...lawan...”

Entah interpretasi aku benar atau tidak, tapi itulah yang ku rasakan ketika mendengar lagu ini.

Lagu ini mengajarkan untuk bersabar. Bahwa Indonesia (khususnya) akan menjadi lebih baik suatu hari nanti. Dimana peradaban kita akan jauh lebih maju dan kita ada di era menuju ke sana (transisi), sehingga wajar jika terjadi banyak pergolakan. 

Selain Peradaban, ada beberapa judul lagu dari band ini yang bisa jadi rekomendasi yang jika diulas satu per satu akan memakan banyak waktu. Seperti:  Kami Belum Tentu, Berita Kehilangan, dan Padi Milik Rakyat.

Mungkin dari semua musisi yang aku sebutkan di atas, Feast merupakan band paling konsisten menyuarakan lagu bertema sosial politik untuk kita nikmati.

Bravo, Feast!

Penutup

Nah, gimana udah mikir keras?

Ga menutup kemungkinan jika aku ada waktu, aku akan mengulas satu per satu lagu tersebut.

Ok, terima kasih sudah mampir.


  • Share:

You Might Also Like

0 Comments