Surat Cinta Untuk OYO (Romantika Ketinggalan Pesawat di Yogyakarta)

By Andre Demofa - Februari 24, 2020




6 November 2019,

Pagi itu suara alarm berdering.

Aku bangun dan melepas engsel pintu.

Berjalan di teras asrama dan menghirup udara bebas.

Dari lantai dua ini aku bisa melihat suasana Jogja pagi yang teduh. Dimana masih banyak mahasiswa yang berjalan kaki, rasanya aku jadi rindu kampusku di Medan. 

Aku menginap di salah satu asrama kampus dekat Universitas Gadjah Mada. Temanku yang merekomendasikannya. 

Hari ini aku pulang, batinku.

Aku berjalan berkeliling, mencari sarapan di angkringan terdekat.

Pesawat ku bakal terbang jam 10 pagi. Kira-kira sekitar 2 jam lagi. Aku harus cepat.

Aku melepas pandang sekali lagi dari atas penginapanku.

Berat sekali untuk mengucapkan selamat tinggal.

Tapi hidup harus terus berjalan.

I’m want to go home.

Setelah makan, packing-packing, dan memesan ojek online (ojol), sepanjang jalan menuju bandara aku masih merasa kagum dengan Jogja.

Kendaraan berbaris rapi tepat di belakang garis dan semua memakai helm.

Dok. Pribadi. 


Kedisplinan orang-orang di sini patut diancungi jempol.

Di atas ojek online menuju Bandara Internasional Adi Sucipto aku teringat ucapan temanku. Dia pernah bilang, “Jogja akan memanggilmu pulang. Ada mitos, orang bakal paling sedikit dua kali ke Jogja sepanjang hidupnya.”

Bersama teman baikku di Jogja (Dok. Pribadi).

Itu cerita yang menarik. Aku sedikit tidak percaya, sih.

Hanya 15 menit aku sudah sampai.

Ya, satu jam lebih awal untuk boarding.

Aku berjalan santai memasuki pintu terminal bandara. Tidak ada firasat apapun, sampai aku masuk ke antrian, petugas bandara mulai memeriksa tiket ku.

Wajahnya sedikit berubah, “Mas, ini tiketnya bukan untuk bandara ini, loh.”

“Maksudnya?”

“Begini, Mas. Ini tiketnya untuk Bandara Kulon Progo, bukan di Adi. Mas-nya salah bandara, loh.”

Aku biasa saja.  Oiya, Mas?” tanyaku santai. “Ok deh.”

“Di sini boarding 55 menit lagi loh,” kata petugas bandara masih memegang tiketku.

“Ok. Makasih, Mas,” kataku lagi. “Ngomong-ngomong bandara Kulon Progonya dimana ya, Mas?” tanyaku.

“Nah, itu masalahnya. Bandara Kulon Progo itu di ujung Jogjakarta. Jarak ke sana itu makan waktu paling cepat satu setengah jam,” katanya.

Wajahku mulai pucat. “Loh, sejauh itu?”

“Iya, Mas. Itu bandara baru.”

“Astaga, terkejar gak itu?”

Petugas bandara melihat ke belakangku. “Kita di sana aja ngomong, Mas. Biar antrian jalan.”

“Iya,” aku mengikuti saja.

Jantungku sudah deg-degan. Pikiranku sudah membayang-bayangkan situasi terburuknya.  

“Kenapa itu, Mas?” tanya seorang supir taksi yang tau gelagat cemas wajahku. Ia menghampiri kami berdua.

“Ini, Mas. Ke Kulon Progo, terkejar gak, ya satu jam lagi?”

Dia mencopot topinya dan menunjukkan ekspresi kaget. “Susah Mas, susah,” katanya lalu pergi.

Aku pun menatap wajah petugas bandara yang wajahnya juga kelihatan sangat simpatik. Dia tidak berani mengatakan tidak. Petugas bandara itu hanya menggeleng dan tersenyum. “Coba Mas ke tempat maskapainya saja. Biar bisa langsung di-check in kan di sana.”

Aku mengangguk.

Aku pun lari-lari dengan semangat 45 ke sana. Ke pusat informasi maskapainya.

“Mbak-mbak, ini masih sempat gak?” tanya ku dengan nafas ngos-ngosan sambil mengeluarkan e-ticket ku.  

Mbak nya juga berekspresi sama. Dia menggeleng. “Kita usahakan. Tapi Kulon Progo itu jauh loh, Mas. Ada sekitar satu setengah jam dari sini.”

Iya, Mbak aku tau loh, batinku.

“Bisa refund gak?” tanyaku.

“Gak bisa Mas. Kalau misalnya Mas-nya terbang dari bandara Adi, masih bisa kita ganti untuk penerbangaan besok. Tapi ini beda bandara.”

“Aduh. Jadi refund-nya bisa dapat berapa?”

“Sekitar 10% saja Mas. Itu pun harus melalui proses administasi lagi.”

“Kalau saya naik ojol ke Kulon Progo, terkejar gak ya, Mbak?”

Dia hanya menggeleng sambil mengangkat bahu. Takut menjawab karena wajahku yang sudah sangat pucat. “Tapi kalau Mas mau mencoba, siapa tau ada keajaiban, ya sudah. Kita cuma bisa bantu check-in kan dari sini.”

Aku langsung mengambil tasku, dan lari-lari ke pangkalan ojol terdekat.

Yang bikin aku gemes, area bandara tidak bisa menaikkan dan menurunkan penumpang. 

Untuk pesan ojol, aku harus jalan ke pangkalan khusus ojol yang cukup jauh.

Bisa dibayangkan dengan ranselku yang beratnya minta ampun, aku lari-lari ke sana. 

Aku pun menghabiskan waktu 10 menit.

“Mas, ini ke Kulon Progo terkejar gak ya 40 menit?” kataku ke salah satu driver ojol yang menerima pesananku.

“Oh saya ga bisa janji. Kalau Mas gak yakin, kita cancel aja.”

Aku mikir beberapa kali. “Yaudah deh gapapa, Mas. Kita coba saja.”

Bisa dibayangkan aku akhirnya naik ojol dari Bandara Internasional Adi Sucipto ke Bandara Internasional Kulon Progo. Kalau pakai peta itu adalah perjalanan ujung ke ujung.

Gambaran jarak kedua bandara internasional itu (Dok. Pribadi).


Dan seumur hidupku ini adalah tarif ojol paling mahal yang pernah aku bayar. Hampir 150rb.

Ya, tak apa menurutku. Namanya orang sudah panik, berapapun akan dia bayar supaya tidak ketinggalan pesawat yang ongkos gantinya pasti jauh lebih mahal. 

Beberapa menit kemudian, aku mikir sepertinya salah memilih driver ojol.

Karena beliau sudah agak renta.

Maaf, tapi memang beliau sepertinya berumur 50an.

Motornya saja yang baru.

Dan beliau ini tak berani kebut-kebutan.

Di saat itu aku berharap teman ku di Medan bisa ku bawa ke sini. Dia ahli meliuk di aspal. Pokoknya kalau dibilang 40 menit, itu pasti terkejar. Apalagi aku mikir, dengan potensi cuaca mendung ada kemungkinan delay,  masih ada harapan untukku (meskipun sedikit).

“Kita buat panduannya Google Map, ya Mas. Saya belum pernah ke Kulon Progo.”

“Ok.” Meski dalam hatiku, Ya ampun.

Kami pun menyusuri jalan-jalan. Hatiku sudah deg-degan dan berdebar sambil melihat ciptaan Tuhan yang sangat indah sepanjang perjalanan ini. 

Luar biasa sekali pemandangannya. Menyusuri sawah-sawah, sungai, gedung-gedung monumental, dan angin kencang yang meniup wajahku terus menerus.

“Loh, Pak kok belok kiri?”

“Ini, di map saya ke kiri.”

“Tapi di map saya ke kanan loh, Pak.”

“Gimana toh, Mas? Percaya deh.”

“Ok.”

Akhirnya kami muter-muter.

Dan kami masuk ke sebuah jalan tikus. Jalan antah berantah yang berbatu-batu.

“Pak, ini beneran kita nyungsep ke jalanan kosong kayak gini. Belum diaspal pula. Masa gini jalan bandara?” kataku kesal. 

“Beneran, map saya kayak gini.”

Aku lihat map-nya, ternyata benar juga toh titiknya. Kita sudah sampai di Bandara Kulon Progo. Tapi mana pintu bandaranya?

“Yoklah kita tanya penduduk setempat.”

“Iya, Mas.”

Dan asli itu membuatku gregetan sendiri.

Aku mau cerita sedikit tentang orang Jogja.

Orang-orang di sini ramah banget. Jadi aku yang udah buru-buru sekalipun, bahkan mungkin ini perjalanan hidup dan mati, mas-nya bertanya juga harus lembut banget.

Beliau bertanya aja bisa habis 2 menit.

Punten, Mas maaf menganggu ya,” dia ambil jeda nafas, menganggukan kepala, sambil tersenyum ke penduduk lokal yang kebetulan lagi jalan dekat situ. “Ini saya kan cari bandara Kulon Progo,” katanya dengan tempo lambat sambil mempertahankan senyumnya.

Aku yang duduk di belakang udah gerah banget. Astaga, to do point aja napa Mas, batinku kesal.  

Dan yang menjawab, bapak yang kelihatannya juga tak kalah renta usianya, jawabannya itu lembut banget, aku sampai ngikutin kata-katanya itu satu-satu. “Oh, begini. Jalan nya itu bukan lewat sini, Mas. Entar Mas lurus, belok kanan, terus muter...”

Dan kalian tau apa yang gak lucu?

Ada orang kelewat cerdas yang membuat titik Bandara Kulon Progo itu di landasan pacu. Jadi waktu itu kami berhenti di landasan pacu pesawat yang hanya berbatasan dengan pagar.

“Ini memang bandara sih, Mas. Dan itu,” aku menunjuk dua buah pesawat yang lagi dipanaskan mesinnya, “Itu pesawat saya. Tapi masa iya, saya lompat pagar dan langsung naik?”

Mas-nya nggih nggih aja. Dia tak enak mungkin karena udah salah bawa jalan.

Aku menarik nafas panjang dan perjalanan pun dilanjutkan.

Sesekali aku cek aplikasi Flighradar24. Itu loh, aplikasi untuk tau status terbang pesawat. Terus aku refresh supaya update. Secara matematis harusnya pesawatnya sudah terbang karena ini sudah lewat 40 menit.

Tapi di aplikasi itu pesawatnya belum berangkat. Ada kalimat ‘Delayed'. Aku sumringah sekali membacanya.

Seumur hidupku terbang, baru kali ini aku senang membaca kata ‘delay’. 

Kami pun tiba.

Ternyata Bandara Kulon Progo itu memang belum siap 100%, masih banyak sisa-sisa batu konstruksi yang ditumpuk, timbunan tanah, bahkan alat berat yang terparkir di beberapa ruas jalan.

“Maaf sekali lagi ya, Mas,” ucap Mas Ojol ketika menerima helmnya kembali.  

“Iya gapapa,” kataku langsung berlari ke dalam. 

Tak pakai waktu lama, aku tiba di counter.

“Mbak-mbak, pesawatnya udah berangkat ya?” tanyaku dengan ngos-ngosan sambil menunjukkan e-ticket di smartphoneku.

“Sudah take off 10 menit yang lalu.”

Bummmm...

Mendengarnya, kakiku langsung lemas. Dadaku langsung sesak.   

Pengen marah, tapi gak bisa. Pengen nangis, tapi malu. Pengen teriak, tapi takut.

Yah, memang salahku sendiri, sih.

Aku langsung lari ke bagian maskapai dan tanya-tanya apa yang harus ku lakukan dalam situasi seperti ini.

“Opsi nya cuma dua, Mas. Pesan tiket baru dari kami yang biayanya dipotong pakai dana refund Mas 10%, atau pesan tiket ke maskapai lain tapi proses refund kemungkinan ditolak,” kata Mbaknya.

Akhirnya aku terduduk lemas.

Diam membisu.

Benar-benar kacau situasinya.

“Tunggu sebentar, ya Mbak,” aku pun duduk dulu di lounge-nya yang nyaman, lalu menelpon keluarga yang ada di Medan.

Ilustrasi komik (Dok. Pribadi)

Aku habis dimarahin.

“Ya udah. Tinggal di sana aja sampai 2020 baru pulang,” kata Mamaku. Tuttt..tutt...tutt. Telpon terputus.  

Asli, itu awkard banget.

Aku merasa jadi orang paling bodoh di dunia.  

Itu pertama kalinya aku ketinggalan pesawat.

Rasanya pengen...

Ah, sudahlah. 

Aku gak tau lagi mau ngapain. Udah perut keroncongan karena lapar, belum lagi mikirin biaya buat terbang besok.

Satu-satunya yang aku rindukan waktu itu adalah tempat tidur.

Aku benar-benar pengen tidur saja, dan melupakan semua masalahku ini. 

Dan dalam kepanikan, aku mencoba tenang.

Aku lihat harga tiket pesawat terbaru di aplikasi pemesanan online, untungnya ada yang murah.

Ya, murah bukan dalam arti seperti sebungkus rujak, cuma jauh lebih murah dibanding harga tiket normal.

Tanpa pikir lama, aku langsung beli.

Aku lalu menghubungi orang rumah lagi.

Ilustrasi komik (Dok. Pribadi)  

Setelah tiketnya ku beli, ku baca ulang setiap informasi di sana. Aku trauma. Entar salah bandara lagi. Bandara Internasional Adi Sucipto, batinku.

Ok. Fiks.

Aku harus balik ke kota.

But, wait. Dimana aku tinggal?

Ilustasi komik (Dok. Pribadi) 


Kan ga mungkin balik di penginapan temanku kemarin? Rasanya merepotkan dan...

Ehem. Memalukan.

Karena terbangnya besok sore, aku harus cari kamar yang dekat bandara, sekitar 10-15 menit jarak tempuhnya, tapi kamarnya juga harus nyaman, aman, dan pastinya terjangkau untuk orang yang baru kena sial sepertiku ini.

Aku sempat bingung.

Aku cek lagi di Google untuk tau hotel yang related dengan situasiku sekarang.

Ilustarasi Komik (Dok. Pribadi)


Nah, ini!

Untung aku ada aplikasi OYO. 

Aku baru ingat ternyata aplikasi ini ada di smartphoneku.

Sumber: Youtube. 


Panik membuatku jadi tak peka. 

Aku menarik nafas panjang, lalu mulai mencari hotel yang terdekat dengan bandara Adi, aku gunakan fitur lokasinya.  

Jika kamu mengaktifkan fitur lokasi, maka aplikasi OYO kamu akan otomatis memuat hotel di sekitarmu. Namun jika tidak, kamu harus memilih secara manual lokasi kota yang kamu ingin pilih. 


Tampilannya akan seperti ini: 



Untung ku aktifkan fitur lokasi, sehingga begitu tampil beberapa opsi, aku pilih hotel yang sesuai dengan budget, jarak tempuh dari bandara, dan lain-lain yang menurutku related dengan situasiku sekarang. 



Aku scroll hotel demi hotel, baca review dan ratingnya, dan begitu sudah klop di hati langsung aku transfer via mobile banking

Nah, ini dia hotel yang aku pilih waktu itu lengkap dengan detail fasilitas dan harganya. 


Reservasi pun tersedia.



Harganya juga terjangkau banget. Aku merasa sedikit lega.  

Aku pun memutuskan naik Bus Damri ke Adi, terus dari situ naik ojol ke hotel OYO yang baru ku pesan.

Sembari nunggu Bus Damri menaikkan penumpang, aku stay sebentar di restoran bandara untuk mengisi perut yang keroncongan dan menghitung setiap pengeluaranku.

Maklum, namanya mahasiswa jurusan ekonomi, harus hitung-hitungan.

Aku juga bisa main ke Yogya waktu itu karena ada event internasional dari kampus. Aku utusan daerahku. Dan kalau dipikir-pikir, pengeluaranku selama di sini mengalami BEP (Break Even Point) dengan modal yang diberikan kampus dan Kemenristek-Dikti untuk subsidi perjalananku dan uang saku. 

Gara-gara ketinggalan pesawat, uang sakuku habis untuk ini deh. Huhu, sedihnya.   

Ekspresiku waktu menghitung pengeluaran di Bandara Internasional Kulon Progo (Dok. Pribadi).


Usai itu, aku pun menempuh perjalanan pulang kembali ke Jogja. Naik Bus Damri selama lebih kurang dua jam. 

Rasanya aku seperti baru sampai ke Jogja lagi dari Bandara Internasional Kulon Progo.

"Ma, aku udah sampai di Jogja, ya.” Aku jadi pengen mengatakan itu. Rasanya seperti dejavu.

Benar kata temanku, orang bakal dua kali main ke Jogja. 

Dan ya, aku udah dua kali main ke Jogja dalam satu kali trip. Haha.

Tapi untunglah, pemandangan selama di bus membuat bebanku sedikit berkurang. 

Pemandangan sawah yang indah menuju Yogyakarta (Dok. Pribadi).

Setelah perjalanan panjang dan melelahkan. aku pun tiba di OYO Hotel.

Saking penatnya, aku sampai ngelantur ngomong. 

“Mau kamar atas atau kamar bawah, Mas?” tanya resepsionisnya.

“Atas aja, Mas,” kataku. Lalu aku merenung lagi, “Bawah aja, Mas.” kataku sambil menandatangani dokumen. “Eh, enggak deh di atas saja, Mas.”

Mas resepsionisnya cuma senyum dan menyerahkan kunci kamar padaku. “Selamat beristirahat Mas Andre. Kalau perlu apa-apa, bisa hubungi ke sini, ya,” katanya.

Aku mengangguk saja.  Lalu berjalan ke tangga.

Sampai di kamar aku langsung merebahkan diriku. Kepalaku yang udah tegang ini, akhirnya bisa menyentuh kasur. Rasanya lembut sekali. Ditambah aroma kamarnya yang wangi menjadi sebuah terapi kecil di pikiranku.

Kasurku waktu itu (Dok. Pribadi).


Aku berteriak kecil “Aaaaaaaaa....” supaya syaraf-syaraf kepalaku rileks.

Aku telungkup di kasur sambil bermain hape. Ku hubungi orang rumah dan mengatakan aku sudah sampai di kamar hotel. Ku kirim alamat hotelnya dan ku beritahu aku bakal berangkat besok ke bandara yang tepat.

Aku tidak akan salah untuk kedua kalinya.

Cukup lagu Sheryl Shefania saja kedua kalinya, salah bandara jangan.  

Ku lihat foto-fotoku kemarin di Jogja, ekpresi senang ketika berjumpa dengan kawan, merasa bangga bisa berfoto di monumen Jogjakarta, dan sekarang aku di sini.

Berpose di depan tugu Yogyakarta (Dok. Pribadi).


Ketinggalan pesawat.

Garis waktu memang tidak bisa ditebak. 

Tapi aku bersyukur berada di sini.

Setidaknya hal-hal yang lebih buruk tidak menimpaku.

Aku hanya ketinggalan pesawat kok.

Bukan ketinggalan koper, atau mungkin dompetku.

Sisanya, semua baik-baik saja.

Aku mulai mensugesti pikiranku untuk berpikir positif. Suasana kamar hotel yang hening, AC yang sejuk, dan pencahayaan yang bagus, membuatku merasa lebih rileks dan bisa lebih intim bicara dengan diriku sendiri.

Suasana kamar yang sangat cozy (Dok. Pribadi).


Sungguh aku mulai menerima kenyataan ini.

Tuhan pasti memberikan yang lebih baik, batinku.

Di OYO Hotels itu aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak lagi teledor dan tidak meremehkan hal-hal kecil seperti cermat membaca informasi pada tiket pesawat.

Di OYO Hotels itu aku datang dengan wajah pucat, wajah kelelahan, dan kelihatan kacau. Aku mengalami hari yang berat dan tidak diduga-duga.

Tapi pulang dari sini, setelah check out dari sini aku bertekad akan keluar dengan wajah berbeda.

Aku akan check out besok dengan wajah yang segar, optimis dan membawa resolusi-resolusi baru bersamaku untuk dilakukan sepanjang sisa akhir tahun ini.  

OYO Hotels menjadi saksi dari kacaunya aku, dan dia menjadi tempat bagiku untuk merenungkan semuanya, dan menjadi saksi dari rebirth of me.

Aku sudah buang seluruh masalahku di sini.

Keranjang sampah di kamar OYO Hotelku. Keren kan? 


Aku tidak akan menyia-nyiakan waktuku di sini.

Di OYO Hotels ini, aku mengerjakan laporanku, membuat resolusi baru, mengerjakan deadline event terdekat, dan di sini aku tuliskan seluruh isi hatiku.

Dok. Pribadi.


Aku menuliskan ini:
            
Dear OYO...

Aku baru saja ketinggalan pesawat di Jogja,
Kata orang, Jogja adalah tempat yang tak cukup dikunjungi sekali,
Dan aku seperti terlahir dua kali di sini,
Aku lemah, frustasi, bingung, dan membenci diri sendiri, 
Aku ingin pulang,
Aku rindu rumah,
Aku merasa sepi
Tapi katamu,
Tak usah lah ku risau,
Tak usah lah wajahku membiru
Tak usah lah aku kehilangan muka
Karena kamu ada di sini...
Terima kasih sudah memberiku minum,
Terima kasih sudah memberiku atap yang hangat
Terima kasih sudah memberiku pelukan
Siapapun tau bahwa semua orang bisa salah,
Tapi tidak semua se-romantika kamu,
Karena meski aku salah,
Bersamamu aku belajar salah untuk menjadi benar
Selama aku punya sesuatu untuk dipelajari,
Hari-hariku di sini sudah terselamatkan
Salahku hanya sejauh rasa penerimaanku,

Terima kasih OYO Hotels Indonesia....

   
Hehe. Keren gak gombalku? 

Ya, di OYO Hotels ini aku yang datang dengan perasaan hancur, benci, bersalah pada diri sendiri.

Lalu setelahnya aku mulai menerima kenyataan ini dan bisa keluar dari sini dengan lebih optimis. 

Dan berjanji pada diriku bahwa kesalahan yang sama tidak akan menimpaku lagi.

Ilustasi komik (Dok. Pribadi).


Di OYO Hotels Waktu Itu

Lalu, hari sudah semakin sore, dan aku yang gerah memutuskan untuk mandi.

Dok. Pribadi

Dok. Pribadi

Dok. Pribadi.


Peralatan mandi di sini sangat lengkap dan membuatku betah. Tidak kalah dibanding hotel-hotel kelas premium yang ada di Indonesia. 

Aku semakin segar setelah ber-shower selama kurang lebih 10 menit.

Terang sudah pikiran dan ragaku.

Rencana untuk dinner, aku makan di angkringan luar sambil mencari angin.  

Aku tidak ragu meninggalkan semua barang-barangku di sini.

Keamanannya terjamin. 

Aku merasa ini seperti perjalanan ‘kedua’ ku di Jogja. Dan kali ini jauh lebih berkesan.

Aku merasa hidup.

Aku merasa bukan sedang mengevakuasi diri untuk pulang besok, tapi ini adalah perjalanan mengevaluasi diri.  Dan aku beruntung bisa mengalaminya.

OYO Hotels membuatku selalu merasa seperti itu. 

Ia membuatku melupakan masalah, tapi mengingat pelajarannya.  

Thanks, OYO Hotels Indonesia. 

Aku bisa pulang ke Medan dengan pikiran-pikiran yang lebih terbuka. 

Dok. Pribadi


Aku, OYO dan Bulan Kasih Sayang

Untuk mengenang perjalananku 6 November 2019 kemarin, dan ungkapan terimakasih ku kepada OYO yang telah menjadi tempat perhentian sementaraku di waktu itu, aku pun menuliskan surat cinta untuk OYO di bulan penuh kasih sayang ini.

Ini tulisan tanganku. Maaf kalau jelek. Tapi tulisan tangan seorang kidal umumnya memang seperti ini. Hehe.

Dan lebih baik jelek dengan tanpa dibumbui kepalsuan, daripada indah tanpa cinta di dalamnnya.

Uhuukk.

Part satu. 


Part dua (habis). 

Nah, supaya makin greget dan romantis aku udah bikin musikalisasi puisi dari surat cinta yang aku tuliskan di atas. Naratornya aku sendiri dong. Untuk OYO Hotels Indonesia dengerin yaa. Itu curahan isi hatiku. 



Di bulan kasih sayang ini aku juga mau mengajak keluargaku untuk menginap di OYO Hotels terdekat. Hanya saja karena jadwal yang selalu berbenturan satu sama lain, kami sering sulit merencanakan waktu yang tepat untuk berlibur bersama.  

Di perjalanan berikutnya dengan OYO, aku berharap bisa mengajak keluargaku untuk menikmati suasana rumah yang nyaman di destinasi berikut.




Jujur saja, sudah lama sekali kami tidak melakukan itu (berlibur bersama).

Tak usah jauh-jauh ini OYO Hotels yang mau aku kunjungi.

Iya, di Thyesza Hotel di Kabupaten Samosir. Hotel berkelas di Kabupaten Samosir ini punya spot view yang keren dan suasana yang sejuk pokoknya.   

Aku juga mohon ke OYO supaya hotel di daerah pesisir Danau Toba dan Samosir diperbanyak apalagi di daerah kampung ayahku di Kepulauan Nias.

Karena di sana adalah objek wisata potensial dan aku harap kelak daerah itu bisa menjadi ikonnya wisata Sumatera Utara.

Biar entar aku makin-makin cinta sama OYO.

Dan jika aku menginap di sana aku akan ceritakan betapa OYO benar-benar berarti ada di sana. 

Aminn...

Aku juga mengajak kamu untuk follow sosial media-nya OYO Hotels Indonesia.

Di Instagram dan Twitter karena isinya informatif banget, bukan cuma jualan doang, OYO Hotels Indonesia juga sering ngadain kuis, loh.

Jadi kamu bisa dapetin banyak benefit kalau beruntung. Hehe  

Instagram: @oyo.indonesia



Twitter: @OyoIndonesia


Aku sudah follow, kamu juga ya. 

Nah, biar postingan ini makin greget dan penuh dengan pelajaran berharga, aku saranin kamu untuk download App OYO di smartphone kamu, karena jika kamu ngalamin ketinggalan pesawat kayak aku (semoga enggak, ya), kamu jadi gak risau lagi.  

Karena OYO Hotels Indonesia ada di dekat bandara besar di seluruh Indonesia dan berguna banget buat kamu jika ngalamin situasi seperti aku ini.

Sesuai dengan taglinenya ‘PastiAdaOYO’.

Ya, OYO Hotels memang pasti selalu ada untukku dan untuk kamu.


Penutup  

Ketinggalan pesawat memang menyedihkan. Tapi aku bisa mendapatkan romantika lain di Jogja selain kerlap-kerlip kotanya atau Malioboronya.


Aku dan tempat ikoniknya Malioboro (Dok. Pribadi)


Aku mendapatkan romantika baru di OYO Hotels Indonesia.

Aku bisa mendapat romantika dibalik kerapuhanku sendiri. Berbincang dengan orang baru, dan menemukan pelajaran baru di luar semua skenarioku.

Aku bisa tersenyum pada akhirnya.

Terima kasih OYO telah memberi inspirasi untuk menuliskan cerita yang luar biasa ini.

Romantika itu akan selalu baru untuk setiap orang, dan bukan hanya aku, aku harap kamu semua yang membaca tulisan ini juga mengalami romantika bersama OYO Hotels Indonesia.

Tapi aku gak berharap kamu ketinggalan pesawat, loh. Hehe. 

Semoga di bulan romantis ini, OYO tetap memberi cintanya kepada masyarakat Indonesia.

Mungkin sebelumnya, OYO Hotels menjadi saksi dari kerapuhanku, tapi next trip aku harap OYO Hotels dapat mendengar cerita-cerita sukacitaku, dapat mendengar guyonku dengan keluarga, dan menjadi saksi dari kebahagiaan kami.

“Kalian bahagia banget sih?” Aku ingin ada orang yang bertanya seperti itu dan melihat ada emblem OYO yang telah membuat kebahagiaan itu lengkap.

Thanks OYO, telah hadir di Indonesia.

Di bulan Valentine special ini aku berharap bisa memberimu cokelat, memberimu bunga, atau berfoto sambil menghias kamarmu, tapi apalah dayaku yang tak bisa memberikan itu semua, aku hanya mampu untuk mendoakan yang terbaik buatmu.  

Semoga OYO Hotels Indonesia bisa semakin eksis dan memberi lebih banyak kisah cinta di luar sana.

Terima kasih sekali lagi buat OYO Hotels Indonesia.  

I Love You Full....


*Cerita ini adalah kisah perjalananku ditulis untuk mengikuti kompetisi menulis Love OYO Blog Competition 2020.

  • Share:

You Might Also Like

25 Comments

  1. Saya aja yang berkuliah di Jogja aja selama 4 tahun, rasanya kuraaang aja ke Jogja ini. Entahlah,, serasa sebelah hatiku ketinggalan di sana huhuuu... Kalau dipikir² kenapalah ortuku gak ngasih nyari kerja atau nyambung S2 aja di UGM lagi,, ternyata agar aku tetap jadi orang Medan... Teringat kata² mamakku,"Ah, gosahlah kakak tinggal di sana, cukup kuliah aja di sana,, nanti kau lesap, mamak meningggal pun payah nanti kau nengoknya" huhuu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cieee yang lagi nostalgia 😁
      Jogja memang istimewa, Kak.
      Tapi tetap ingat pulang ya, Kak dan tetap ingat Kakak itu orang Medan. Wkwk.

      Hapus
  2. Akhirnya kau ngaku ketinggalan pesawat jga waktu itu di Jogja. Ckck.

    BalasHapus
  3. Masa iya saya harus lompat pagar ?

    Petualangan yg mengalahkan Diving, paralying, Rafting ataupun ArungJeram.

    Allahuakbar, dari High beat ke slow motion.

    BalasHapus
  4. Aku kemarin juga ketinggalan pesawat saat dari jakarta mau pulang ke pekanbaru. Nyesek banget. Kepikiran buat cari hotel oyo eh ternyata dipesankan lagi di hotel yang sebelumnyaoleh penyelenggara. Bersyukur ada oyo yang bang, bisa menghemat, soalnya beli tiket lagi aja udah berapa kan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener, Kak. Bersyukur banget lah pokoknya ada OYO di Indonesia ☺️👍

      Hapus
  5. Ya ampun, kok sampai salah bandara itu sih? Untuk ada hotel OYO ya, jadi gampang cari penginapan sementara

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Kak. Untung aku gak jadi homeless di kota orang waktu itu. Haha.

      Hapus
  6. Kalo di saat blong kayak gitu, trus dinget-inget lagi pasti lucu banget itu pasti ekspresinya.

    Aku pun bakalan nganu juga kalo ketinggalan pesawat. Haha,
    Untung ada oyo

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga tidak terjadi pada Kakak ya. Bisa jadi traumatis entar hehe. Next trip, aku jadi cek tiket ku betul-betul nih.

      Bener. Untung ada OYO.

      Hapus
  7. Ada hikmahnya juga ya bang ketinggalan pesawat, jadi jatuh cinta sama OYO deh hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener. Kalau diingat-ingat lucu juga. Hikmah yang sepadan Kak. Hehe.

      Hapus
  8. Alhamdulillah blm pernah ketinggalan psawat. Tp ketinggalan kereta api pernah. Nyesek bgt pas datang, pas pula closed. Tapi itu td, selalu ada hikmahnya dan tentu saja seru hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwk. Pas ngalaminnya pasti ga seru. Malah nyebelin. Menceritakannya itu yang seru 😁

      Bener ada hikmah di setiap peristiwa.

      Hapus
  9. Saya juga suka jogja bang. Dulu sempat sampe ngukur jaket almamater di gedung Sabha UGM, apa daya tak ditakdirkan kesana. Ntar kalo kesana lagi, saya juga pake OYO ah buat cari hotelnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keren loh Kak masuk UGM.

      Pasti dong. Pasti ada OYO.

      Hapus
  10. Pengalaman yang seru nih bang Andre.
    Semoga menang ya...
    Surat cintanya bagus

    BalasHapus
  11. Berasa baca cerpen, apalagi waktu bagian "pesawat udah take off 10 menit lalu" daraku jadi seeer berasa diri ini yg ketinggalan pesawat 😂

    BalasHapus
  12. Pengalaman yang aduhai dan tentunya tidak terlupakan. Saya bacanya berasa nano-nano. Mula-mula ngakak, terus sedih, setelah itu lega deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe. Terimakasih sudah mampir ya Kak 😊 Semoga pengalaman ini jadi pelajaran berharga buat kita. Hehe. #UntungadaOYO #PastiadaOYO.

      Hapus
  13. Galfok ama komiknya 👍 aku pernah juga hampir ketinggalan pesawat, ke luar negeri pula itu wkwkw, hadoooh kalo ingat kejadiannya wkwkw

    BalasHapus