Tetralogi Puisi (Dua) - I’m Come Back

By Andre Demofa - Februari 03, 2020


Menulis puisi adalah kegiatan spiritual bagi seorang penulis. Itu karena menulis puisi tidak semudah menulis esai atau cerpen. Puisi memiliki karateristik tersendiri, dimana setiap kata harus se-detail mungkin dipikirkan penggunaan diksinya, makna dari baris ke baris juga harus saling terkait, dan pasti ada makna yang tersirat dibalik setiap coretannya.

Ada perbedaan pada proses, dan tentunya kepuasaan. Menulis puisi tidak mengalir seperti menulis karya lain, itu sih di dapurku, tak tau di dapur orang lain. Soal kepuasan juga, ada perasaan puas tersendiri ketika menulis puisi yang sempurna baik secara alur maupun diksi. 

Maka dari itu menulis satu puisi bagiku sangat menguras tenaga, karena aku hanya mau mempublikasikan puisi-puisi berkualitas tinggi di blog ini. Hehe.

Itu juga alasan kenapa kolom Tetralogi puisi itu vakum sejak tahun 2018 lalu. Karena aku saat itu belum sanggup mengikuti ritme penulisan konsisten seperti ini, apalagi puisi yang tingkat kesulitannya, duuh... bikin gregetan.

Aku punya harapan, meskipun puisi di blog ini sangat sulit di-monetize, tapi kelak ketika aku bisa secara konsisten menulis puisi di kolom ini dan itu draftnya semakin banyak, entar di satu waktu yang indah aku bakal bikin bukunya.

Aku kembali. Jadi ke depannya, aku bakal bikin tetralogi puisi ini sebanyak minimal dua minggu satu kali, atau dalam satu bulan itu ada dua kolom. Dan kalau aku mood, aku mungkin juga bakal bikin kolom apresiasi puisi untuk mengulas puisi karya ku sendiri atau orang lain.

Kenapa aku mau melakukan ini?

Ya, pertama sih karena hobi. Kedua karena aku merasa akhir-akhir ini puisi tidak menemukan tempatnya di Indonesia, anak muda mulai melupakan keindahan dari seni menulis puisi.

Semoga dari langkah kecilku, aku bisa menginspirasi, ya minimal pembacaku dulu lah.


Ok. Selamat mengikuti kembali kolom Tetralogi Puisi. 


Alam Sastra
Paragraf mendiami sisi kornea mata
Bersinggungan pada kata-kata yang patah
Menanti sekat-sekat jeda tersulam lagi,
Corak bak coretan indah canting
Komposisi bagai dudukan pelangi
Merekat suku kata di dasar benak
Mengikat lafal di pancuran emosi
Menafkahi lega dengan titik akhir,
Mencari harmoni...

Tuan Lupa...
Tuan lupa ada bunga yang tumbuh di dekat lava,
Mekar, berwarna, seindah ukiran jepara
Tuan lupa ada ikan yang tinggal di gulita,
Bergerak dalam senyap, tapi kenyang juga
Tuan lupa ada manusia di timur tengah,
Kepalanya mengawasi langit, tapi tetap berdoa 
Dan tuan juga sering lupa, 
Diri sendiri adalah berkah
Tentu lebih kuat dari seekor gajah...

Kotak Kosong
Kita bercanda di kubus kelas
Menggumam tentang malam,
Menggumam tentang pagi yang lewat kemarin,
Menertawakan dosa orang tua,
Menertawakan dosa sendiri,
Menertawakan lakon para politisi,
Rasanya melegakan,
Seperti umur bertambah satu, 
Seperti nasi bukan lagi wajib,
Seakan Belanda masih jauh,
Dan kotak kosong itu bernama rumah, .
Singgungn untuk orang-orang yang lelah....

Lagu Lawas
Alunannya membangun ingatan kuat,
Bukan tentang dulu,
Bukan tentang zaman tak enak,
Bukan tentang retro hitam putih,
Semua tentang ingatan,
Ketika orang tua bernyanyi untuk dirinya,
Liriknya,
Nadanya,
Jadi pelipur untuk lelah-lelahnya,
Sepucuk lagu untuk mengeringkan peluh,
Memang bukan jalan mewah,
Tapi dikenang sepanjang masa...




*Rubrik Tetralogi Puisi akan di-update minimal 2 kali dalam sebulan. 

  • Share:

You Might Also Like

0 Comments