Tetralogi Puisi (Tiga) Rasa Cinta Untuk Bangsa dan Pancasila!

By Andre Demofa - Februari 29, 2020




Halo, guys. Hari ini akhirnya tiba juga. Penghujung Februari.  

Tanggal 29 Februari.

Hmm, ini tanggal yang hanya bisa kita jumpai setiap lima tahun sekali.

Tanggal ini juga sangat dihindari orang-orang untuk mengukuhkan sesuatu. Entah itu hari lahir anaknya hari jadi perusahaan, atau hari-hari apapun yang menuntut selebrasi di tiap tahun.

Apalagi hari, ehem...Hari jadian untuk pasangan muda.  

Ya, iyalah, namanya juga tanggal 29 ini datang lima tahun sekali. Jadi kalau ibaratnya kamu jadian tanggal 29 Februari 2020, entar dirayainnya 29 Februari 2025.

Nunggu foto presiden berganti lagi deh. Haha.  

Ok, deh. Itu tadi cuma sedikit intermezzo.

Janjiku di awal bulan Februari kemarin, aku bakal konsisten memuat tetralogi puisi minimal dua kali dalam sebulan di blog ini. Dan tepat di tanggal ini aku post tetralogi puisi yang berhubungan dengan kebangsaan dan pancasila.

Mengapa temanya itu?

Ya, karena aku mau tanggal ini ditutup dengan tema universal. Jadi gak cinta-cintaan lagi, kayak beberapa tulisanku sebelumnya. Maklum, ini kan katanya bulan kasih sayang.

Jadi kemarin aku udah merayakan kasih sayang ke teman, ke pasangan, makanya aku post ini untuk merayakan kasih sayang ke negaraku tercinta, Indonesia.

Harus dong. Karena negara adalah prioritas yang harus kita junjung tinggi setelah agama.  

Tanpa menunggu lama, ini dia puisiku.

Enjoy...


Kita Indonesia, Kita Pancasila
Kita berbaris tanpa rantai di leher
Kita berhimpun tanpa belenggu di lidah
Kita mufakat dengan satu suara,
Sudah sah,
Ini Indonesia!
Kita Pancasila!


Bhinneka Tunggal Ika
Bergulung-gulung kitab masa lalu,
Terhampar ideologi berseri manis
Runtut bertali-tali perang duduk
Hingga terbitlah sebuah fondasi luhur
Pancasila,
Bukan butir-butir yang kasat makna,
Sedemikian ia sarat dimensi
Menjahit beda menjadi maklum
Menyulam tingkat jadi harmoni
Menata beda jadi setara 
Memeras seratus menjadi satu,
Dari gunung hingga pesisir laut,
Dari menteri sampai abang becak
‘Bhinneka Tunggal Ika’
Itulah sumpah kita!

Masih Merdeka
Kita menatap langit milik sendiri
Menginjak tanah punya ibu kami
Minum air dari sungai leluhur
Bicara tanpa telanjang dada,
Bermata tanpa takut gagang senapan,
Tertawa tanpa takut terinjak-injak
Merdeka, sudah sah!
Merdeka sudah di jalan-jalan,
Merdeka sudah di pasar-pasar
Merdeka sudah di rumah-rumah,   
Pancasila menjadi nyawa bangsa,
Jangan biarkan ia direnggut sang jumawa!  


Semboyan Cinta
Kirimi aku bunga,
Dari tanah basah bekas sabitmu
Kirimi aku lirik,
Dari huruf tangan Ibu Pertiwi
Kirimi aku suara,
Dari melodi campur sarimu
Kirimi aku kisah
Dari lakon si wayang kulit
Dan kirimi aku cinta,
Dari amalan semboyan bangsamu...
Pancasila...



*Rubrik Tetralogi Puisi akan di-update minimal 2 kali dalam sebulan. 

  • Share:

You Might Also Like

0 Comments