(Normal Life) Zona Nyaman Itu Bukan Untuk Semua Orang

By Andre Demofa - April 21, 2021

Awal masuk kerja, November 2020. 


Sewaktu menjadi mahasiswa, pertama kali aku dengar lagu FourTwnty, ‘Zona Nyaman’ kedengarannya lagu ini ‘Aku banget’. 

Lagu ini adalah perwakilan isi hatiku untuk menyindir orang-orang yang hidupnya monoton.  

Orang-orang yang dipaksa mengerjakan sesuatu agar bisa bertahan hidup. Hidup dari seikat gaji, hidup dari rutinitas yang itu-itu saja di masa muda yang berharga.  

Jujur, ketika mendengar lagu itu lagi -tepatnya di masa sekarang- di awal mulai kerja kantoran aku merasa kesal. Shit! 

Bisa-bisanya lagu ini berkata, ‘Keluarlah dari zona nyaman’. 

‘Dikiranya enak apa, hidup dengan ketidakpastian, jauh dari status sosial yang mapan. Dikira enak apa dianggap tetangga nganggur. Mending kerja baik-baik, zona nyaman itu enak kok. Dan ga gampang juga meraihnya.’ 

Yap, sekarang cari kerja katanya susah. 

Modal sarjana aja gak bakalan cukup untuk diterima kerja. Harus punya skill. Bahkan ada plesetan di zaman sekarang katanya harus punya orang dalam. 

Itu saking susahnya nyari kerja, sampai orang dalam pun dikambing-hitamkan sebagai sumber kegagalan para elit mencari kerja. 

Aku gak sedang membahas mereka yang sedang berjuang mencari kerja. Apalagi nyindir. 

Jika menoleh ke mereka yang masih pantengin situs pencari kerja, masih antar lamaran kemana-mana, masih ikut interview sana-sini, rasanya suatu keberuntungan banget aku bisa diterima kerja dalam waktu singkat. 

Aku yang sudah kerja, sudah punya kantor, kerjaannya tiap hari duduk di depan komputer sambil ketik-ketik konten dan ngadem di AC yang bikin menggigil dari jam 8 pagi sampai pulang jam 5 sore, tiba-tiba dengar lagu kayak gini, ‘Keluarlah dari zona nyaman…’

Rasanya pengen nabok orang. 

‘Loe kira bisa sampai di posisi ini enak apa. Ada perjuangan, ada investasi waktu yang dikerjakan. Enak aja sembarang ninggalin.’

Sebenarnya sih, sejak awal aku juga gak pernah niat kerja kantoran. 

Aku tuh orang yang hobi bervisi. 

Punya ide segudang untuk dikerjakan, dan yang pasti aku selalu suka perubahan. Aku pengen jadi seorang professional, syukur-syukur bisa punya perusahaan sendiri.  

My Work Station 


Mungkin Tuhan mau tunjukan dulu, kalau kayak gini rasanya jadi karyawan. 

Kayak gini rasanya kerja kantoran itu. 

Perlahan, aku mulai disadarkan. 

Ini lah hidup yang normal. Hidup yang tak pernah ku bayangan sebelumnya. 

Padahal aku dulu mikir di usiaku yang sekarang (23 tahun), aku udah jadi CEO sebuah perusahaan rintisan...

Toh, dulu aku mikir aku gak bakal bisa nikmatin hidup normal kayak gini. 

Kerja kantoran dari jam 8 pagi sampai 4 sore. Hidup yang dulu bahkan aku cibirin banget. Hidup yang garing karena rutininas yang itu-itu saja. Hidup yang aku benci.  

Tapi sekarang aku di sini dan aku mulai nikmatin kok. 

Aku mulai menerima semuanya. 

Zona Nyaman 

Memang sembari kerja sebagai staff IT di salah satu dealer resmi Mitsubishi, aku udah dapat posisi empuk lainnya sebagai Co Editor di Instagram @BeritaMedan yang followernya 170rb. Kalau bisa aku lebih fokus di sini  barangkali itu bisa jadi salah satu saluran bisnis yang bagus. 

Tapi, tapi....

Aku jadi mikir, ‘Aku udah ada kerjaan kok, ngapain repot ngerjain hal lain lagi.’

Mungkin inilah yang dimaksudkan si FourTwnty. Banyak orang yang terjerat zona nyamannya, 

Karena gak semua orang punya kans, punya saluran, punya potensi yang dilihatnya di tempat lain sehingga dia memilih untuk bertahan di tempat yang sama. 

But, I have. 

Aku punya rencana di masa depan, aku punya progress, dan aku tau ini harus dilanjutkan. 

Tinggal bagaimana aku mengorbankan zona nyaman ini. 

Bangun tidur lebih cepat, dan pergi tidur lebih larut. Mengerjakan sesuatu yang menjadi investasi di masa depan secara konsisten sembari tetap mengerjakan kewajibanku di kantor. 

Di tahap ini aku mulai paham esensi dari lagu FourTwnty. 

‘Lagu itu memang gak untuk semua orang.’ 

Lagu itu untuk orang-orang yang diberikan keistimewaan. 

Jika kamu punya talenta, kembangkan. 

Jika kamu punya progress di luar sana dan kamu haus akan hal baru, teruskan. 

Jangan berhenti hanya karena kamu sudah merasa nyaman dengan hidupmu sekarang.

Keluarlah dari zona nyaman bukan karena zona nyaman itu dosa. Tapi keluarlah dari zona nyaman kalau kamu punya potensi dan itu wajib dikembangkan.

Karena seiring kekuatan besar, datang juga tangung jawab besar. 

Petualanganmu gak cuma di sini aja, heyy...

Waktu persiapan mengurus talkshow Imlek untuk perusahaan.

Tetapi jika tidak ada sesuatu untuk kamu kerjakan selain pekerjaan kantormu, jangan tinggalkan itu. Jalani saja. Setiap orang kan berbeda-beda. 

Dan setiap orang yang sudah di posisi itu pantas untuk bahagia. 

Sekarang aku mau bilang, aku tidak berpikir lagi untuk jadi CEO perusahaan dengan valuasi jutaan dollar dalam waktu singkat, untuk berhasil dalam sekilas pandang, berlelah-lelah dan tidak menikmati setiap prosesnya. 

Tuhan sudah memberi terlalu banyak.  Aku mau menikmati momen ini dan berproses, satu demi satu langkah. 

Tidak peduli berapa lama itu akan berhasil, aku mau berkarya saja. Mulai aja belum, tapi sudah berdebat? 

Yang terakhir, setidaknya dari tulisan ini aku sudah mulai nulis blog lagi. Horee. 

Yap, welcome back Andre. Yang sekarang hidupnya sudah normal. Ehemm. 

Aku bakal berkarya lagi, dan mudah-mudahan kalian yang baca juga berhasil menemukan hidup normal kalian.  

Saranku, umur 20-27 itu masa krusial. Jika kamu punya sesuatu untuk dikembangkan, teruskan. 

Jika tidak, ya jalani saja semuanya dengan normal. Itu tidak salah kok. 

Kerja pagi, pulang sore. Kamu punya hak untuk bahagia. 

Untuk yang belum dapat kerja juga, semoga cepat dapat kerja ya teman-teman. 

Selamat menjalani hidup normal kalian!   

Pose kayak gini, normal kan? Hehe.  


  • Share:

You Might Also Like

0 Comments